Para budayawan dan aktivis Eropa terus mengecam kekejaman Israel di Jalur Gaza. Mereka menuntut genosida dihentikan dan diambil tindakan tegas terhadap Israel.
29 Mei 2025 09:37 WIB · Internasional
Gelombang kecaman budayawan dan aktivis gerakan masyarakat sipil di Eropa semakin menguat menentang kekejaman Israel di Jalur Gaza. Sekitar 380 penulis terkenal dari Inggris dan Irlandia membuat surat terbuka mengecam tindakan Israel di Jalur Gaza sebagai genosida atau pemusnahan etnis pada Rabu (28/5/2025).
Para penulis, antara lain Zadie Smith, Ian Mc Ewan, Elif Shafak, serta rekan–rekan mereka, mendesak gencatan senjata segera dilakukan di Jalur Gaza, pembagian bahan pangan tanpa hambatan bagi warga sudah terancam kelaparan, serta bantuan medis segera. Mereka juga menuntut sanksi dijatuhkan terhadap Israel atas kejahatan terhadap kemanusiaan.
”Rakyat Palestina bukan korban tidak disengaja dari sebuah perang. Berbagai perkataan digunakan Israel untuk membenarkan tindakan yang tak dapat dibenarkan. Menyanggah yang tidak dapat disanggah, serta melindungi sesuatu yang tidak bisa dilindungi (tindakan Israel),” demikian pernyataan para sastrawan Inggris dan Irlandia.
Gerakan pegiat sastra dan aktivis di Inggris dan Irlandia ini menyusul aksi serupa di Paris, Perancis.
Hari sebelumnya, para budayawan Perancis, termasuk pemenang Nobel Sastra Annie Ernaux dan Jean-Marie Gustave Le Clezio bersama 300 orang lainnya juga menandantangani surat terbuka mengecam genosida yang dilakukan Israel di Jalur Gaza.
Awal pekan ini, sekitar 800 praktisi dan ahli hukum di Inggris, termasuk para mantan hakim Mahkamah Agung, juga menyurati Perdana Menteri Inggris Keir Starmer untuk menegaskan: ”Genosida sedang terjadi di Gaza, atau paling minimal, ada risiko serius genosida sedang terjadi,” kata para pakar hukum Inggris.
”Pelanggaran serius terhadap hukum internasional sedang dilakukan dan lebih jauh terancam oleh Israel. Inggris secara hukum berkewajiban mengambil langkah yang diperlukan dengan kekuatan yang dimiliki untuk mencegah dan menghukum tindakan genosida”, demikian tuntutan para ahli hukum.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/28/2bf6aac5a2c51cac8a4b7fee24f7e0fe-wires_photo_2025_05_28T205043.079.jpg)
Sementara para sastrawan dan budayawan di Inggris, Irlandia, dan Perancis mengedarkan surat terbuka mengecam genosida di Gaza, para aktivis Oxfam dan Amnesti Internasional di Perancis memerahkan air mancur di jantung kota Paris.
Pewarna merah yang dibubuhkan di air mancur Fontaine des Innocents, Paris itu diartikan sebagai simbol ”mandi darah” bangsa Palestina di Gaza. Dalam aksi di landmark kota Paris itu, para aktivis juga mengangkat poster yang menyatakan tuntutan gencatan senjata dan penghentian pertumpahan darah di Gaza.
”Aksi ini untuk mengecam lambatnya tindakan Perancis menyikapi krisis kemanusiaan di Jalur Gaza saat ini,” demikian keterangan para aktivis yang juga mendapat dukungan cabang dari Greenpeace di Perancis dalam maklumat bersama.
Sebagai negeri yang menjunjung persaudaraan, kesetaraan, dan kebebasan, Perancis sedang diuji sikapnya dalam merespons kekejaman militer zionis Israel di Gaza.
”Perancis tidak bisa membatasi diri hanya dengan memberikan kecaman belaka,” kata mantan Menteri Kesetaraan Wilayah dan Perumahan Perancis yang kini menjadi Direktur Oxfam Perancis Cecile Duflot.
Sementara Clemence Lagouardat yang membantu mengatur bantuan kemanusiaan Oxfam di Gaza mengecam blokade militer Israel terhadap Jalur Gaza. ”Rakyat di Jalur Gaza membutuhkan semua bantuan yang bisa dikirimkan. Mereka sedang berusaha mempertahankan nyawa,” katanya kepada Kantor Berita AFP.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/28/61bdeab16a6c78d4c00ab62225f80a45-20250528ron24.jpg)
Jejaring Greenpeace di Paris juga menuntut pemerintahan Emmanuel Macron bersikap tegas terhadap genosida di Gaza.
”Genosida sedang berlangsung dan ketiadaan tindakan politis sebuah negara menjadikan mereka terlibat dalam kejahatan karena membiarkan genosida terjadi,” kata Jean-Francois Julliard, Direktur Greenpeace Perancis.
Dia menuntut Presiden Perancis Emmanuel Macron untuk bersikap berani, jelas, dan bertekad mengakhiri banjir darah di Gaza.
Sebelumnya, Presiden Macron secara terbuka menyatakan tindakan Israel memblokade Gaza dan mengakibatkan kelaparan sebagai perbuatan yang memalukan.
Menanggapi itu, PM Israel Benjamin Netanyahu balik menuding Macron sebagai pendukung kelompok teroris.
Pekan lalu dalam Festival Film Cannes, Perancis, para pesohor di dunia perfilman juga ramai–ramai menyerukan solidaritas terhadap Palestina dan mengecam kekejaman zionis di Gaza.
Di Cannes tahun ini, sineas muda Palestina, Tawfeek Barhom, menerima penghargaan atas film pendek berjudul ”I’m Glad You’re Dead Now”. Dia menyinggung genosida yang berlangsung di Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/28/1679265bc12cffc88af18b99fda2ef4d-France_Cannes_2025.jpg)
Festival Cannes juga memutar film tentang Fatima Hassouna, pewarta foto dari Jalur Gaza yang tewas dibom Israel. Sepanjang tahun 2024, sebesar 70 persen wartawan yang tewas di dunia adalah wartawan yang bertugas di Jalur Gaza.
Kontes musik Eropa Eurovision juga diwarnai aksi solidaritas Palestina dan kecaman keras atas genosida Israel. Pemenang Eurovision 2025, JJ atau Johannes Pietsch (24) asal Austria, menyerukan agar Israel dilarang terlibat dalam kompetisi Eurovision. Panitia Eurovision telah melarang keterlibatan Rusia akibat menyerang Ukraina.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, dalam laporan Antara (20/5/2025), juga turut menyerukan agar Israel dilarang terlibat dalam Eurovision sebagai bentuk penolakan terhadap kejahatan perang yang dilakukan Israel.
Para tokoh berdarah Yahudi, seperti Bernie Sanders, Profesor Jeffreys Sachs, ahli penanganan trauma Gabor Mate, dan sejarawan Israel Theodore Katz menyerukan perdamaian segera di Gaza dan menentang zionisme.
Mahkamah Internasional (ICJ) telah memerintahkan Israel pada Januari 2023 untuk mencegah tindakan genosida di Gaza. Adapun Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap sejumlah pejabat Israel, termasuk PM Benjamin Netanyahu atas dugaan kejahatan perang. Selain itu, hampir 1.000 prajurit Israel (Tzahal) dilaporkan ke ICC atas dugaan kejahatan kemanusiaan di Jalur Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/28/cdd0238cbd03e073dab4ffaf3b6fa12c-Britain_Protest.jpg)
Serangan Israel sejauh ini, menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, telah mengakibatkan sekitar 54.000 orang tewas, didominasi perempuan dan anak-anak.
Serangan itu dipicu serbuan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang mengakibatkan 1.218 orang tewas (sebagian karena salah sasaran militer Israel). Hamas juga menyandera 251 orang Israel. Diyakini 57 orang di antara para sandera telah tewas sepanjang Perang Gaza.
Para pejuang Hamas dan kelompok perlawanan Palestina adalah keturunan warga Palestina yang pada tahun 1948 diusir dari tanah dan rumah mereka. Ketika itu, 90 persen penduduk Palestina diusir ke Gaza dan Tepi Barat untuk pendirian negara Israel di wilayah yang dirampas.
(AFP/Reuters)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .