Gen Z Nepal Unjuk Rasa, Tentara dan Tokoh Tua Berbagi Kuasa

Sejumlah politisi tua Nepal berlomba mengambil simpati Gen Z. Sebagian malah mengaku jadi pemimpin mereka. Gen Z berjuang, orang tua mengklaim.

11 Sep 2025 15:25 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

KATHMANDU, KAMIS — Tentara dan perwakilan pengunjuk rasa Nepal tengah merundingkan pemilihan pemimpin sementara. Hakim berusia 73 tahun, Sushila Karki, digadang menduduki jabatan itu.

Media Nepal, The Himalayan, Kamis (11/9/2025), melaporkan, kondisi di Kathmandu dan wilayah lain di Nepal sudah tenang. Kini, perwakilan generasi Z dan militer sedang mencari cara mengisi kekosongan kekuasaan.

Perwakilan pengunjuk rasa dan militer telah mulai berunding. Dalam perundingan disebut, Karki akan diajukan jadi perdana menteri sementara. Ia disebut setuju dicalonkan. Selama jadi Ketua MA pada 2016-2017, ia sangat terkenal.

Presiden Nepal Ram Chandra Paudel akan menerima perwakilan pengunjuk rasa dan militer selepas perundingan itu. Kalau memang tidak ada calon lain, Paudel akan mengangkat Karki jadi PM sementara sampai terpilih PM melalui pemilu. ”Saya pikir harus ada pemilu segera dan pemimpin baru harus dipilih,” kata Sanu Bohara, seorang warga Kathmandu.

Sampai Karki atau siapa pun disetujui Paudel, Khadga Prasad Sharma Oli tetap memimpin pemerintahan. Selasa lalu, Oli mengundurkan diri sebagai PM.

Ia mundur setelah kerusuhan pecah di berbagai penjuru Nepal. Kerusuhan itu wujud kemarahan Gen Z Nepal atas kebrutalan polisi membubarkan unjuk rasa pada Senin.

Meski unjuk rasa berlangsung damai, polisi menembaki dan memukuli massa. Akibatnya, 20 orang dan ratusan lain cedera.

FILE -The then newly elected Prime Minister Khadga Prasad Oli greets after the oath of office in President residence in Kathmandu, Nepal, July 15, 2024. (AP Photo/Niranjan Shrestha, File)

Di tengah unjuk rasa yang dimotori Gen Z tersebut, Karki yang mantan Ketua Mahkamah Agung Nepal itu beberapa kali mengecam pemerintah. Komentar-komentarnya membuat perempuan itu mendapat simpati dan dukungan Gen Z.

Penyanyi yang jadi Wali Kota Kathmandu, Balendra Shah (35), ikut mendukung. Meski lima tahun lebih tua dari usia tertua Gen Z, Shah mengaku bagian dari protes Gen Z dan merasa jadi pemimpin mereka. Gen Z adalah orang yang lahir pada 1995-2012.

Tokoh tua lain yang berusaha mencari simpati Gen Z adalah Pushpa Kamal Dahal. Ia mengklaim, aspirasi Gen Z selaras dengan Partai Maois yang dipimpinnya.

Tokoh oposisi itu tidak sepakat dengan tudingan Gen Z memicu kerusuhan dan menimbulkan kerusakan di berbagai penjuru Nepal. Menurut dia, perusak dan perusuh adalah pihak yang menunggangi protes Gen Z.

Ia mendukung penyelidikan penuh dan tuntas atas kebrutalan aparat saat penanganan unjuk rasa. Ia menyebut pemerintahan Oli salah karena bertindak brutal terhadap pengunjuk rasa. Ia juga menyebut pemerintah tak bisa memperbaiki keadaan.

Padahal, ia pernah jadi PM. Ia dan dan keluarganya termasuk bagian dari sistem yang dikritik Gen Z Nepal. Keluarga Dahal, seperti keluarga elite politik Nepal, suka pamer kemewahan. Pameran itu menjadi salah satu penyebab kemarahan berunjung amukan massa.

Sejumlah warga Kathmandu ragu Nepal akan dapat pemimpin baru atau lebih baik. Keraguan antara lain pengunjuk rasa tidak terorganisasi rapi. ”Belum tentu mereka (mayoritas Gen Z) mau menerima orang yang merasa dirinya pemimpin. Apalagi, kalau orang itu orang tua,” kata salah seorang warga Kathmandu, Anup Keshar Thapa.

Jam malam

Sejak Selasa malam, militer mengumumkan mengambil alih kendali keamanan. Militer memerintahkan jam malam dan pembatasan gerak pada siang hari. Hingga Kamis siang, militer masih patroli di berbagai penjuru Nepal. Militer telah mengumumkan jam malam diperpanjang sampai Jumat pagi.

Militer mengatakan, pemberlakuan jam malam dan pembatasan gerak diserahkan ke otoritas setiap daerah. Meski demikian, dalam praktiknya, otoritas di daerah mengikuti saran militer.

Ada pengecualian untuk pembatasan gerak dan jam malam. Awak ambulans, pemadam kebakaran, tenaga kesehatan, dan jurnalis termasuk yang dapat pengecualian. Militer juga memberi pengecualian untuk awak pengangkut bahan bakar dan bahan pangan.

Selain dari orang-orang itu, harus ada izin khusus untuk bisa keluar rumah, baik siang maupun malam. Militer beralasan, pembatasan itu untuk memulihkan ketertiban dan keamanan selepas rangkaian kerusuhan.

Sampai Kamis, berbagai sekolah hingga pasar di Kathmandu dan sekitarnya masih ditutup. Sebab, pelajar dan pedagang serta pekerja berbagai sektor belum bebas keluar rumah.

Memang, ada jeda pembatasan beberapa jam pada Kamis di Kathmandu. Warga memanfaatkannya untuk memborong aneka barang kebutuhan harian. Sebagian lagi memilih ke kuil dan berdoa. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra