Banjir bandang akibat meluapnya Sungai Tamiang yang membawa ribuan gelondongan kayu menyebabkan Kampung Menanggeni di Aceh Tamiang masih terisolasi.
07 Des 2025 08:00 WIB · Lingkungan
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Warga Kampung Menanggeni, Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, segera membawa kardus-kardus berisi barang bantuan dari donatur yang diantar dengan menggunakan angkutan bak terbuka. Secara bergantian dan hati-hati mereka meniti kayu yang saling bertumpuk sehingga membentuk ketinggian sekitar 1 meter. Tumpukan kayu itulah yang menyebabkan perjalanan truk harus terhenti jauh dari pintu masuk kampung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/d7188e6434c659586acda7ac86f6255e-20251206TOK20.jpg)
Banjir bandang akibat meluapnya Sungai Tamiang yang terjadi pada Rabu (26/11/2025) menjadikan kawasan Aceh Tamiang porak-poranda, tak terkecuali kampung Menanggeni ini. Selama lima hari pertama banjir, Menanggeni sempat terkucil karena tinggi banjir minimal 2 meter.
Banjir membuat hampir semua warga kampung mengungsi ke pesantren yang dianggap menjadi tempat paling aman. ”Ada lebih dari 100 keluarga yang mengungsi ke lantai dua pesantren, karena lantai satunya sudah penuh air. Kami bertahan selama lima hari hingga air surut,” ujar Hasnawi (40).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/6ea9b4d3fbc00e9df58b4c569ef5768f-20251206TOK31.jpg)
Setelah air surut, perjuangan untuk mencari bantuan belum usai karena lautan gelondongan kayu menutup jalan keluar kampung sepanjang sekitar 300 meter. Warga harus ekstrahati-hati saat berjalan di atas kayu gelondongan yang masih basah. Kayu tersebut berukuran besar, tetapi licin sehingga mudah membuat terpeleset.
Agar akses satu-satunya menuju Menanggeni segera terbuka, sejak tiga hari yang lalu prajurit Bataliyon Infanteri 111/Karma Bhakti menggunakan ekskavator untuk memindahkan kayu-kayu yang menghalangi jalan. Walaupun saat ini belum selesai, cara itu menyimpan asa akses jalan dapat terbuka sesegera mungkin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/9f027231c75a56005f1f51b65d0ddf87-20251206TOK35.jpg)
Penulis:
Totok WijayantoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto