Selain masih menghadapi masalah soal gula yang menumpuk lantaran serapan sepi, petani juga menghadapi harga tebu yang tak setinggi tahun sebelumnya.
19 Agt 2025 17:57 WIB · Ekonomi & Bisnis
MALANG, KOMPAS — Stok gula petani masih menumpuk di gudang sejumlah pabrik gula di Jawa Timur. Rembesan gula rafinasi diduga menjadi penyebab rendahnya serapan gula tersebut.
Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M Arum Sabil, Selasa (19/8/2025), melalui sambungan telepon mengatakan stok yang masih numpuk sekitar 70.000 ton lebih.
Beberapa pekan terakhir serapan gula petani pada musim giling tahun ini memang sepi. Sejak pekan kedua Juli, tidak banyak pedagang yang mengikuti lelang. Rembesan gula rafinasi ke pasar gula konsumsi diduga menjadi penyebab.
Menurut Arum Sabil, selama ini Jatim memproduksi 1,2 juta ton gula per tahun atau sekitar 240.000 ton per bulan. Sebagian besar gula itu milik petani. Gula itu diproduksi dalam jangka waktu lima bulan, sejak pertengahan Juni sampai pertengahan November.
Adapun kebutuhan gula konsumsi di Jatim mencapai 360.000 ton per tahun atau 30.000 ton per bulan. Karena itu, saat musim panen, terdapat kelebihan 190.000 ton per bulan. Sisa di atas kemudian disalurkan keluar daerah, meliputi Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah timur Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/19/31413cea96a9910cde7a408b8731dfde-20250819wer1.jpg)
Namun, saat ini, lanjut Arum, terjadi rembesan gula rafinasi besar-besaran di luar Jawa Timur. ”Dipicu oleh banyaknya izin impor gula mentah yang tidak memperhatikan kondisi pemakaian gula rafinasi yang menurun di industri makanan-minuman,” ucapnya.
Saat ini Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyurati 166 perusahaan swasta, perusahaan milik negara, dan koperasi untuk menyerap gula petani. Bapanas juga tengah mengusahakan pencairan dana serapan gula senilai Rp 1,5 triliun dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk ID Food (Kompas.id/15/8/2025).
Namun, menurut Arum, Bapanas tidak cukup hanya bersurat. Pedagang, menurut dia, tidak akan membeli jika dampak psikologis pasar belum terbangun dengan baik.
”Sekarang surat Bapanas kira-kira apa yang bisa memberikan kekuatan ke pedagang untuk membelinya? Bapanas mustinya langsung membeli gula petani, bukan berkirim surat agar perusahaan lain yang membeli. Baru nanti pasar secara psikologis menjadi positif. Sekarang, pedagang takut beli,” ucapnya.
Untuk bisa mengembalikan pasar gula konsumsi seperti semula, menurut Arum Sabil, perlu dilakukan audit investigasi yang melacak arah pabrik-pabrik rafinasi tersebut menjual gulanya. Selain itu pemerintah juga perlu mengurangi impor gula mentah bahan baku pabrik rafinasi.
Yang juga tak kalah penting, lanjutnya, pemerintah harus menegakkan aturan dengan melarang rafinasi beredar di pasar-pasar tradisional dan modern di luar wilayah Jatim dengan modus memakai berbagai macam koperasi abal-abal mengatasnamakan usaha mikro, kecil, dan menengah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/19/e7a05555e53431bd9bb7f0dbd6aa1c7b-20250819wer4.jpg)
Sementara itu, di lapangan, harga tebu di tingkat petani dalam beberapa pekan terakhir juga anjlok. Petani menilai turunnya harga tebu terkait dengan sepinya daya serap pedagang terhadap gula akhir-akhir ini. Selain itu, tingkat rendemen akibat kemarau basah juga ikut berpengaruh.
Budi (45), salah satu petani yang tengah memanen tebu di wilayah Desa Dengkol, Kecamataan Singosari, mengatakan, dua pabrik gula (PG) di Kabupaten Malang, yakni PG Kebonagung dan Krebet, saat ini membeli tebu dari petani seharga Rp 75.000 per kuintal. Untuk mendapatkan harga lebih, Budi mengirim ke Pabrik Krembung di Sidoarjo yang membeli seharga Rp 82.000 per kuintal.
”Ini pun sudah turun harganya. Tadinya, awal Agustus masih Rp 88.000 per kuintal. Alasannya rendemen turun. Kalau soal serapan pedagang terhadap gula sepi yang ikut memengaruhi harga, kami tida tahu itu,” ucapnya.
Budi pun membandingkan harga tebu pada tahun ini dengan musim panen 2024. Saat itu harga tebu petani tembus Rp 115.000 per kuintal. Saat ini kondisinya sama dengan waktu pandemi Covid-19. ”Kalau jual gampang, tidak sulit. Tapi, ya, itu harganya anjlok,” ucapnya.
Hal senada disampaikan M Nasir, petani tebu di daerah Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Harga jual tebu ini hanya selisih sedikit dengan biaya produksi yang berada di atas Rp 60.000 per kuintal. Idealnya harga di atas Rp 80.000 per kuintal.
”Kalau Rp 75.000-Rp 76.000 itu nunggu setahun, masa cuman dapat segitu. Kalau di awal giling masih mendingan, dapat Rp 85.000-Rp 90.000 petani masih untung, menutup biaya produksi. Kalau sekarang, puk tok wis (impas). Kalau tebang sendiri, masih berlangsung. Kalau tidak ditebang, malah tidak balik modalnya,” tuturnya.
Penulis:
Defri WerdionoEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto