Ada fenomena unik di Amerika Serikat baru-baru ini. Sejumlah anak muda dari generasi Z─kelahiran 1997 hingga 2012─menjadi akuntan publik sukarela. Mereka tidak menangani perusahaan-perusahaan besar. Klien mereka antara lain peternak kambing dan lansia pensiunan.
”Rasanya senang sekali bisa membantu mereka yang membutuhkan,” kata Alana Kelly, mahasiswa Universitas Negeri Oregon, kepada majalah Fortune edisi 13 April 2025.
Kelly mengikuti program sukarelawan akuntan untuk rakyat kecil. Ia menangani dua klien, seorang peternak kambing dan seorang perempuan kelas pekerja yang harus merawat adik berkebutuhan khusus. Berkat bantuan Kelly, perempuan itu memperoleh restitusi pajak dari pemerintah sebesar 6.000 dollar AS.
Sukarelawan lain yang juga teman Kelly, Tristan Klascius, kebagian membantu para lansia pensiunan. Umumnya ia membantu mereka mengurus jaminan kesehatan dan mengatur keuangan di hari tua.
Universitas-universitas di AS banyak turun tangan membuat program semacam ini setelah melihat statistik. Di dalam lima tahun belakangan, 340.000 akuntan di AS pensiun. Perkiraannya, di dalam satu dasawarsa ke depan, sebanyak 75 persen dari akuntan tersisa memasuki masa pensiun.
Universitas Negeri California Northridge (CSUN), misalnya, membuka program akuntan sukarela. Sebanyak 280 mahasiswa jurusan akuntansi mengikutinya.
Mereka mencari atasan kerja yang membina budaya diskusi dan menggali perbedaan pandangan, bukan yang sekadar memerintah.
Bersama-sama, mereka membantu 9.000 klien yang adalah warga berpendapatan rendah. Secara total, program CSUN ini membantu para klien memperoleh 11 juta dollar AS dalam bentuk restitusi pajak dan 3,6 juta dollar AS kredit pajak.
Para pengelola program awalnya tidak yakin mahasiswa berminat turun tangan. Sebab, akuntansi publik adalah pekerjaan yang membosankan.
Mereka tidak menyangka antusiasme mahasiswa tinggi. Di dalam kolom pesan dan kesan CSUN, para mahasiswa peserta program mengatakan, mereka senang bisa membantu publik. Mereka juga bertanya balik kepada universitas apabila ada program sukarelawan lebih lanjut.
Mencari makna
Generasi Z di media sosial sering dicap buruk oleh generasi sebelumnya, yaitu generasi langgas (milenial), X, dan baby boomers. Anak-anak Z dianggap manja, pilih-pilih pekerjaan, dan tidak mau susah.
Apalagi, mereka juga kerap menunjukkan sikap bekerja itu untuk menunjang hidup, bukan malah menghabiskan hidup untuk bekerja. Mentalitas yang bertentangan dengan generasi boomers yang tumbuh di tahun 1980-an ketika kapitalisme melaju kencang.
Situs Times Higher Education menjelaskan, generasi Z dan generasi alfa (lahir di atas 2013) tumbuh di tengah teknologi digital. Mereka hidup di era banjir informasi.
Oleh sebab itu, penting bagi mereka menemukan makna di balik segala hal yang kini mudah ditemukan dengan meramban internet. ”Generasi ini mementingkan tujuan bekerja, bukan uang yang dihasilkan. Ini generasi yang mencari pekerjaan dengan prinsip, bukan cuma mencari nafkah,” papar Times Higher Education edisi 2 April 2025.
Lembaga ini membedah kebutuhan profesional generasi Z. Apabila harus bekerja dengan perusahaan ataupun lembaga, mereka menginginkan kantor yang inklusif dari segi ras, agama, jender, dan latar belakang sosial. Memiliki jaringan sosial dengan anggota beragam adalah keharusan bagi Z.
Aspek berikutnya, mereka menginginkan kantor yang menekankan pada makna dibandingkan dengan sekadar menjaga produktivitas tetap tinggi. Artinya, perusahaan itu harus memiliki prinsip untuk membantu sesama, mencerdaskan masyarakat, atau menyelamatkan lingkungan. Kalau prinsip perusahaan hanya mengeruk keuntungan, generasi Z akan malas melirik.
Perusahaan juga sebaiknya memiliki jam kerja yang lentur dan memungkinkan pegawainya bekerja dari mana saja. Perusahaan yang diminati oleh generasi Z ialah yang tidak gagap teknologi, sekaligus mengedepankan hubungan antarmanusia.
Hubungan ini bukan berarti perusahan ikut campur urusan pribadi pegawainya. Hubungannya adalah perusahaan perhatian dan menghargai perbedaan para pegawainya. ”Mereka mencari atasan kerja yang membina budaya diskusi dan menggali perbedaan pandangan, bukan yang sekadar memerintah,” kata Max Freedman, pakar sumber daya manusia, di Business News Daily.
Perilaku atasan ini, lanjut Freedman, sangat penting. Atasan yang baik di mata generasi Z adalah yang berani mengatakan ”tidak tahu” dan setelah itu mengajak anggota timnya berembuk mencari jalan keluar permasalahan.
Teknologi
Sementara itu, Jack Kelly, anggota dewan bisnis majalah Forbes, menjelaskan, generasi Z sangat menginginkan pekerjaan yang memberi mereka kesempatan mengembangkan kemampuan pribadi. Perusahaan yang bisa memberi mereka waktu untuk mengikuti pelatihan, apalagi pelatihan itu datang dari internal, justru lebih baik.
Pengetahuan dan keterampilan ini penting bagi generasi Z sesuai yang tergambar di survei BBC Bitesize Careers dan survei oleh media sosial Instagram. Karier sebagai dokter, insinyur, dan guru masih diminati oleh anak-anak Z apabila merujuk survei BBC.
Di Instagram, responden generasi Z menunjukkan ketertarikan tinggi pada karier sebagai fotografer, penata rias, penata gaya, dan pembuat konten. ”Jenis-jenis pekerjaan ini lekat dengan media sosial, tetapi memerlukan keterampilan khusus. Artinya, ini pekerjaan yang pelakunya memang harus mengikuti pelatihan agar mahir di bidang masing-masing,” tulis laporan Instagram.
Asosiasi Manajemen Sumber Daya Manusia (SHRM) dalam seminar yang diselenggarakan di Nashville, Tennessee, menjelaskan kiprah berbagai generasi di dunia profesi sekarang. Baby boomers membentuk kebutuhan finansial dan gaya hidup pensiunan baru, generasi X memegang tampuk kepemimpinan, milenial ujung tombak perubahan budaya kerja, dan generasi Z membentuk dunia kerja masa depan.
Kim Lear, pendiri Inlay Insights, meneliti generasi Z selama bertahun-tahun. Generasi Z menghabiskan sebagian besar waktu mereka di internet dan di dunia yang penuh ketidakstabilan geopolitik serta geoekonomi. Mereka menyaksikan kemajuan teknologi sangat pesat. ”Kecemasan terbesar generasi Z adalah AI (kecerdasan buatan). Mereka ketakutan kiprahnya digantikan oleh mesin dan komputer,” kata Lear.
Ini yang membuat generasi Z mementingkan aktualisasi diri. Mereka mencari pekerjaan yang merayakan dan mengedepankan mereka sebagai manusia. Bukan pekerjaan yang sewaktu-waktu bisa digantikan oleh AI dan otomasi.
Lear menerangkan, generasi muda berusaha mengubah parameter bekerja dan kehidupan pribadi mereka. Pertanyaan terbesarnya ialah ”apakah saya harus megorbankan hidup untuk pekerjaan?” ini yang mereka berusaha hindari.
”Pekerjaan adalah hal yang menyehatkan jika dilakukan dengan senang hati dan sesuai prinsip kemanusiaan. Budaya ini harus dikembangkan perusahaan guna membangun sumber daya manusia berketahanan tinggi,” ujar Lear.
Ada fenomena unik di Amerika Serikat baru-baru ini. Sejumlah anak muda dari generasi Z─kelahiran 1997 hingga 2012─menjadi akuntan publik sukarela. Mereka tidak menangani perusahaan-perusahaan besar. Klien mereka antara lain peternak kambing dan lansia pensiunan.
”Rasanya senang sekali bisa membantu mereka yang membutuhkan,” kata Alana Kelly, mahasiswa Universitas Negeri Oregon, kepada majalah Fortune edisi 13 April 2025.
Serial Artikel
Gen Z Lelah FOMO
Gempuran tren datang silih berganti dengan cepat membuat orang mulai lelah, terutama gen Z. Lelah mental juga lelah di kantong. Menghindar pun tak kuasa.
Kelly mengikuti program sukarelawan akuntan untuk rakyat kecil. Ia menangani dua klien, seorang peternak kambing dan seorang perempuan kelas pekerja yang harus merawat adik berkebutuhan khusus. Berkat bantuan Kelly, perempuan itu memperoleh restitusi pajak dari pemerintah sebesar 6.000 dollar AS.
Sukarelawan lain yang juga teman Kelly, Tristan Klascius, kebagian membantu para lansia pensiunan. Umumnya ia membantu mereka mengurus jaminan kesehatan dan mengatur keuangan di hari tua.
Universitas-universitas di AS banyak turun tangan membuat program semacam ini setelah melihat statistik. Di dalam lima tahun belakangan, 340.000 akuntan di AS pensiun. Perkiraannya, di dalam satu dasawarsa ke depan, sebanyak 75 persen dari akuntan tersisa memasuki masa pensiun.
Universitas Negeri California Northridge (CSUN), misalnya, membuka program akuntan sukarela. Sebanyak 280 mahasiswa jurusan akuntansi mengikutinya.
Mereka mencari atasan kerja yang membina budaya diskusi dan menggali perbedaan pandangan, bukan yang sekadar memerintah.
Bersama-sama, mereka membantu 9.000 klien yang adalah warga berpendapatan rendah. Secara total, program CSUN ini membantu para klien memperoleh 11 juta dollar AS dalam bentuk restitusi pajak dan 3,6 juta dollar AS kredit pajak.
Para pengelola program awalnya tidak yakin mahasiswa berminat turun tangan. Sebab, akuntansi publik adalah pekerjaan yang membosankan.
Mereka tidak menyangka antusiasme mahasiswa tinggi. Di dalam kolom pesan dan kesan CSUN, para mahasiswa peserta program mengatakan, mereka senang bisa membantu publik. Mereka juga bertanya balik kepada universitas apabila ada program sukarelawan lebih lanjut.
Serial Artikel
Gen Z dan Tren Baju Santai di Kantor
Di beberapa negara, anak muda zaman sekarang mulai banyak menggunakan baju santai saat bekerja di kantor. Tren ini ternyata muncul sebelum pandemi Covid-19.
Generasi Z di media sosial sering dicap buruk oleh generasi sebelumnya, yaitu generasi langgas (milenial), X, dan baby boomers. Anak-anak Z dianggap manja, pilih-pilih pekerjaan, dan tidak mau susah.
Apalagi, mereka juga kerap menunjukkan sikap bekerja itu untuk menunjang hidup, bukan malah menghabiskan hidup untuk bekerja. Mentalitas yang bertentangan dengan generasi boomers yang tumbuh di tahun 1980-an ketika kapitalisme melaju kencang.
Situs Times Higher Education menjelaskan, generasi Z dan generasi alfa (lahir di atas 2013) tumbuh di tengah teknologi digital. Mereka hidup di era banjir informasi.
Oleh sebab itu, penting bagi mereka menemukan makna di balik segala hal yang kini mudah ditemukan dengan meramban internet. ”Generasi ini mementingkan tujuan bekerja, bukan uang yang dihasilkan. Ini generasi yang mencari pekerjaan dengan prinsip, bukan cuma mencari nafkah,” papar Times Higher Education edisi 2 April 2025.
Lembaga ini membedah kebutuhan profesional generasi Z. Apabila harus bekerja dengan perusahaan ataupun lembaga, mereka menginginkan kantor yang inklusif dari segi ras, agama, jender, dan latar belakang sosial. Memiliki jaringan sosial dengan anggota beragam adalah keharusan bagi Z.
Aspek berikutnya, mereka menginginkan kantor yang menekankan pada makna dibandingkan dengan sekadar menjaga produktivitas tetap tinggi. Artinya, perusahaan itu harus memiliki prinsip untuk membantu sesama, mencerdaskan masyarakat, atau menyelamatkan lingkungan. Kalau prinsip perusahaan hanya mengeruk keuntungan, generasi Z akan malas melirik.
Perusahaan juga sebaiknya memiliki jam kerja yang lentur dan memungkinkan pegawainya bekerja dari mana saja. Perusahaan yang diminati oleh generasi Z ialah yang tidak gagap teknologi, sekaligus mengedepankan hubungan antarmanusia.
Serial Artikel
Generasi Z dari Sudut Pandang Neurosains: Mengapa Mereka Berbeda?
Perilaku Generasi Z mencerminkan bagaimana otak mereka merespons dunia yang makin kompleks dan cepat berubah. Tugas generasi yang lebih tua memahami konteks mereka.
Hubungan ini bukan berarti perusahan ikut campur urusan pribadi pegawainya. Hubungannya adalah perusahaan perhatian dan menghargai perbedaan para pegawainya. ”Mereka mencari atasan kerja yang membina budaya diskusi dan menggali perbedaan pandangan, bukan yang sekadar memerintah,” kata Max Freedman, pakar sumber daya manusia, di Business News Daily.
Perilaku atasan ini, lanjut Freedman, sangat penting. Atasan yang baik di mata generasi Z adalah yang berani mengatakan ”tidak tahu” dan setelah itu mengajak anggota timnya berembuk mencari jalan keluar permasalahan.
Teknologi
Sementara itu, Jack Kelly, anggota dewan bisnis majalah Forbes, menjelaskan, generasi Z sangat menginginkan pekerjaan yang memberi mereka kesempatan mengembangkan kemampuan pribadi. Perusahaan yang bisa memberi mereka waktu untuk mengikuti pelatihan, apalagi pelatihan itu datang dari internal, justru lebih baik.
Pengetahuan dan keterampilan ini penting bagi generasi Z sesuai yang tergambar di survei BBC Bitesize Careers dan survei oleh media sosial Instagram. Karier sebagai dokter, insinyur, dan guru masih diminati oleh anak-anak Z apabila merujuk survei BBC.
Di Instagram, responden generasi Z menunjukkan ketertarikan tinggi pada karier sebagai fotografer, penata rias, penata gaya, dan pembuat konten. ”Jenis-jenis pekerjaan ini lekat dengan media sosial, tetapi memerlukan keterampilan khusus. Artinya, ini pekerjaan yang pelakunya memang harus mengikuti pelatihan agar mahir di bidang masing-masing,” tulis laporan Instagram.
Serial Artikel
Generasi Z yang ”Agak Laen” di Spanyol Vs Perancis
Laga Sapanyol dan Perancis akan ditunjukkan dengan bintang muda mereka. Perang Gen Z akan jadi penentu ke final.
Asosiasi Manajemen Sumber Daya Manusia (SHRM) dalam seminar yang diselenggarakan di Nashville, Tennessee, menjelaskan kiprah berbagai generasi di dunia profesi sekarang. Baby boomers membentuk kebutuhan finansial dan gaya hidup pensiunan baru, generasi X memegang tampuk kepemimpinan, milenial ujung tombak perubahan budaya kerja, dan generasi Z membentuk dunia kerja masa depan.
Kim Lear, pendiri Inlay Insights, meneliti generasi Z selama bertahun-tahun. Generasi Z menghabiskan sebagian besar waktu mereka di internet dan di dunia yang penuh ketidakstabilan geopolitik serta geoekonomi. Mereka menyaksikan kemajuan teknologi sangat pesat. ”Kecemasan terbesar generasi Z adalah AI (kecerdasan buatan). Mereka ketakutan kiprahnya digantikan oleh mesin dan komputer,” kata Lear.
Ini yang membuat generasi Z mementingkan aktualisasi diri. Mereka mencari pekerjaan yang merayakan dan mengedepankan mereka sebagai manusia. Bukan pekerjaan yang sewaktu-waktu bisa digantikan oleh AI dan otomasi.
Lear menerangkan, generasi muda berusaha mengubah parameter bekerja dan kehidupan pribadi mereka. Pertanyaan terbesarnya ialah ”apakah saya harus megorbankan hidup untuk pekerjaan?” ini yang mereka berusaha hindari.
”Pekerjaan adalah hal yang menyehatkan jika dilakukan dengan senang hati dan sesuai prinsip kemanusiaan. Budaya ini harus dikembangkan perusahaan guna membangun sumber daya manusia berketahanan tinggi,” ujar Lear.