BerandaKolomGeometri Tubuh

Geometri Tubuh

Tubuh tidak saja bergerak pasif pada ruang yang ada, tetapi ia juga menciptakan serta menghidupkan ruang yang baru.

29 Nov 2024 19:30 WIB · Kolom

Oleh Saras Dewi

Saras Dewi *** Local Caption *** Analisis Budaya

Silat Minangkabau adalah gerak tubuh yang menandakan ketaatan kepada alam. Bermacam ayunan tangan, ataupun ketekunan pijakan kaki adalah buah kreasi dari mendalami alam secara saksama. Silat dalam pengertian ini tidak saja dimengerti sebagai bentuk seni bela diri semata, tetapi, tersimpan dalam setiap pembabakan gerak suatu cerita tubuh.

Aneka ragam ekspresi dari alam tecermin dalam gerak silat; ketangkasan harimau, keelokan burung, kokohnya bukit, kehalusan pucuk-pucuk padi. Silat adalah perjumpaan antara kekuatan serta kelembutan, tarik menarik antartubuh yang amat puitis. Silat bukan soal agresi apalagi kekerasan, silat adalah kesabaran tubuh dalam berupaya membaca tanda-tanda alam.

Bagi Amran SN, budayawan asal Sumatera Barat, Silek atau Silat Minangkabau tidak saja terbatas pada menempa fisik saja. Ia beranggapan bahwa dalam silat tersebut terpendam segenap pandangan hidup atau filsafat masyarakat Minangkabau.

Seorang pesilat tidak dapat dianggap utuh mempelajari ilmu, jika tidak pula mengolah selaras akal budinya. Pengendalian diri menjadi bagian penting dari nilai filosofis dalam silat, sikap tidak gegabah itu hasil refleksi melihat dinamika yang terjadi di lingkungan hidupnya. Amran SN melanjutkan dengan menjelaskan tentang filosofi mamangan alam takambang jadi guru alam dalam segala unsur-unsurnya menjadi inspirasi utama yang tertuang dalam gerak maupun laku hidup.

Silat sebagai tradisi adalah lumbung pengetahuan yang patut dipelajari dan terus dilestarikan. Dalam kaitannya dengan wawasan seni tari kontemporer, silat adalah permata ilham yang telah memengaruhi berbagai tokoh seni tari dari Sumatera Barat seperti Huriah Adam (1936-1971), Gusmiati Suid (1942-2001) dan Hartati (1966).

Tiga penari dan koreografer perempuan ini telah melahirkan karya-karya monumental yang membuktikan kecemerlangan gagasan dan kesungguhan dalam memaknai silat. Huriah Adam dalam tulisannya yang berjudul Tari Minangkabau yang dipublikasi pada tahun 1971, ia memaparkan, ”… yang menjadi dasar tari Minangkabau adalah dasar-dasar pencak. Gerakan utama dari berbagai tari merupakan langkah maupun gerakan dasar pencak.”

Ia juga menyebutkan sikap kewaspadaan yang muncul dalam silat yang turut memengaruhi bentuk koreografinya, dalam setiap gerakan tari tidak ada tubuh yang dikosongkan, gerakan selalu mengimbangi ke depan dan ke belakang.

Huriah Adam juga berbicara mengenai hubungan tarian Minangkabau dengan alam, ia mengatakan bahwa tari-tarian tersebut merupakan kekaguman, pemujaan atau impresi alam yang meliputi orang-orang Minangkabau. Impresi dalam hal ini disebutkan oleh Huriah Adam sebagai manifestasi perasaan, dalam tarian Barabah, misalnya, gerakan ini terinspirasi kelincahan burung yang mewakili perasaan kebebasan untuk menukik dan bermain di angkasa. Ia pun menyinggung bagaimana alat-alat musik yang ada merupakan respons terhadap bunyi-bunyian alam, seperti talempong, gendang, pupuik gadang dan rabab.

Nada serupa disampaikan oleh pembaru tari Gusmiati Suid mengenai pengaruh silat ke dalam koreografinya. Dalam arsip film dokumenter sanggar Gumarang Sakti, Gusmiati Suid mengatakan bahwa ia telah belajar silat semenjak berusia 4 tahun.

Ia menampik pandangan bahwa silat itu bersoalan dengan perkelahian, jauh daripada itu, mempelajari silat berarti melatih pikiran. Saat awal belajar silat, ia diajarkan untuk duduk tenang dan mengobservasi dengan cermat keadaan di sekitarnya. Karyanya yang terkenal Tari Rantak, mengambil substansi gerakan dalam silat, dinamisnya tubuh penari dengan kaki yang kuat mengentak.

Pada ”Jarum dalam Jerami” karya Hartati, kita dapat merasakan pengaruh semangat egalitarian dan sikap kritis yang ada dalam budaya Minangkabau yang mengaliri karya tari tersebut. Karya ini, merupakan respons terhadap karya Gusmiati Suid yang berjudul ”Api dalam Sekam” yang pada masanya adalah kritik terhadap ketidakadilan semasa pemerintahan Orde Baru.

Percakapan karya ini adalah pertalian pengetahuan yang penting untuk ditelaah, sebab sebagaimana silat memengaruhi Gusmiati Suid, begitu pula untuk Hartati. Pesan filosofis dalam silat yang disampaikan melalui ”Jarum dalam Jerami” adalah mengenai kewaspadaan, sikap kehati-hatian, yang acap kali luput dilakukan kala hidup di era paskakebenaran yang sarat dengan misinformasi dan disinformasi.

”Jarum dalam Jerami” adalah seruan Hartati pada publik mengenai sukarnya mencari jarum yang tertumpuk jerami, tetapi terlebih lagi bagaimana menemukan jarum tersebut tanpa terluka oleh tajamnya ujung jarum itu. Pengandaian ini menggarisbawahi pentingnya, berpikir kritis, serta bekerja sama dalam masyarakat untuk memecahkan permasalahan.

Dalam menyelami arsip tari karya tiga koreografer ini saya tidak putus-putusnya melihat keindahan tubuh membentuk lintasan, pola dan bentuk di dalam ruang. Saya melihat keindahan struktur geometris, yang membentuk lingkaran, posisi rentangan tangan berbentuk diagonal, maupun rantai gerakan yang bertumpuk penuh dengan simbol geometris.

Geometri jika ditelusuri dalam akar bahasa Yunani, berarti geo atau bumi, dan metron yang berarti pengukuran, sehingga dapat dimengerti sebagai cara mengukur dan memahami dunia fisik. Pemikir filsafat seperti Edmund Husserl memandang bahwa geometri bersumber dari pengalaman konkret manusia dalam mencerna dan berinteraksi dengan dunia, yang kemudian berkembang menjadi pengetahuan yang ideal dan universal.

Tentu analisis ini adalah perluasan dari penggunaan geometri dalam cabang ilmu matematika, yang sejatinya ilmu yang mempelajari sifat dan struktur ruang beserta bermacam-macam bentuk di dalamnya. Tari adalah geometri yang bergerak, melalui karya-karya Huriah Adam, Gusmiati Suid dan Hartati kita dapat menyaksikan bahwa tubuh tidak saja bergerak pasif pada ruang yang ada, tetapi ia juga menciptakan serta menghidupkan ruang yang baru.


Kerabat Kerja

Penulis:

Saras Dewi
 | 

Editor:

Dwi As Setianingsih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase