Thunberg mengatakan, penyiksaan terhadap aktivis GSF tidak sebanding dengan penderitaan rakyat Palestina.
08 Okt 2025 14:00 WIB · Internasional
STOCKHOLM, RABU — Ratusan aktivis yang mengikuti armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla atau GSF telah dipulangkan ke negara asal, termasuk Greta Thunberg (22) dari Swedia. Dia mengakui adanya penyiksaan selama dalam tahanan Israel. Namun, ia meminta dunia untuk tetap fokus pada Jalur Gaza.
Thunberg menyatakan, dirinya dan aktivis lain menjadi sasaran penyiksaan selama di penjara Israel. Bentuk penyiksaan itu, antara lain, ia kesulitan mendapatkan air bersih, sementara tahanan lain susah mendapatkan pengobatan penting. Meski demikian, ia enggan untuk mengelaborasi lebih jauh.
”Secara pribadi, saya tidak ingin menceritakan apa yang saya alami karena saya tidak ingin menjadi berita utama ’Greta telah disiksa’, karena bukan itu ceritanya di sini,” kata Thunberg dalam konferensi pers di Stockholm, Selasa (7/10/2025) waktu setempat.
Thunberg menambahkan, pengalaman mereka tidak sebanding dengan apa yang dirasakan warga Palestina di Gaza setiap hari.
Pada Sabtu (4/10/2025), beberapa aktivis Swedia dan negara lain mengatakan, Israel memperlakukan Thunberg dengan kasar. Mereka mendorong tubuhnya, memaksanya mencium bendera Israel, dan mengenakan bendera itu selama masa penahanan. Dalam konferensi pers Selasa, Thunberg tidak menyebutkan hal itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/08/4d33d8a2-e3b8-4cd9-9d35-189ec4bf4a07_jpg.jpg)
Thunberg dideportasi bersama 160 orang lainnya ke Bandara Internasional Eleftherios Venizelos, Athena, Senin (6/10/2025). Setelah mendarat, ia sudah menyatakan, pengalaman selama di Israel bukan hal yang penting.
”Biar saya perjelas: ada genosida yang terjadi di depan mata kita, genosida yang disiarkan langsung. Tak seorang pun berhak mengatakan kita tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tak seorang pun di masa depan akan bisa mengatakan kita tidak tahu,” kata Thunberg, menurut kantor berita Anadolu.
Thunberg menyampaikan, Israel terus meningkatkan genosida serta penghancuran massal dengan niat genosida di Israel. ”Kita tidak bisa mengalihkan pandangan dari Gaza serta semua tempat di dunia yang menderita: Kongo, Sudan, Afghanistan, dan masih banyak lagi,” tuturnya.
Thunberg bersama 470-an aktivis dari 50 negara menjadi bagian dari armada kapal sipil GSF. GSF mencoba menembus blokade laut Israel guna membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Jalur Gaza. Selama 1-3 Oktober 2025, militer Israel menangkap 479 aktivis GSF. Israel pernah menahan Thunberg di laut dalam upaya serupa, Juni lalu.
Seiring kepulangan ratusan aktivis, mereka saling memperkuat kesaksian bahwa Israel melakukan kekerasan kepada mereka. Warga mengaku tidak mendapat makanan, minuman, dan obat-obatan serta kesulitan tidur. Aktivis dari Malaysia melaporkan, mereka harus minum dari air toilet. Aktivis lainnya melaporkan kekerasan fisik, verbal, sekaligus psikologis.
GSF merupakan armada kapal sipil terbesar yang pernah berangkat untuk mengirim bantuan kemanusiaan ke Gaza. Dalam sebuah video di Instagram, menurut Thunberg, GSF adalah contoh ”solidaritas internasional” dengan Palestina.
Thunberg menjelaskan, Israel melanggar hukum internasional dengan menghalangi bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. ”Saya takkan pernah mengerti bagaimana manusia bisa begitu jahat. Mereka sengaja membiarkan jutaan orang yang kelaparan terjebak dalam pengepungan ilegal, sebagai kelanjutan dari penindasan dan apartheid selama puluhan tahun,” tuturnya.
Thunberg turut mengkritik pemerintah-pemerintah negara. Menurut dia, penahanan aktivis GSF adalah akibat langsung dari pemerintah.
”Negara-negara memiliki kewajiban hukum untuk mengakhiri keterlibatan mereka dalam genosida, yang kini juga dikonfirmasi oleh Komisioner Perserikatan Bangsa-Bangsa. Israel tidak memiliki impunitas atas genosida,” kata Thunberg.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/26/db4de773-5af0-4860-b392-2610eef4cfab_jpg.jpg)
Pemerintah Swedia sudah beberapa kali menyerukan agar GSF tidak berangkat ke Gaza. Stockholm memberikan dukungan konsuler terhadap para aktivis sembari meminta Israel tetap memperlakukan warga negaranya dengan baik.
Namun, lanjut Thunberg, pejabat konsuler Swedia tahu mengenai keluhan para aktivis terkait perlakuan kasar Israel. Pejabat tersebut gagal melakukan intervensi secara efektif.
”Ketika pejabat konsuler pergi setelah bertemu kami, saya bilang, ’Begitu kalian pergi, mereka akan memukuli kami.’ Pejabat Swedia itu tetap pergi,” ujarnya.
Kementerian Luar Negeri Israel tidak segera menanggapi permintaan komentar baru terkait dengan penyiksaan aktivis. Sebelumnya, Israel telah berulang kali membantah.
”Semua tahanan diberi akses ke air, makanan, dan toilet; akses mereka ke penasihat hukum tidak ditolak, dan semua hak hukum mereka sepenuhnya ditegakkan,” ujar seorang juru bicara Kemenlu Israel, pekan lalu.
Penangkapan aktivis dan perlakuan kasar Israel telah memicu kritik dari sejumlah negara, termasuk Pakistan, Turki, dan Kolombia. Yunani mengirim protes tertulis. Puluhan ribu warga di berbagai benua berunjuk rasa untuk mengecam Israel.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Rabu, mengecam keras pencegatan GSF. Dia juga menuntut agar aktivis Malaysia dibebaskan. Sebelumnya, dua aktivis Malaysia sudah dideportasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/06/1b6e4fea-cfd2-48d5-9a4f-c2ce55675424_jpg.jpg)
Israel juga kembali mencegat sekelompok kapal dari Koalisi Armada Kebebasan (FFC) yang berusaha mengirim bantuan ke Gaza, Rabu. Ini merupakan pencegatan kedua dalam sepekan terakhir setelah pencegatan GSF. Kapal dan penumpang armada tersebut selamat. Israel akan mendeportasi mereka.
”Militer Israel membajak armada kemanusiaan secara ilegal. Para peserta adalah para pekerja kemanusiaan, dokter, dan jurnalis dari seluruh dunia. Mereka telah dibawa tanpa persetujuan dan ditahan dalam kondisi yang tidak diketahui. Militer Israel tidak memiliki yurisdiksi hukum atas perairan internasional,” bunyi pernyataan FFC.
Saat ini, Hamas dan Israel bernegosiasi mengenai proposal perdamaian usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Mesir sejak Senin. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 67.000 orang tewas dan 170.000 orang terluka. Sebanyak 2,2 juta warga mengungsi dan kesulitan mendapatkan makanan dan obat. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji