Warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat bertahan hidup dengan menghuni goa untuk menghindari pembongkaran oleh tentara Israel.
18 Sep 2026 17:50 WIB · Internasional
AFP/JOHN WESSELS
Mohammed Amr, seorang penggembala Palestina membangun hunian yang memberikan kehangatan bagi keluarganya. Tempat tinggal ini menjadi lokasi bernaung bagi 11 anaknya. Tempat untuk bercengkerama hingga berkaraoke. Rumah ini berada di dalam gua. Gua terpaksa dipilih karena sebelumnya dua rumah miliknya dirobohkan tentara Israel.
Hampir setiap hari Amr dan keluarganya kerap mengalami gangguan dari para pemukim Israel yang tinggal di pos permukiman ilegal. Pada akhir Agustus 2026, pasukan Israel menghancurkan hunian darurat keluarga itu dalam sebuah penggerebekan malam hari. Para pemukim mencuri kambing-kambing miliknya, sehingga ia kehilangan sumber mata pencaharian.
Di wilayah gersang Desa Al-Tuwani, Masafer Yatta, Tepi Barat yang diduduki Israel, Amr membuat lantai beton halus di atas permukaan batu kapur kasar di dalam gua.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/805c37df2f5df2c9bfb692399eba21f6-20260918RZF23.jpg)
Seiring waktu, aliran listrik dari panel surya dan air dari sumur mengubah gua tersebut menjadi rumah baru bagi Amr (33 tahun), kedua istrinya dan 11 anaknya. Meskipun demikian, mereka tetap merindukan kehidupan yang layak di permukaan tanah seperti rumah pada umumnya.
"Kami pernah tinggal di rumah di permukaan tanah, tempat kita bisa melihat dunia luar. Namun kini, kami tinggal di gua bawah tanah yang menyerupai kuburan," ujar Amr.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/188cfe435e42baf844a3722786e36153-20260918RZF05.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/7429e584991de3fe9df2639c2c8d317e-20260918RZF01.jpg)
Anak-anaknya kini biasa bermain di teras yang dibangun di sisi bukit di depan gua. Putri-putrinya menyanyikan lagu-lagu Arab menggunakan pemutar musik karaoke sembari mengawasi adik laki-laki mereka. Sebuah foa tua di ruang tengah menjadi tempat favorit bagi anak-anaknya untuk bersantai.
Putra bungsunya, Raz (singkatan dari Razeeq), diberi nama sesuai nama seorang pria Rusia-Israel yang ditemui Emar di penjara Tel Aviv. Amr pernah dihukum satu tahun akibat perselisihan dengan seorang pemukim Israel saat istrinya, Fatima sedang hamil.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/8b705cb4e1cefd92e7b163dc23f2ce18-20260918RZF08.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/b59aac872dec155c14479a9ab35b7bff-20260918RZF07.jpg)
Di atas gua-gua tersebut, sisa puing-puing dari dua rumahnya masih berserakan, tiga tahun setelah tentara Israel merobohkannya.
Di sebuah punggung bukit yang berjarak sekitar 300 meter, bendera Israel, lampu sorot, dan pagar menandai keberadaan permukiman Israel, Avigayil. Amr mengatakan bahwa sebagian penghuni permukiman itu kerap mempersulit kehidupan keluarganya melalui aksi pencurian dan sesekali serangan.
Masafer Yatta, sebuah wilayah yang terletak di wilayah selatan Tepi Barat, dikenal sering mengalami pembongkaran rumah serta ketegangan antara warga Palestina setempat dan para pemukim Israel. Wilayah berbukit dan semi-gersang ini hampir seluruhnya berada di bawah kendali Israel menurut Perjanjian Oslo tahun 1990-an. Lokasi ini menjadi sorotan dunia setelah diangkat dalam film dokumenter pemenang Oscar tahun 2024 berjudul "No Other Land".
Meski ruang hidup mereka kian menyempit, warga setempat menyebut ikatan keluarga dan komunitas sebagai alasan mereka mampu bertahan di tanah mereka setelah rumah-rumah mereka dirobohkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/d733e4360602b6f337cfffdc7a67a80b-20260918RZF22X.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/2904ce3dd993b19f5cc8602f8cbbdf93-20260918RZF21X.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/8087d5b2d1056c62bc8047c6dd5314d4-000_C8GF2N6.jpg)
Anak-anak Amr bermain di luar gua yang telah diubah keluarganya menjadi tempat tinggal di Desa Al-Tuwani, Masafer Yatta, Tepi Barat.
AFP/JOHN WESSELS
Setelah rumahnya dihancurkan oleh pasukan Israel pada tahun 2023, Mohammed Fadel Amr berlindung di dalam gua bersama kedua istrinya, Fatma Amr dan Arwa Amr, serta kesebelas anak mereka.
AFP/JOHN WESSELS
Fatima Amr memanggang kue di dalam gua yang telah diubah menjadi tempat tinggal di Desa Al-Tuwani, Masafer Yatta, Tepi Barat.
AFP/JOHN WESSELS
"Setiap kali ada yang kehilangan rumah akibat pembongkaran, tetangga dan keluarga datang membantu mereka membangun tempat tinggal baru. Fakta bahwa kami semua tinggal berdekatan sangatlah membantu," ujar Amr.
Fatima Amr, istri Mohammed Amr mengatakan bahwa keluarga mereka awalnya mendirikan tenda setelah rumah yang mereka bangun pada tahun 2023 dihancurkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/51bd3ae9a746e7b203f12b9afb9556b6-20260918RZF11.jpg)
"Sekarang, kami berlindung di dalam gua. Karena gua itu sudah ada sejak zaman dahulu, mereka tidak bisa merobohkannya, dan (pihak militer) mengizinkan kami tinggal di sana," tuturnya.
Militer membenarkan tindakan pembongkaran rumah dengan alasan bahwa bangunan tersebut ilegal di wilayah yang berada di bawah kendali Israel. Warga Palestina mengeluhkan bahwa permohonan izin mereka hampir selalu ditolak secara sistematis.
Selain menimpa keluarga Amr, Israel juga kerap menghancurkan rumah warga Palestina lainnya sebagai hukuman bagi keluarga yang terlibat dalam serangan. Amr berharap sekitar 1.100 penduduk Palestina di wilayah tersebut suatu hari nanti dapat hidup dengan aman di dalam rumah yang layak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/8247f51fdda9a3cd4962ad97c6b2577c-20260918RZF20.jpg)
"Di saat dunia terus melangkah maju, kami di sini, di Palestina, tepatnya di Masafer Yatta justru mengalami kemunduran," pungkas Amr. (AFP)
Penulis:
Riza FathoniEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Retma Wati