Gen Z dan Tren Baju Santai di Kantor

Di beberapa negara, anak muda zaman sekarang mulai banyak menggunakan baju santai saat bekerja di kantor. Tren ini ternyata muncul sebelum pandemi Covid-19.

04 Jan 2025 20:27 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Ada fenomena baru terjadi di perkantoran dunia. Generasi Z dan generasi milenial akhir muncul dengan pakaian santai untuk bekerja. 

Di Singapura, Jessica Xu (26) terkejut ketika suatu hari rekannya datang dengan sepasang sepatu Birkenstock di kakinya. Pandangan itu tentu terasa ganjil lantaran pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil mengharuskan mereka berpakaian rapi.

”Saya merasa pakaiannya sangat tidak rapi dan jelek. Saya pikir orang-orang harus lebih memperhatikan penampilan mereka secara umum dan bangga dalam berdandan,” kata Xu kepada The Strait Times edisi Jumat (3/1/2025).

Xu menjelaskan, kantornya tidak memiliki aturan berpakaian formal. Sebagian besar pekerja mengenakan kaus oblong untuk bekerja, begitu pula dia sekali-kali. Akan tetapi, ia suka berdandan karena menyukai mode dan mode meningkatkan rasa percaya dirinya.

Quote

Saya merasa celana pendek itu pantas. Internet menjadi heboh setelah itu.

Akhir-akhir ini, banyak pekerja kantor di Singapura yang mengganti jas dengan pakaian yang lebih nyaman sekaligus ekspresif. Kebanyakan berasal dari generasi Z dan milenial, tetapi ada pula dari generasi lainnya.

Tidak hanya di Singapura. Agustus lalu, Tyreshia Morgan (28) membuat heboh dunia maya lewat unggahannya di Tiktok. Gadis asal California, Amerika Serikat, ini mengaku diminta berganti baju saat wawancara kerja karena muncul dengan celana pendek hitam.

Kepada People, Morgan mengaku tidak merasa pakaiannya melanggar aturan berpakaian profesional. Ia sadar celananya pendek, tetapi tidak terlalu pendek sampai terkesan tidak sopan.

”Saya pikir saya terlihat rapi. Saya mengatakan di Tiktok bahwa saya akan datang ke wawancara seperti ini. Saya merasa celana pendek itu pantas. Internet menjadi heboh setelah itu,” ujar perempuan yang pernah bekerja di perusahaan teknologi ini.

Tren mengenakan baju santai sebetulnya telah ada sebelum pandemi Covid-19. Pada 2023, Forbes melaporkan, tren mengenakan baju santai salah satunya muncul oleh budaya kontra-korporat dari pertumbuhan industri teknologi. Sebutlah Mark Zuckerberg dari Facebook yang identik dengan kaus dan Steve Jobs dari Apple dengan baju turtleneck.

Seusai pandemi, tren itu semakin berkibar. Perusahaan-perusahaan menerapkan kerja jarak jauh.

Quote

Penampilan berlapis menggambarkan pemakainya sebagai orang yang kreatif dan cerdas.

Pekerja mendapati, mereka ternyata dapat tetap produktif dengan pakaian santai dan nyaman. Sama saja ketika memakai baju formal. Ekspektasi tentang pakaian kerja jadi berubah.

<p>(FILES) In this file photo taken on January 19, 2021 a computer scientist works in his home office in Dortmund, western Germany, amid the novel coronavirus (Covid-19) pandemic. &#8211; Germany is poised to tighten a partial lockdown into April to halt an exponential spread of the coronavirus driven by variants. Europe&#8217;s biggest economy had progressively began easing restrictions, first reopening schools in late February, before allowing some shops to resume business in March. But hopes for indoor dining, cultural and leisure facilities to follow suit will now have to be delayed, as a third wave of the virus has sent infections numbers rising again. (Photo by Ina FASSBENDER / AFP)</p>

Cermin individualitas

Linda Teo, Country Manager dari perusahaan tenaga kerja ManpowerGroup Singapura, mengatakan, banyak perusahaan masih mempertahankan aturan berpakaian di tempat kerja. Akan tetapi, formalitas aturan berpakaian menjadi lebih longgar dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

”Pergeseran ini mencerminkan langkah menuju pendekatan yang lebih santai dan berpusat pada karyawan,” tutur Teo yang merujuk pada kenyamanan dan individualitas.

Namun, hal ini tidak selalu berarti pakaiannya bisa asal-asalan atau kasual. Terkait gen Z, Teo mengatakan, mereka memiliki selera gaya yang khas yang mencerminkan karakter masing-masing.

”Generasi ini cenderung memadukan sentuhan pribadi ke dalam penampilan profesional mereka, memadukan tren mode kontemporer dengan standar profesional untuk mengekspresikan gaya unik mereka dalam batasan pakaian kerja yang dapat diterima di kantor mereka,” ucap Teo.

Quote

Pakaian di tempat kerja dapat berdampak signifikan pada moral, produktivitas, dan kesejahteraan karyawan.

Fleksibilitas pakaian pekerja turut merefleksikan budaya perusahaan tersebut. Kantor yang menjunjung tradisi lebih menyukai pakaian profesional konservatif. Pakaian formal dapat meningkatkan perasaan berkuasa dan percaya diri.

Blazer koleksi 3Mongkis di Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (4/1/2024). KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 4-1-2024

Sekarang, Teo menjelaskan, kantor yang mengizinkan pekerja berekspresi lewat pakaian dianggap progresif, beragam, dan inklusif. Dampak positifnya akan kembali pada pekerja. Mereka merasa dipercayai dan dihargai. Rasa itu akan memberdayakan mereka untuk menjadi lebih otentik dan nyaman sehingga meningkatkan kepuasan kerja.

Quote

Kantor yang mengizinkan pekerja berekspresi lewat pakaian dianggap progresif, beragam, dan inklusif.

”Hal ini sejalan dengan pemahaman yang berkembang bahwa pakaian di tempat kerja dapat berdampak signifikan pada moral, produktivitas, dan kesejahteraan karyawan secara keseluruhan,” kata Teo.

Bagi Lea O’Hara (24), spesialis large language model training, kenyamanan dan kepraktisan adalah prioritas utama. Dia sering bekerja dengan baju crop top, celana, dan sepatu atau sandal. Pakaian itu cocok dengan cuaca panas Singapura.

Berpakaian yang nyaman bahkan dapat meningkatkan produktivitasnya, kata O’Hara. ”Hal lain jadi tidak terpikir oleh saya. Jika saya mengenakan sesuatu yang tidak nyaman yang perlu penyesuaian terus-menerus, atau jika itu menusuk kulit saya, saya tidak akan dapat berkonsentrasi dengan baik,” tuturnya.

O’Hara sadar pakaian formal penting bagi beberapa industri. Namun, ia berharap industri lain dan orang-orang dari generasi yang lebih tua dapat belajar menerima lebih banyak individualisme di tempat kerja.

Meta CEO Mark Zuckerberg speaks during the tech giant's Connect developer conference Wednesday, Sept. 27, 2023, in Menlo Park, Calif. (AP Photo/Godofredo A. V&Atilde;&iexcl;squez)

Seberapa kasual

Saat ini, batasan antara gaya kasual dan terlalu kasual agak kabur. Psikolog mode Clearpay, Shakaila Forbes-Bell, mengatakan, kita harus bertanya kepada diri sendiri apakah pakaian kita membuat orang lain mempertanyakan profesionalisme kita.

”Misalnya, jika pakaian Anda tampak seperti dapat dikenakan pada makan siang di akhir pekan, mungkin pakaian itu terlalu kasual untuk dipakai ke kantor,” tutur Forbes-Bell, dikutip dari Independent.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah bertanya di mana lagi akan mengenakan pakaian tersebut selain di kantor. Apabila pakaian tersebut bisa dipakai saat bersantai pada hari Minggu, berarti pakaian itu tidak cocok untuk bekerja.

Menurut Forbes-Bell, ada tiga jenis pakaian kantor yang selalu dia miliki. Ketiganya adalah structured blazer yang menambah kesan wibawa dan mewah, celana panjang berkualitas yang menunjukkan profesionalisme, dan sepatu serbaguna yang memberi kenyamanan serta gaya.

Jika ingin memadukan pakaian kantor, Forbes-Bell menyarankan agar tidak takut mengekspresikan diri dengan mengikuti tren terkini. Rompi, misalnya, sedang tren sehingga bisa dikenakan di atas kemeja yang rapi. Rompi akan memberikan sentuhan canggih sekaligus tetap profesional.

Quote

Jika pakaian Anda tampak seperti dapat dikenakan pada makan siang di akhir pekan, mungkin pakaian itu terlalu kasual untuk dipakai ke kantor.

”Studi menunjukkan, penampilan berlapis menggambarkan pemakainya sebagai orang yang kreatif dan cerdas. Tujuannya adalah untuk memadukan tren dengan pakaian yang tak lekang oleh waktu, memastikan penampilan keseluruhan tetap rapi dan sesuai untuk lingkungan kerja Anda,” kata Forbes-Bell.


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra