Kekuasaan Gianni Infatino di FIFA kian tidak tersentuh. Ia kandidat kuat dan satu-satunya Presiden FIFA 2027.
01 Mei 2026 15:27 WIB · Olahraga
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
VANCOUVER, JUMAT – Gianni Infantino, Presiden FIFA kesembilan, memastikan akan kembali mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di sepak bola pada Kongres Luar Biasa FIFA 2027 di Rabat, Maroko. Tanpa pesaing, Infantino tidak akan mengalami halangan berarti untuk menduplikasi jejak tiga pendahulunya yang memegang kendali FIFA lebih dari 10 tahun.
Pencalonan kembali dirinya sebagai calon petahana Presiden FIFA diumumkan Infantino pada pidato penutup Kongres FIFA di Vancouver, Kanada, Kamis (30/4/2026) malam waktu setempat atau Jumat (1/5/2026) dini hari WIB.
“Saya ingin mengungkapkan kepada kalian untuk pertama kali—211 asosiasi anggota—bahwa saya akan menjadi kandidat pada pemilihan Presiden FIFA tahun depan,” kata Infantino yang disambut tepuk tangan oleh para hadirin.
“Terima kasih atas dukungan kalian selama 10 tahun terakhir, dukungan Anda hari ini, kerja keras Anda, perkembangan Anda, cinta Anda untuk permainan, komitmen, dan hasrat Anda,” Infantino melanjutkan.
Infantino diperkirakan akan kembali menjadi calon tunggal dalam pemilihan Presiden FIFA tahun depan. Hal itu juga yang dialaminya pada Kongres Luar Biasa FIFA pada 2019 dan 2023 lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/04/07/fifa01_1586267285.jpg)
Persaingan tersengit yang dialami Infantino terjadi pada Kongres Luar Biasa 2016. Kala itu, FIFA tengah melakukan pemilihan ulang usai Sepp Blatter mundur akibat dugaan terlibat kasus suap.
Kala itu, Infantino menghadapi pertarungan sengit dengan Salman bin Ibrahim Al-Khalifa, Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) asal Bahrain. Ronde pertama pemilihan sempat sengit. Infantino hanya unggul tiga suara, yakni 88 kontra 85 suara.
Infantino lantas unggul mutlak pada ronde kedua. Mantan Sekretaris Jenderal UEFA itu mengumpulkan 115 suara, sedangkan Salman hanya menerima 88 suara.
FIFA dalam posisi terbaiknya dan kami memberikan dukungan penuh kepada dia (Infantino) untuk menjadi kandidat sebagai Presiden FIFA untuk periode 2027-2031.
Merujuk Statuta FIFA terkini, Presiden FIFA hanya bisa menjabat dalam tiga periode. Kongres Luar Biasa 2027 akan menjadi periode penuh ketiga bagi Infantino untuk menjadi Presiden FIFA.
Meskipun sudah mengikuti tiga pemilihan Presiden FIFA, Kongres Luar Biasa 2016 tidak dihitung sebagai masa penuh jabatan bagi Infantino. Sebab, periode itu dianggap sebagai masa peralihan FIFA. Alhasil, hitungan periode pertama penuh Infantino sebagai Presiden FIFA baru dihitung sejak 2019.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/25/432d4581410211eb08bbebcc313ecabc-cropped_image.jpg)
“Sepuluh tahun terakhir adalah masa yang membahagiakan. Saya bangga telah membawa FIFA kembali ke sepak bola dan sepak bola ke FIFA. Perjalanan ini akan berlanjut,” ucap Infantino.
Dalam catatan FIFA, Infantino akan menjadi Presiden FIFA keempat beruntun yang menjabat lebih dari 10 tahun. Ia mengikuti Blatter (1998-2015) yang menjabat selama 17 tahun dan 122 hari.
Sebelumnya, ada Joao Havelange yang memimpin FIFA selama 24 tahun dan 31 hari pada periode 1974 hingga 1998, lalu Stanley Rous yang menguasai sepak bola selama 12 tahun dan 222 hari pada 1961 hingga 1974.
Jika Blatter merupakan Presiden FIFA pertama yang turun takhta akibat skandal, terdapat pula dua Presiden FIFA yang berakhir masa baktinya akibat meninggal dunia. Mereka adalah Daniel Burley Woolfall (1906-1918) dan Arthur Drewry (1956-1961).
Meskipun akan kembali maju pada periode penuh ketiga, Infantino tidak akan bisa mengikuti jejak Jules Rimet yang memegang kendali FIFA paling lama. Presiden FIFA ketiga itu menjabat FIFA sejak Agustus 1920 hingga Juni 1954. Secara total, pencetus Piala Dunia itu mengendalikan sepak bola dunia selama 33 tahun dan 297 hari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/9e748eb617781ed3d1f79493f98493ca-WCup_Draw_Soccer_134545347.jpg)
Serupa Rimet, Infantino juga telah mencetuskan turnamen dunia anyar. Ia memperkenalkan format baru Piala Dunia Antarklub yang diikuti 32 klub dari seluruh konfederasi anggota FIFA pada musim panas 2025 lalu.
Salman, Presiden AFC, memastikan dukungan AFC kepada pencalonan kembali Infantino. Menurut dia, Infantino telah membawa FIFA dalam periode terbaik, terutama dengan menghadirkan keadilan bagi seluruh negara anggota dalam mendapatkan program dan menyelenggarakan turnamen kelas dunia.
“FIFA dalam posisi terbaiknya dan kami memberikan dukungan penuh kepada dia (Infantino) untuk menjadi kandidat sebagai Presiden FIFA untuk periode 2027-2031. Hal itu telah dilakukan AFC dan sepak bola Asia sejak keterpilihannya pada 2016,” kata Salman.
AFC memiliki 47 suara dalam Kongres Luar Biasa FIFA, hanya kalah dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dengan 54 anggota serta UEFA yang memiliki 55 anggota. Adapun CAF juga sudah memberikan dukungan kepada Infantino.
“Asosiasi anggota CAF dengan suara bulat setuju untuk mendukung Gianni Infantino terpilih kembali sebagai Presiden FIFA periode 2027-2031,” sebut pernyataan CAF di laman resmi.
Tantangan terbesar bagi Infantino justru dari konfederasi asalnya, UEFA. Beberapa pimpinan federasi Eropa tidak ikut berdiri dan bertepuk tangan ketika Infantino mengumumkan pencalonannya kembali sebagai Presiden FIFA.
Sejumlah federasi di bawah naungan UEFA secara terbuka melakukan kritik terhadap kebijakan Infantino, salah satunya, memberikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump penghargaan FIFA Peace Prize.
“Kami ingin (FIFA Peace Prize) itu dibatalkan. Itu tidak ada dasarnya di Kongres FIFA. Tidak ada legitimasi dan di luar mandat FIFA. Itu adalah penghargaan politik. Kami meminta Komite Etik membahas ulang penghargaan itu,” ucap Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) Lise Klaveness, akhir April lalu (REUTERS)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim