WASHINGTON, SELASA - Selain sekolah dasar di Minab, serangan Amerika Serikat diduga juga telah menyasar anak-anak sekolah lain di Iran. Serangan itu menewaskan 21 orang, termasuk 18 anggota bola voli putri dan anak-anak berusia sekitar 12 tahun.
Dugaan ini menguat setelah pemeriksaan video serangan itu mengindikasikan rudal yang digunakan berjenis PrSM, senjata baru AS yang baru pertama kali digunakan. Serangan itu menghantam permukiman warga, gedung olahraga, dan sekolah dasar (SD) di kota Lamerd, Provinsi Fars, Iran selatan. Pemeriksaan video serangan itu dilakukan media AS, The New York Times, terbit Minggu (29/3/2026) dan media Inggris, BBC, terbit Sabtu (28/3/2026).
Menurut media lokal dan Pemerintah Iran, Tasnim dan Mehr, beberapa korban adalah anak-anak putri yang sedang berlatih voli. Perwakilan Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, mengatakan, saat serangan terjadi, gedung olahraga itu sedang digunakan oleh tim bola voli putri.
Ia menambahkan, serangan tersebut telah menghantam banyak pusat perkotaan di seluruh Iran. ”Agresi ini mencakup serangan dan penargetan yang disengaja terhadap warga sipil, infrastruktur sipil, dan kawasan padat penduduk, terutama di beberapa kota besar Iran,” katanya di sidang Dewan Keamanan PBB, dikutip dari televisi Pemerintah Iran, PressTV, 10 Maret 2026.
Menurut laporan PressTV, selain korban tewas, serangan itu melukai sekitar 100 orang lain. Korban termasuk para atlet peraih medali dari cabang olahraga seperti gulat, judo, dan taekwondo.
Foto dan video yang diunggah akun media sosial yang terhubung dengan sekolah itu juga menunjukkan kompleks tersebut rutin digunakan anak-anak. Di samping gedung olahraga itu terdapat kompleks Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Berdasarkan video kejadian di Lamerd, diduga setidaknya ada tiga rudal diberitakan menghantam kota berpenduduk 30.000 orang itu dalam sehari. Satu rudal lainnya diduga menghantam pusat kebudayaan di Lamerd. Namun, hal ini belum dapat diverifikasi.
Serangan ke gedung olahraga dan sekolah di Lamerd menjadi insiden fatal kedua yang menyerang anak-anak SD setelah tragedi SD Minab. Serangan di Lamerd itu terjadi pada hari pertama serangan AS dan Israel ke Iran, 28 Februari 2026, hanya beberapa jam setelah serangan yang menghantam SD Minab yang menewaskan 168 orang, termasuk 110 anak-anak. Tragedi SD Minab diduga karena hantaman Tomahawk AS.
Padahal, selama bertahun-tahun, gedung olahraga di Lamerd itu telah ditandai dengan alamat sebagai fasilitas sipil di berbagai platform peta digital, termasuk Google Maps, Apple Maps, dan Wikimapia.
Citra satelit dan gambar dari permukaan menunjukkan gedung olahraga itu hangus dan atapnya runtuh sebagian. Rekaman dari dalam sekolah memperlihatkan jendela-jendela pecah, bekas kebakaran, dan bercak darah.
Dikutip dari The New York Times, seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa rudal yang digunakan dalam serangan di Lamerd adalah PrSM (precision strike missile). Pejabat itu tidak berwenang memberikan komentar secara terbuka mengenai serangan tersebut dan berbicara dengan syarat anonim.
Pakar amunisi Frederic Gras mengatakan, video yang merekam serangan itu dengan jelas memperlihatkan ledakan di udara. Pola kerusakan akibat fragmentasinya sesuai dengan informasi teknis yang tersedia tentang PrSM.
Sejak awal serangan ke Iran, Pentagon telah menyatakan menggunakan PrSM. Namun, baru sedikit informasi PrSM yang tersedia. AS masih merahasiakan informasi teknis senjata yang diproduksi sejak 2019 itu.
”Meski kami sudah tahu PrSM ditembakkan, ini pertama kalinya kami melihat langsung bagian hulu ledak sistem itu,” kata Jeffrey Lewis, pakar nonproliferasi nuklir di Middlebury College, setelah menelaah video dan foto insiden tersebut.
Menurut Lewis, rudal yang terlihat dalam video itu juga menyerupai senjata darat AS lainnya, yakni roket berpemandu GMLRS-ER. Namun, amunisi itu hanya memiliki jangkauan 150 kilometer. Dengan perhitungan jarak itu, rudal GMLRS-ER harus ditembakkan dari dalam wilayah Iran. Hal itu sangat kecil kemungkinannya. Adapun PrSM mencapai 644 kilometer. Hitungan jarak ini memperkuat misil PrSM yang menghantam Lamerd.
Tiga analis dari perusahaan intelijen pertahanan Janes dan seorang pakar dari McKenzie Intelligence memperkuat penilaian itu. Mereka melakukan analisis bentuk dan panjang proyektil, besarnya ledakan, serta tidak terlihatnya kendali di bagian hidung.
Dikutip dari BBC, Amael Kotlarski, analis Janes mengatakan, dari ciri-ciri dan jarak luncur, PrSM kemungkinan menjadi satu-satunya amunisi dalam arsenal AS yang dapat menghantam kota itu.
Juru Bicara Komando Pusat AS Kapten Tim Hawkins mengatakan telah mengetahui laporan tersebut. ”Kami mengetahui laporan tersebut dan sedang meninjaunya. Pasukan AS tidak menargetkan warga sipil secara membabi buta, tidak seperti rezim Iran,” ucapnya, Sabtu.
PrSM dirancang untuk membunuh pasukan musuh dan menghancurkan kendaraan tanpa lapis baja. Rudal itu juga dapat meluncur dua kali lebih jauh dibandingkan rudal lain dalam arsenal Angkatan Darat AS.
Rudal ini mulai diperkenalkan hanya empat bulan setelah berakhirnya Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty) pada 2019. Pengembangan senjata itu seharusnya dilarang jika perjanjian itu masih berlaku. Sebab, perjanjian itu melarang AS dan Rusia mengerahkan rudal balistik dan rudal jelajah berbasis darat dengan jangkauan 500 hingga 5.500 kilometer.
PrSM akan menggantikan rudal ATACMS milik Angkatan Darat AS yang dikembangkan pada 1980-an. ATACMS mampu menghantam sasaran hingga sekitar 306 kilometer, setengah dari PrSM.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, insiden SD Minab sedang diselidiki. Ia menegaskan, pasukan AS tidak pernah menargetkan sasaran sipil.
Sasar nuklir iran
Sementara itu, Selasa (31/3/2026), AS terus menggempur fasilitas nuklir Iran di Isfahan. Adapun Teheran menyerang kapal tanker minyak Kuwait bermuatan penuh di Teluk Persia, dekat pantai Dubai.
Ledakan besar terlihat di langit Isfahan pada Selasa dini hari. Presiden AS Donald Trump membagikan video serangan itu. Dalam rekaman tersebut, bola api besar menerangi langit malam.
Isfahan merupakan lokasi salah satu dari tiga fasilitas yang lebih dulu diserang militer AS pada Juni. Sebagian uranium Iran yang diperkaya tinggi juga diduga disimpan atau dikubur di sana. Data satelit pelacak kebakaran milik NASA mengindikasikan ledakan terjadi dekat Gunung Soffeh, di bagian selatan kota Isfahan, Iran. Area yang diyakini memiliki posisi militer. Iran belum mengonfirmasi serangan itu.
Serangan itu terjadi setelah serangan Iran ke berbagai lokasi di negara-negara Arab Teluk. Kemarahan negara-negara Arab Teluk pun meningkat atas serangan tersebut. Menanggapi kemarahan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, Teheran hanya menargetkan pasukan AS. ”Operasi kami ditujukan kepada agresor musuh yang tidak menghormati orang Arab maupun Iran dan tidak dapat memberikan keamanan. Sudah saatnya pasukan AS diusir,” katanya di X.
Serangan ke sasaran sipil tetap terjadi. Menurut kantor media Dubai, sebuah pesawat nirawak Iran menghantam kapal tanker minyak Kuwait di perairan Dubai dan memicu kebakaran. Api kemudian berhasil dipadamkan. Empat orang di Dubai juga terluka tertimpa puing dari pesawat nirawak yang jatuh ke kawasan permukiman. Di Bahrain, sirene serangan udara juga berbunyi.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan, pihaknya mencegat tiga rudal balistik yang diluncurkan ke arah Riyadh. Puing pesawat nirawak yang dicegat di tenggara ibu kota juga menyebabkan kerusakan ringan pada enam rumah. Sirene juga terdengar di Jerusalem. Ledakan keras menyusul tidak lama setelah militer Israel memperingatkan adanya rentetan rudal dari Iran.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat. Sidang digelar setelah pejabat menyebut tiga penjaga perdamaian asal Indonesia tewas di Lebanon selatan tewas dalam waktu kurang dari 24 jam. Di Iran, otoritas mengatakan lebih dari 1.900 orang tewas. Di Israel, 19 orang dilaporkan meninggal.
Lebih dari 20 orang tewas di negara-negara Teluk dan Tepi Barat yang diduduki. Di Lebanon, pejabat mengatakan lebih dari 1.200 orang tewas dan lebih dari 1 juta orang mengungsi.
Sepuluh tentara Israel tewas di Lebanon, termasuk empat yang diumumkan pada Selasa. Sebanyak 13 personel militer AS juga tewas dalam perang ini.
Harga spot minyak Brent, patokan internasional, bergerak di kisaran 107 dolar AS per barel pada awal perdagangan. Angka itu naik lebih dari 45 persen sejak perang pecah pada 28 Februari 2026.
Cengkeraman Iran atas Selat Hormuz turut memperparah gejolak pasar. Pada masa damai, sekitar seperlima minyak dunia melewati jalur keluar dari Teluk Persia itu. Serangan Iran ke infrastruktur energi di kawasan Teluk juga ikut mendorong kenaikan harga minyak global. (AP)
WASHINGTON, SELASA - Selain sekolah dasar di Minab, serangan Amerika Serikat diduga juga telah menyasar anak-anak sekolah lain di Iran. Serangan itu menewaskan 21 orang, termasuk 18 anggota bola voli putri dan anak-anak berusia sekitar 12 tahun.
Dugaan ini menguat setelah pemeriksaan video serangan itu mengindikasikan rudal yang digunakan berjenis PrSM, senjata baru AS yang baru pertama kali digunakan. Serangan itu menghantam permukiman warga, gedung olahraga, dan sekolah dasar (SD) di kota Lamerd, Provinsi Fars, Iran selatan. Pemeriksaan video serangan itu dilakukan media AS, The New York Times, terbit Minggu (29/3/2026) dan media Inggris, BBC, terbit Sabtu (28/3/2026).
Serial Artikel
Tragedi SD Minab dan Etika AI di Perang Iran
Dua peristiwa itu memunculkan pertanyaan. Jika AI yang digadang-gadang sangat presisi itu dipakai, mengapa ada SD menjadi sasaran?
Menurut media lokal dan Pemerintah Iran, Tasnim dan Mehr, beberapa korban adalah anak-anak putri yang sedang berlatih voli. Perwakilan Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, mengatakan, saat serangan terjadi, gedung olahraga itu sedang digunakan oleh tim bola voli putri.
Ia menambahkan, serangan tersebut telah menghantam banyak pusat perkotaan di seluruh Iran. ”Agresi ini mencakup serangan dan penargetan yang disengaja terhadap warga sipil, infrastruktur sipil, dan kawasan padat penduduk, terutama di beberapa kota besar Iran,” katanya di sidang Dewan Keamanan PBB, dikutip dari televisi Pemerintah Iran, PressTV, 10 Maret 2026.
Menurut laporan PressTV, selain korban tewas, serangan itu melukai sekitar 100 orang lain. Korban termasuk para atlet peraih medali dari cabang olahraga seperti gulat, judo, dan taekwondo.
Foto dan video yang diunggah akun media sosial yang terhubung dengan sekolah itu juga menunjukkan kompleks tersebut rutin digunakan anak-anak. Di samping gedung olahraga itu terdapat kompleks Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Berdasarkan video kejadian di Lamerd, diduga setidaknya ada tiga rudal diberitakan menghantam kota berpenduduk 30.000 orang itu dalam sehari. Satu rudal lainnya diduga menghantam pusat kebudayaan di Lamerd. Namun, hal ini belum dapat diverifikasi.
Serangan ke gedung olahraga dan sekolah di Lamerd menjadi insiden fatal kedua yang menyerang anak-anak SD setelah tragedi SD Minab. Serangan di Lamerd itu terjadi pada hari pertama serangan AS dan Israel ke Iran, 28 Februari 2026, hanya beberapa jam setelah serangan yang menghantam SD Minab yang menewaskan 168 orang, termasuk 110 anak-anak. Tragedi SD Minab diduga karena hantaman Tomahawk AS.
Padahal, selama bertahun-tahun, gedung olahraga di Lamerd itu telah ditandai dengan alamat sebagai fasilitas sipil di berbagai platform peta digital, termasuk Google Maps, Apple Maps, dan Wikimapia.
Citra satelit dan gambar dari permukaan menunjukkan gedung olahraga itu hangus dan atapnya runtuh sebagian. Rekaman dari dalam sekolah memperlihatkan jendela-jendela pecah, bekas kebakaran, dan bercak darah.
Dikutip dari The New York Times, seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa rudal yang digunakan dalam serangan di Lamerd adalah PrSM (precision strike missile). Pejabat itu tidak berwenang memberikan komentar secara terbuka mengenai serangan tersebut dan berbicara dengan syarat anonim.
Pakar amunisi Frederic Gras mengatakan, video yang merekam serangan itu dengan jelas memperlihatkan ledakan di udara. Pola kerusakan akibat fragmentasinya sesuai dengan informasi teknis yang tersedia tentang PrSM.
Sejak awal serangan ke Iran, Pentagon telah menyatakan menggunakan PrSM. Namun, baru sedikit informasi PrSM yang tersedia. AS masih merahasiakan informasi teknis senjata yang diproduksi sejak 2019 itu.
”Meski kami sudah tahu PrSM ditembakkan, ini pertama kalinya kami melihat langsung bagian hulu ledak sistem itu,” kata Jeffrey Lewis, pakar nonproliferasi nuklir di Middlebury College, setelah menelaah video dan foto insiden tersebut.
Menurut Lewis, rudal yang terlihat dalam video itu juga menyerupai senjata darat AS lainnya, yakni roket berpemandu GMLRS-ER. Namun, amunisi itu hanya memiliki jangkauan 150 kilometer. Dengan perhitungan jarak itu, rudal GMLRS-ER harus ditembakkan dari dalam wilayah Iran. Hal itu sangat kecil kemungkinannya. Adapun PrSM mencapai 644 kilometer. Hitungan jarak ini memperkuat misil PrSM yang menghantam Lamerd.
Tiga analis dari perusahaan intelijen pertahanan Janes dan seorang pakar dari McKenzie Intelligence memperkuat penilaian itu. Mereka melakukan analisis bentuk dan panjang proyektil, besarnya ledakan, serta tidak terlihatnya kendali di bagian hidung.
Dikutip dari BBC, Amael Kotlarski, analis Janes mengatakan, dari ciri-ciri dan jarak luncur, PrSM kemungkinan menjadi satu-satunya amunisi dalam arsenal AS yang dapat menghantam kota itu.
Juru Bicara Komando Pusat AS Kapten Tim Hawkins mengatakan telah mengetahui laporan tersebut. ”Kami mengetahui laporan tersebut dan sedang meninjaunya. Pasukan AS tidak menargetkan warga sipil secara membabi buta, tidak seperti rezim Iran,” ucapnya, Sabtu.
PrSM dirancang untuk membunuh pasukan musuh dan menghancurkan kendaraan tanpa lapis baja. Rudal itu juga dapat meluncur dua kali lebih jauh dibandingkan rudal lain dalam arsenal Angkatan Darat AS.
Rudal ini mulai diperkenalkan hanya empat bulan setelah berakhirnya Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty) pada 2019. Pengembangan senjata itu seharusnya dilarang jika perjanjian itu masih berlaku. Sebab, perjanjian itu melarang AS dan Rusia mengerahkan rudal balistik dan rudal jelajah berbasis darat dengan jangkauan 500 hingga 5.500 kilometer.
Serial Artikel
Debut Dua Rudal dalam Serangan AS-Israel ke Iran
Rudal PrSM buatan AS untuk menyerang Iran. Arhanud Cheongung-II dari Korsel untuk mencegat pembalasan Iran.
PrSM akan menggantikan rudal ATACMS milik Angkatan Darat AS yang dikembangkan pada 1980-an. ATACMS mampu menghantam sasaran hingga sekitar 306 kilometer, setengah dari PrSM.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, insiden SD Minab sedang diselidiki. Ia menegaskan, pasukan AS tidak pernah menargetkan sasaran sipil.
Sasar nuklir iran
Sementara itu, Selasa (31/3/2026), AS terus menggempur fasilitas nuklir Iran di Isfahan. Adapun Teheran menyerang kapal tanker minyak Kuwait bermuatan penuh di Teluk Persia, dekat pantai Dubai.
Ledakan besar terlihat di langit Isfahan pada Selasa dini hari. Presiden AS Donald Trump membagikan video serangan itu. Dalam rekaman tersebut, bola api besar menerangi langit malam.
Isfahan merupakan lokasi salah satu dari tiga fasilitas yang lebih dulu diserang militer AS pada Juni. Sebagian uranium Iran yang diperkaya tinggi juga diduga disimpan atau dikubur di sana. Data satelit pelacak kebakaran milik NASA mengindikasikan ledakan terjadi dekat Gunung Soffeh, di bagian selatan kota Isfahan, Iran. Area yang diyakini memiliki posisi militer. Iran belum mengonfirmasi serangan itu.
Serangan itu terjadi setelah serangan Iran ke berbagai lokasi di negara-negara Arab Teluk. Kemarahan negara-negara Arab Teluk pun meningkat atas serangan tersebut. Menanggapi kemarahan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, Teheran hanya menargetkan pasukan AS. ”Operasi kami ditujukan kepada agresor musuh yang tidak menghormati orang Arab maupun Iran dan tidak dapat memberikan keamanan. Sudah saatnya pasukan AS diusir,” katanya di X.
Serangan ke sasaran sipil tetap terjadi. Menurut kantor media Dubai, sebuah pesawat nirawak Iran menghantam kapal tanker minyak Kuwait di perairan Dubai dan memicu kebakaran. Api kemudian berhasil dipadamkan. Empat orang di Dubai juga terluka tertimpa puing dari pesawat nirawak yang jatuh ke kawasan permukiman. Di Bahrain, sirene serangan udara juga berbunyi.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan, pihaknya mencegat tiga rudal balistik yang diluncurkan ke arah Riyadh. Puing pesawat nirawak yang dicegat di tenggara ibu kota juga menyebabkan kerusakan ringan pada enam rumah. Sirene juga terdengar di Jerusalem. Ledakan keras menyusul tidak lama setelah militer Israel memperingatkan adanya rentetan rudal dari Iran.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat. Sidang digelar setelah pejabat menyebut tiga penjaga perdamaian asal Indonesia tewas di Lebanon selatan tewas dalam waktu kurang dari 24 jam. Di Iran, otoritas mengatakan lebih dari 1.900 orang tewas. Di Israel, 19 orang dilaporkan meninggal.
Serial Artikel
Prajurit TNI Tewas di Lebanon, Saatnya Keluar dari Dewan Perdamaian Trump
Pemerintah perlu mengambil sikap tegas. Bukan hanya berupa kecaman terhadap Israel, melainkan juga langkah konkret untuk keluar dari Dewan Perdamaian bentukan Trump.
Lebih dari 20 orang tewas di negara-negara Teluk dan Tepi Barat yang diduduki. Di Lebanon, pejabat mengatakan lebih dari 1.200 orang tewas dan lebih dari 1 juta orang mengungsi.
Sepuluh tentara Israel tewas di Lebanon, termasuk empat yang diumumkan pada Selasa. Sebanyak 13 personel militer AS juga tewas dalam perang ini.
Harga spot minyak Brent, patokan internasional, bergerak di kisaran 107 dolar AS per barel pada awal perdagangan. Angka itu naik lebih dari 45 persen sejak perang pecah pada 28 Februari 2026.
Cengkeraman Iran atas Selat Hormuz turut memperparah gejolak pasar. Pada masa damai, sekitar seperlima minyak dunia melewati jalur keluar dari Teluk Persia itu. Serangan Iran ke infrastruktur energi di kawasan Teluk juga ikut mendorong kenaikan harga minyak global. (AP)