GIIAS 2025 Diharapkan Dongkrak Industri Otomotif Tanah Air

Angka penjualan mobil di dalam negeri sempat lesu. Pameran otomotif GIIAS yang berlangsung hingga 3 Agustus mendatang diharapkan bisa memberi angin segar.

25 Jul 2025 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Aguido Adri

TANGERANG, KOMPAS — Ajang pameran otomotif GIIAS 2025 memainkan peran strategis dalam mengangkat posisi Indonesia di peta industri otomotif global. Di tengah tantangan global dan melemahnya daya beli, Indonesia masih mendapat kepercayaan besar dari pemain dunia. Industri otomotif dalam negeri pun diharapkan bisa kembali bergeliat.

”Mudah-mudahan ini bisa menjadi titik balik yang mengembalikan keinginan belanja masyarakat Indonesia untuk membeli kendaraan,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang saat memberikan sambutan dan membuka acara Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten.

Berdasarkan data ”Vehicles in Use 2024” oleh Organisasi Internasional Produsen Kendaraan Bermotor (Organisation Internationale des Constructeurs d’Automobiles/OICA), Indonesia mencatat rasio kepemilikan kendaraan bermotor (car ownership ratio/COR) sebesar 99 unit per 1.000 penduduk. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia dengan rasio 490:1.000, Thailand (275:1000), dan Singapura (211:1000).

Uniknya, meski catatan COR Indonesia rendah, Indonesia mencatat penjualan kendaraan domestik tertinggi di kawasan ASEAN. Hal ini memperlihatkan besarnya potensi pertumbuhan pasar otomotif nasional dalam jangka panjang.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan sambutan saat pembukaan pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Kamis (24/7/2025). Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Melalui inovasi produk dari produsen otomotif maupun industri pendukungnya, GIIAS 2025 diharapkan menjadi katalisator kolaborasi strategis antara pemerintah, pelaku industri, dan mitra internasional untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat produksi dan ekspor otomotif di berbagai kawasan.

”Kehadiran para pelaku utama global dalam GIIAS ini mencerminkan kepercayaan global terhadap kebijakan industri otomotif Indonesia,” ujar Agus.

Kepercayaan itu setidaknya terlihat dari integrasi industri otomotif nasional dari hulu ke hilir. Secara kaitan ke belakang (backward linkage), sektor industri otomotif didukung sekaligus mengakselerasi pertumbuhan industri hulu, seperti logam, karet, dan elektronik.

Sementara, secara kaitan ke depan (forward linkage), produk otomotif nasional menopang kinerja sektor hilir, seperti perdagangan, transportasi, logistik, keuangan, dan asuransi.

”Dengan koefisien (indeks) backward linkage sebesar 0,975 dan forward linkage sebesar 0,835, industri otomotif Indonesia menunjukkan efek multiplikasi yang kuat terhadap perekonomian nasional, ujarnya.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyapa robot humanoid di salah stan pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Kamis (24/7/2025). 

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Penjualan menurun

Pada 2024, industri otomotif ASEAN menghadapi tantangan besar dengan adanya penurunan volume penjualan sebesar 5,4 persen. Di Indonesia, penurunan itu tercatat 12,8 persen, sementara di Thailand bahkan mencapai 24,7 persen. Dua negara ini mengalami penurunan terbesar di ASEAN.

Tantangan lain yang dihadapi industri dalam negeri adalah kenaikan harga bahan baku, disrupsi rantai pasok global, dan fluktuasi nilai tukar. Kondisi ini sampai sekarang masih membayangi kinerja industri.

Quote

Sekarang kita memang sedang sulit, tetapi masyarakat kita akan kembali belanja kendaraan.

Agus mengatakan, di tengah kondisi tersebut, pemerintah fokus menjaga daya beli masyarakat dan ketahanan industri melalui berbagai kebijakan, termasuk menahan laju pemutusan hubungan kerja (PHK). ”Ini perintah dari pemerintah kepada pelaku industri, jangan sampai ada PHK,” kata Agus.

Meski menghadapi berbagai tantangan dan daya beli masyarakat sedang menurun, Agus menegaskan optimismenya bahwa pemulihan akan segera terjadi. ”Saya minta pelaku industri percaya pada pasar Indonesia. Sekarang kita memang sedang sulit, tetapi masyarakat kita akan kembali belanja kendaraan,” katanya.

Pengunjung menjelajahi area aula dalam pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 setelah pembukaan di ICE BSD, Kamis (24/7/2025). Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi mengatakan, industri otomotif nasional memang tengah menghadapi tantangan yang memengaruhi kinerja pertumbuhan penjualan mobil.

”Dalam berbisnis, pasang surut memang tak terelakkan. Namun, kami meyakini industri ini memiliki kekuatan dan dekat untuk mengatasi masa-masa sulit. Kami akan kembali bangkit dengan lebih kuat,” katanya.

Di tengah tantangan itu, industri otomotif Indonesia masih terus menunjukkan perannya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Kinerja ekspor kendaraan bermotor Indonesia masih mencatat pertumbuhan yang positif.

Pada 2024, ekspor kendaraan utuh (CBU) hampir mencapai 500.000 unit. Kendaraan tersebut diekspor ke lebih dari 90 negara, termasuk ke negara maju seperti Jepang. Sedangkan, ekspor kendaraan terurai (CKD) dan komponen otomotif juga meningkat. Hal itu mencerminkan peran Indonesia yang semakin strategis sebagai basis produksi kendaraan untuk pasar global.

Jurnalis dan pengunjung VIP mengamait salah satu produk potongan mobil di salah satu stan dalam pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Rabu (23/7/2025). Sejumlah agen pemegang merk (APM) membuat beragam inovasi untuk menari minat pengunjung pameran tersebut. Pameran tahunan yang memasuki edisi ke-32 ini menampilkan lebih dari 50 merek mobil, 20 lebih merek motor, serta 120 lebih industri pendukung. GIIAS 2025 juga menghadirkan peluncuran perdana secara global dan Asia, termasuk kendaraan konsep atau prototipe. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Industri otomotif Indonesia juga mencatat pertumbuhan investasi yang positif. Pada periode 2020-2024, realisasi investasi di sektor otomotif telah mencapai lebih dari Rp 150 triliun.

Capaian ini setidaknya menunjukkan kepercayaan yang besar dari pelaku industri global terhadap potensi pasar Indonesia dan kesiapan ekosistem otomotif nasional untuk terus berkembang.

GIIAS 2025 yang menghadirkan 44 jenama mobil dan 17 jenama dari sejumlah negara serta didukung 120 industri pendukung, termasuk UMKM, pun diyakini akan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan industri otomotif Indonesia.

”Kehadiran seluruh lini industri otomotif ini menggambarkan pentingnya GIIAS dalam memajukan industri otomotif Indonesia yang mempekerjakan lebih dari 1,6 juta tenaga kerja,” kata Nangoi.

Pasar penting

Kepercayaan global itu tampak dari sejumlah produsen otomotif asing yang memperluas bisnisnya di Indonesia. Misalnya, produsen otomotif asal China, BAIC International, yang resmi memperluas kiprahnya di Indonesia melalui dua entitas utama, PT Geo Distribusi Indonesia (GDI) sebagai distributor resmi dan GHL International Automotive (GIO) sebagai perusahaan perakitan.

Yangwang U9, supercar listrik BYD, di pameran GIIAS 2025, di ICE BSD, Kabupaten Tangerang yang berlangsung dari 24 Juli hingga 3 Agustus 2025.

Langkah ini menegaskan komitmen BAIC untuk tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi juga basis produksi kendaraan untuk kawasan regional.

”BAIC melihat bahwa pasar Indonesia sangat menjanjikan. Karena itu, kami hadir bukan hanya untuk menjual kendaraan secara utuh, melainkan juga berinvestasi dalam proses lokalisasi dan perakitan kendaraan di dalam negeri,” ujar Fedy Dwi Parileksono, Head of PR, Sales Training & Homologation BAIC Indonesia.

Melalui GIO International Automotive, BAIC Indonesia mulai menerapkan skema perakitan semiterurai (semi-knockdown/SKD) untuk model BJ40, kendaraan SUV andalan mereka. Unit-unit tersebut diimpor dalam kondisi terurai lalu dirakit secara lokal di fasilitas perakitan yang disiapkan di Indonesia.

”Ini bagian dari strategi kami mengikuti arahan pemerintah untuk mendorong lokalisasi. Proses assembling ini membuka lapangan kerja baru, mendorong pertumbuhan industri pendukung, dan memperluas jaringan distribusi,” kata Fedy.

GIIAS 2005

Dalam GIIAS 2025, BAIC memamerkan strategi tiga lini kendaraan untuk pasar nasional seperti kendaraan berbahan bakar minyak (internal combustion engine/ICE), kendaraan hibrida (hybrid), dan kendaraan listrik penuh (electric vehicle/EV).

”Kami tidak hanya menawarkan satu jenis kendaraan. Ada varian ICE, ada hybrid, dan nantinya kami juga akan menghadirkan kendaraan listrik murni. Ini kami lakukan untuk memperluas pilihan bagi masyarakat Indonesia,” ujar Fedy.

Toyota juga menegaskan komitmennya terhadap pasar Indonesia dengan menghadirkan inovasi produk yang sesuai kebutuhan dan karakteristik konsumen Tanah Air. Dalam pameran GIIAS tahun ini, Toyota fokus menampilkan kendaraan hibrida dan biodiesel sebagai bagian dari transisi menuju mobilitas berkelanjutan.

”Toyota tetap melihat Indonesia sebagai pasar penting. Produk kami telah menemani masyarakat Indonesia dari masa ke masa dan kini kami berupaya menghadirkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan konsumen saat ini,” ujar Muhammad Jalu, Sales Eksekutif Toyota.

Suasana "press day" pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Rabu (23/7/2025). Sejumlah agen pemegang merk (APM) membuat beragam inovasi untuk menari minat pengunjung pameran tersebut. Pameran tahunan yang memasuki edisi ke-32 ini menampilkan lebih dari 50 merek mobil, 20 lebih merek motor, serta 120 lebih industri pendukung. GIIAS 2025 juga menghadirkan peluncuran perdana secara global dan Asia, termasuk kendaraan konsep atau prototipe.

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Menurut Jalu, Toyota saat ini masih memfokuskan pengembangan dan pemasaran kendaraan hibrida karena teknologi ini dinilai paling sesuai dengan kondisi dan preferensi mayoritas konsumen Indonesia yang masih mengandalkan BBM.

Penjualan kendaraan hibrida Toyota di Indonesia menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini didorong oleh meningkatnya kesadaran konsumen terhadap efisiensi dan isu lingkungan.

Kehadiran Toyota dalam GIIAS 2025 juga memperkuat posisi perusahaan sebagai pelaku otomotif global yang adaptif terhadap dinamika lokal. Inovasi produk disesuaikan tidak hanya dengan arah kebijakan energi nasional, tetapi juga pola konsumsi masyarakat Indonesia yang sangat beragam, dari perkotaan hingga perdesaan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aguido Adri
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan