Sepekan setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden UEA Mohamed bin Zayed al-Nahyan di Abu Dhabi, rangkaian pertemuan lanjutan digelar di Tanah Air.
29 Nov 2024 07:37 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Kedutaan Besar Uni Emirat Arab di Jakarta bergerak cepat melakukan berbagai pembahasan sebagai tindak lanjut kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Abu Dhabi pada pekan lalu. Setidaknya ada delapan sektor kerja sama yang sudah dibahas secara intensif, antara lain mulai dari investasi energi bersih di Ibu Kota Nusantara, perumahan, kesehatan, pariwisata, dan ketahanan pangan.
Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia dan Duta Besar Non-Residen untuk Timor Leste dan ASEAN Abdulla Salem Al-Dhaheri mengatakan, ada tiga pilar kerja sama utama yang diutarakan Presiden Prabowo dalam pertemuannya dengan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al-Nahyan (MBZ) dalam kunjungan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), pada 23 November 2024.
Tiga pilar kerja sama itu adalah ketahanan pangan, hilirisasi mineral, dan perumahan. Untuk bidang ketahanan pangan, kata Dhaheri, UEA mempunyai kesamaan pandangan dengan Indonesia untuk mencapai ketahanan pangan dalam 2-3 tahun.
Di bidang ini, terdapat sejumlah potensi kerja sama untuk dikembangkan. ”Dapat dipastikan untuk bidang ini akan ada kunjungan pihak terkait dari UEA ke Indonesia untuk berbagi pengalaman dan berinvestasi dalam strategi program ketahanan pangan,” kata Dhaheri dalam pertemuan dengan wartawan di rumah kediaman resmi Duta Besar UEA untuk Indonesia di Jakarta, Kamis (28/11/2024) malam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/29/20ef57e356b8683d60307d4791ab2ca8-20241128_195947.jpg)
Untuk bidang perumahan, Indonesia menyatakan ingin mewujudkan perumahan terjangkau sebanyak 3 juta unit per tahun selama 10 tahun ke depan. Sudah ada delapan pertemuan digelar soal program perumahan terjangkau itu.
Di antaranya pertemuan Pemerintah Indonesia dengan perusahaan-perusahaan dari UEA. ”Selanjutnya mereka akan datang ke Indonesia dan memetakan kebutuhan dan lokasi,” ujar Dhaheri.
Sementara untuk hilirisasi mineral, UEA meyakini bidang ini akan bernilai tinggi dan menciptakan banyak lapangan kerja di Indonesia. Sebab, Indonesia kaya akan mineral, seperti nikel dan bauksit.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/23/d8ae0524-63b6-4985-a72e-46c89cfc424c_jpeg.jpg)
Di luar tiga bidang tersebut, setidaknya ada lima bidang lain yang sudah dibicarakan antara UEA dan Indonesia. Bidang-bidang ini antara lain adalah turisme, pendidikan, kesehatan, energi, dan teknologi akal imitasi atau kecerdasan buatan (AI), dan ekonomi digital. Rangkaian pertemuan sudah digelar di Indonesia terkait bidang-bidang tersebut.
Menurut Dhaheri, setiba dari UEA sekitar sepekan lalu, ia sudah menggelar pembicaraan dengan tiga menteri Indonesia, yaitu Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, dan Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan.
Dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Dhaheri membahas berbagai bentuk kerja sama. Salah satunya pembangunan Rumah Sakit Kardiologi Emirates-Indonesia di Solo, Jawa Tengah.
Dapat dipastikan, untuk bidang ketahanan pangan, akan ada kunjungan pihak terkait dari UEA ke Indonesia guna berbagi pengalaman dan berinvestasi untuk strategi program ketahanan pangan.
Pembangunan proyek ini diperkirakan akan mulai dilakukan beberapa bulan ke depan, antara Januari dan Februari 2025. Selain itu, juga dibahas mengenai transfer pengetahuan soal perawatan kesehatan dan industri peralatan medis.
Menurut laman resmi Pemerintah Kota Surakarta, Rumah Sakit Kardiologi Emirates-Indonesia di Solo itu akan dibangun di Solo Technopark di lahan seluas 17.000 meter persegi. Rumah sakit ini sepenuhnya dibangun dengan pembiayaan dari Pemerintah UEA. Menurut rencana, rumah sakit itu akan memiliki kapasitas sebanyak 100 tempat tidur.
Pemerintah Indonesia berperan dengan menyediakan lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan rumah sakit tersebut. Namun, setelah proses pembangunan selesai, operasional dan manajemen rumah sakit akan diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/29/bd166e8b0253f3bfd02a5c4ff01560d5-cropped_image.png)
Selanjutnya, dalam pertemuan dengan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Dhaheri membahas kemungkinan kerja sama untuk meningkatkan jumlah turis ke Indonesia. Pembicaraan mengerucut pada kemungkinan kerja sama antara maskapai penerbangan UEA, Etihad Airlines dan Emirates Airlines, dengan Garuda.
Tujuan kerja sama itu meningkatkan promosi turisme Indonesia serta UEA dan menggaet kunjungan dari Afrika, Eropa, dan AS yang berada dalam rute penerbangan dua maskapai itu. ”Ada rencana penandatanganan MoU antara tiga maskapai itu dan Kementerian Pariwisata,” kata Dhaheri.
Sementara dengan Menko Pangan Zulkifli Hasan, kata Dhaheri, pihaknya telah membahas infrastruktur pangan mulai dari transportasi, program pangan, dan agrikultur. Setidaknya satu perusahaan UEA telah menunjukkan minat serius untuk berinvestasi pada Food Estate di Papua. Perusahaan itu adalah Elite Agro LLC.
”Perusahaan itu sudah berkunjung ke Papua,” kata Dhaheri.
Di bidang pangan, bentuk kerja samanya adalah transfer teknologi dan investasi. Sejauh ini, belum ada arah UEA bertindak sebagai penyuplai pangan. Sejumlah komoditas yang menjadi sasaran program ketahanan pangan UEA adalah gula, beras, dan jagung.
UEA juga menyatakan minat berinvestasi di bidang energi bersih Ibu Kota Nusantara (IKN). ”Kami menjajaki kerja sama dengan Pertamina dan bidang geotermal serta energi bersih. Kami yakin akan ada hasil positif di kerja sama ini,” kata Dhaheri.
Menurut Dhaheri, sejak kunjungan MBZ ke Jakarta pada 2019, Indonesia dan UEA telah bekerja sama dalam 20 sektor. Kunjungan pertama MBZ itu bersejarah sebab telah membuka pintu pada kerja sama berkelanjutan Indonesia-UEA yang berlangsung hingga sekarang.
Dalam pertemuan bilateral di Abu Dhabi pada pekan lalu, Prabowo dan MBZ sepakat memperkuat hubungan ekonomi dan kerja sama strategis Indonesia-UEA.
Pertemuan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat hubungan kedua negara yang selama ini telah terjalin dengan baik. Dalam sambutannya, MBZ menyampaikan apresiasi atas kunjungan Prabowo beserta delegasi ke UEA.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/23/44517b52-baa2-475f-b145-29ca5ea0aa09_jpeg.jpg)
MBZ menegaskan pentingnya hubungan bilateral yang telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di bidang perdagangan, investasi, dan kerja sama pembangunan.
”Hubungan kita bukan baru dimulai hari ini. Kita sudah saling mengenal sekian tahun dan saya bangga dengan hubungan ini. Insya Allah hubungan ini semakin membaik dan berkembang bagi kedua bangsa dan negara di tahun-tahun mendatang,” ujar MBZ.
MBZ juga menyoroti beberapa capaian konkret dari kerja sama kedua negara, termasuk pertumbuhan perdagangan nonmigas yang mencapai 12 persen pada 2023 dengan nilai sekitar 4,6 miliar dollar AS. Ia optimistis target perdagangan senilai 10 miliar dollar AS dapat terwujud melalui implementasi perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif dan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral.
Sementara Prabowo menyatakan keinginannya untuk memperbesar peran Indonesia dalam mendukung pembangunan nasional. ”Kita bisa bekerja di beberapa bidang dan kami ingin mengundang UEA untuk aktif berpartisipasi dalam ekonomi kami,” katanya.
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra