Generasi Z dari Sudut Pandang Neurosains: Mengapa Mereka Berbeda?

Perilaku Generasi Z mencerminkan bagaimana otak mereka merespons dunia yang makin kompleks dan cepat berubah. Tugas generasi yang lebih tua  memahami konteks mereka.

20 Jan 2025 10:00 WIB · Opini

Oleh Gea Pandhita S

Generasi Z, kelompok yang lahir antara akhir 1990-an dan 2010-an, menjadi topik hangat dalam berbagai diskusi, terutama di kalangan orangtua dan pendidik. Kreativitas mereka sering kali dipuji, tetapi perilaku mereka juga kerap menuai kritik.

Mereka dianggap mudah menyerah, terlalu sensitif, dan kurang memahami hal-hal yang dahulu dianggap umum, seperti membaca arah mata angin atau berhitung cepat. Tak jarang pula muncul keluhan bahwa generasi ini kurang menunjukkan tata krama, seperti penggunaan panggilan hormat ”Pak” atau ”Bu.”

Apakah kritik ini sepenuhnya adil? Untuk memahami fenomena ini, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan melihatnya melalui perspektif neurosains, bagaimana perkembangan otak generasi Z dipengaruhi oleh era digital dan lingkungan yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Jawabannya mungkin lebih kompleks dari sekadar perubahan pola perilaku.

Otak produk era digital

Generasi Z hidup di era digital yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Sejak kecil, mereka terpapar informasi instan melalui media sosial, video pendek, dan gim daring (game online). Stimulasi digital ini terus-menerus memengaruhi neuroplastisitas otak mereka.

Neuroplastisitas, atau kemampuan otak untuk berubah berdasarkan pengalaman, pada generasi Z membentuk koneksi neural yang lebih terfokus pada pengolahan visual dan multitasking. Dengan demikian, ini sering kali melemahkan keterampilan mendalam, seperti konsentrasi jangka panjang dan pemecahan masalah kompleks.

Studi dari Frontiers in Psychology (2022) mengungkap bahwa penggunaan media digital secara intensif membantu generasi Z dalam tugas-tugas berbasis teknologi. Namun, hal ini mengurangi keterampilan praktis, seperti berhitung manual atau membaca arah mata angin.

Data dari Pew Research Center (2022) juga menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen remaja generasi Z mengandalkan internet untuk menjawab pertanyaan sehari-hari, sementara hanya 25 persen yang mengatakan sering menggunakan keterampilan manual. Ketergantungan ini menunjukkan bahwa ”keterampilan tradisional” mereka terpinggirkan oleh pola belajar berbasis teknologi.

Kondisi ini juga memengaruhi perkembangan korteks prefrontal, bagian otak yang bertanggung jawab atas fokus, perencanaan, dan pengendalian diri. Pola hidup yang berorientasi pada informasi instan membuat generasi Z kurang terlatih untuk menghadapi tantangan jangka panjang dan menyelesaikan masalah yang kompleks. Proses belajar mereka cenderung bersifat permukaan (surface learning), mereka cepat menemukan jawaban, tetapi sulit mendalami satu topik secara menyeluruh.

Dampak lain dari stimulasi digital ini terlihat pada sistem reward otak. Studi dari Nature Neuroscience (2023) menunjukkan bahwa paparan media sosial meningkatkan pelepasan dopamin, yang menciptakan rasa senang instan.

Namun, pelepasan dopamin berlebihan ini memperkuat kebiasaan mencari kepuasan instan (instant gratification) sehingga generasi Z cenderung menghindari proses panjang yang membutuhkan ketekunan dan kerja keras. Akibatnya, mereka lebih mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Ilustrasi
Pengunjung yang rata-rata anak muda memadati sebuah kedai kopi saat sore hari di kawasan Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten, Senin (22/1/2024). Kedai-kedai kopi jadi tempat nongkrong, bahkan ruang publik generasi muda di Tanah Air.

Generasi Z dan tata krama

Tata krama atau sopan santun adalah perilaku kompleks yang melibatkan fungsi kognitif eksekutif di korteks prefrontal, seperti pengaturan diri, pemahaman norma sosial, dan empati. Perilaku ini berkembang melalui pengalaman dan pembiasaan. Namun, perubahan lingkungan membuat tata krama generasi Z sering kali berbeda dari generasi sebelumnya.

Generasi Z tumbuh di era digital, di mana komunikasi didominasi teks dan pesan singkat yang bersifat informal dan efisien. Pew Research Center (2022) menemukan bahwa 55 persen remaja merasa lebih nyaman berkomunikasi melalui teks daripada tatap muka. Hal ini berimplikasi pada kurangnya pembiasaan terhadap etiket komunikasi langsung, termasuk penggunaan panggilan hormat.

Pola ini melatih otak mereka untuk lebih fokus pada isi pesan daripada cara penyampaiannya. Akibatnya, elemen tata krama, tradisional seperti penggunaan panggilan hormat (”Pak” atau ”Bu”) sering terabaikan, bahkan dalam interaksi langsung.

Selain itu, generasi Z hidup di masa hubungan antargenerasi cenderung lebih setara. Pola pikir ini membuat mereka merasa formalitas tidak selalu diperlukan dalam percakapan. Bagian otak yang mengatur norma sosial dan empati mungkin kurang terlatih dalam konteks ini sehingga mereka terkesan kurang memperhatikan tata krama tradisional.

Quote

Namun, perubahan lingkungan membuat tata krama generasi Z sering kali berbeda dari generasi sebelumnya.

Hipersensitivitas dan media sosial

Generasi Z sering dianggap hiperbola, terlalu emosional atau mudah tersinggung. Hal ini dapat dijelaskan dari sudut pandang sistem limbik, bagian otak yang mengatur emosi. Paparan konstan terhadap media sosial memperbesar persepsi kepekaan mereka terhadap validasi sosial, seperti jumlah ”like” atau komentar. Otak mereka menjadi lebih responsif terhadap kritik atau penolakan, yang sering kali memengaruhi kesehatan mental mereka.

Kurangnya pengalaman nyata

Kenyamanan teknologi juga membuat generasi Z sering kali kurang pengalaman menghadapi tantangan langsung, yang berkontribusi pada perkembangan sirkuit stres positif di amigdala dan korteks prefrontal. Tanpa pengalaman ini, generasi Z tampak menjadi kurang tangguh menghadapi kesulitan.

Kurang terpapar pada pengalaman-pengalaman yang dahulu dianggap biasa, seperti memahami cara kerja alat-alat manual, juga akan mengakibatkan otak tidak membangun jalur-jalur yang mendukung keterampilan tersebut.

Kurangnya transfer antar-generasi

Pengetahuan ”tradisional”, seperti cara menghitung cepat atau cara mengupas buah, merupakan pengetahuan yang lebih banyak ditransfer secara verbal dan pengalaman langsung antar-generasi. Jika interaksi antar-generasi berkurang karena perbedaan gaya hidup atau kurangnya komunikasi mendalam, generasi Z tidak menerima pengalaman ini secara optimal.

Ilustrasi
Infografik Konsumsi Media Digital di Setiap Generasi

Strategi

Meskipun fenomena-fenomena kurang baik beberapa tampak pada generasi Z, kabar baiknya, perkembangan otak generasi Z tetap fleksibel dan dapat diarahkan dengan cara yang tepat. Berikut beberapa strategi yang dapat dilakukan:

Pertama, meningkatkan ketangguhan melalui tantangan nyata. Ajak anak-anak untuk menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari tanpa bantuan teknologi. Misalnya, mengajarkan mereka mengetahui arah mata angin, memasak tanpa resep digital, atau bekerja sama dalam proyek keluarga yang membutuhkan ketahanan, kerja keras, dan solusi kreatif untuk membangun korteks prefrontal dan meningkatkan ketangguhan.

Kedua, memberikan teladan secara konsisten dan bimbing dengan kasih sayang. Anak-anak belajar tata krama melalui observasi sehingga orangtua dan guru perlu konsisten memberikan contoh berbicara dengan hormat, seperti membiasakan ucapan ”terima kasih” dan ”maaf”. Jika generasi Z kurang menunjukkan tata krama, hindari kritik keras, gunakan pendekatan edukatif, misalnya dengan menjelaskan pentingnya panggilan hormat seperti ”Pak” untuk menunjukkan rasa hormat.

Ketiga, membatasi waktu layar, memperkaya interaksi sosial, dan membangun kesadaran norma sosial. Keseimbangan teknologi dan interaksi nyata penting bagi perkembangan generasi Z. Penelitian American Psychological Association (2023) menunjukkan bahwa membatasi waktu layar dan meningkatkan aktivitas sosial dapat memperbaiki keterampilan interpersonal.

Dorong generasi Z untuk mengikuti kegiatan tim seperti olahraga atau acara sosial, serta pendidikan berbasis pengalaman untuk melatih keterampilan sosial dan fisik. Jelaskan bahwa tata krama bukan sekadar tradisi, tetapi cara membangun hubungan harmonis, termasuk pentingnya panggilan hormat. Libatkan mereka dalam kegiatan keluarga, komunitas, atau acara keagamaan untuk mengenalkan norma sosial yang lebih luas.

Keempat, mengajarkan regulasi emosi dan meningkatkan kesadaran empati. Anak-anak perlu belajar mengelola emosi melalui teknik seperti mindfulness, diskusi terbuka, atau role-playing untuk mengurangi respons emosional berlebihan. Melatih generasi Z memahami perspektif orang lain dan pentingnya norma sosial dapat memperkuat empati dan apresiasi terhadap tata krama tradisional.

Kelima, melibatkan mereka dalam belajar mendalam (deep learning). Dorong mereka untuk mendalami satu topik hingga tuntas untuk membangun koneksi neural yang lebih kompleks daripada sekadar mencari jawaban cepat dan dangkal di internet. Ini akan memperkuat koneksi neural di otak mereka dan membantu membangun pola pikir jangka panjang.

Mengapa kita harus berempati?

Perbedaan generasi bukanlah sesuatu yang negatif. Perubahan cara otak bekerja pada generasi Z hanyalah adaptasi terhadap lingkungan baru yang mereka hadapi. Sebagai orangtua, pendidik, dan masyarakat kita perlu memahami bahwa perilaku mereka mencerminkan bagaimana otak mereka merespons dunia yang semakin kompleks dan cepat berubah. Tugas generasi yang lebih tua adalah memahami konteks mereka, memberikan arahan yang bijak, dan menjadi teladan yang baik.

Fenomena ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih personal dan adaptif dalam pendidikan, mengintegrasikan teknologi dengan strategi yang mengoptimalkan fungsi otak dan membentuk karakter generasi Z secara holistik. Dengan memahami aspek neurosains di balik perkembangan generasi Z, diharapkan kita dapat membimbing mereka menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga tangguh, empati, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Gea Pandhita S, dokter Spesialis Neurologi di RS Pondok Indah Bintaro Jaya; Kepala Laboratorium Neurosains dan Epidemiologi Klinis di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Jakarta.

Gea Pandhita S, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka)

Facebook: gea.pandhitas; Instagram: pandhitas

Gea Pandhita S
Dokter spesialis syaraf dari RS Pondok Indah, Gea Pandhita menjelaskan gejala demensia di Jakarta, Kamis (12/4)

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Gea Pandhita S
 | 

Editor:

Yovita Arika
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .