Sebagai pendidik, peran guru sangat vital untuk menanamkan nilai-nilai kesetaraan jender yang dicita-citakan RA Kartini kepada murid-muridnya.
22 Apr 2025 10:39 WIB · Humaniora
Raden Ajeng Kartini bukan hanya seorang perempuan pahlawan dengan surat-suratnya yang menggugah, tetapi juga seorang pelopor dalam perjuangan emansipasi wanita di Indonesia. Semangat Kartini yang menuntut pendidikan bagi perempuan dan mengupayakan kesetaraan jender masih sangat relevan untuk diteruskan, terutama di kalangan pendidik.
Wardiman Djojonegoro yang menulis buku Trilogi Kartini menilai, surat-surat Kartini masih sangat relevan dengan kondisi perempuan Indonesia hari ini. Perjuangan untuk menggapai kesetaraan jender belum sepenuhnya tercapai.
Hal ini tecermin dalam Global Gender Gap Report yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) tahun 2024, di mana Indonesia masih berada di peringkat ketujuh ASEAN sekaligus ke-100 global dengan indeks kesetaraan jender di angka 0,686. Nilai ini bahkan menurun 0,011 poin dari tahun 2023 yang semula berada di angka 0,697.
”Masih banyak hal yang memberatkan perempuan untuk maju di Indonesia,” kata Wardiman dalam diskusi yang digelar Yayasan Cahaya Guru secara daring, Senin (21/4/2025).
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1993–1998) ini mencontohkan, lapangan pekerjaan masih didominasi oleh laki-laki. Walaupun bekerja, perempuan pun masih jarang yang posisi atau jabatan dan pendapatannya bisa melebihi laki-laki.
Hal-hal baik Kartini sayang sekali mulai lenyap dari lingkungan kita.
Oleh karena itu, dia mendorong guru dan tenaga pendidik untuk terus menanamkan semangat Kartini pada setiap generasi muda masa kini dan masa depan. Dengan peran guru dan tenaga pendidik, masyarakat luas bisa lebih mengerti tentang pentingnya kesetaraan jender yang diupayakan Kartini.
”Agar perempuan yang merupakan setengah dari populasi Indonesia bisa ikut berpartisipasi penuh dalam pembangunan Indonesia,” ucapnya.
Ketua Dewan Pengurus Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo Sitepu menambahkan, kondisi perempuan hari ini masih belum setara. Di era digital dan globalisasi, masalah kesetaraan jender tak hanya sebatas akses pendidikan, tetapi juga berkaitan dengan kesempatan yang sama dalam bidang profesi, ekonomi, politik, hingga teknologi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/14/40c1cc88-e08e-4188-8c98-52434c546d62_jpeg.jpg)
Di sinilah peran guru sangat vital. Sebagai pendidik, guru memiliki kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai kesetaraan jender sejak dini kepada siswa. Guru bukan hanya sebagai pengajar materi pelajaran, melainkan juga sebagai pembentuk karakter dan nilai sosial yang akan dibawa siswa sepanjang hidup mereka.
”Hal-hal baik Kartini sayang sekali mulai lenyap dari lingkungan kita. Ini membutuhkan suara-suara dan kekuatan guru untuk bisa mempertahankannya,” tutur Henny.
Henny menegaskan bahwa peran guru tidak terbatas pada pembelajaran akademis, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial. Kartini menyadari betapa pentingnya pendidikan untuk perempuan dalam membebaskan mereka dari belenggu ketidaksetaraan.
Guru bisa menjadi pembawa semangat Kartini dengan memberikan pengajaran yang tidak memandang jender dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua siswa untuk mengembangkan potensi mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/eeae9ffa-ba8b-46a0-8fc3-6b4eb2e96242_jpg.jpg)
Hasprina Resmaniar Boru Mangoensong sebagai guru Seni, SMK Negeri Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, berbagi pengalamannya dalam menanamkan nilai kesetaraan jender kepada murid-muridnya di kelas. Sejak awal memulai kelas, dia selalu menekankan bahwa seni tari bukan hanya untuk perempuan.
Tidak mudah bagi Hasprina untuk bisa mengajak murid laki-laki sepenuh hati menari. Sebab, lingkungan sosial yang dibentuk berpuluh-puluh tahun, bahkan tersistemik melalui aturan-aturan pemerintah, kian mengentalkan stigma bahwa menari hanya untuk perempuan.
”Perspektif anak-anak itu sudah tertanam bahwa menari itu hanya untuk perempuan. Jadi, sebelum belajar, saya membentuk kesetaraan jendernya dulu. Saya jelaskan dulu sejarah tari. Banyak tari tradisional yang menari laki-laki,” kata Hasprina.
Sebagai guru, Hasprina berharap kesetaraan jender tidak hanya diperjuangkan oleh segelintir orang. Setiap orang, bahkan pemerintah, wajib bersama-sama mewujudkan cita-cita Kartini agar pemberian gelar pahlawan nasional kepadanya tidak sekadar penghormatan.
Jika konsep kesetaraan jender dan emansipasi wanita diperkenalkan dengan baik dalam kurikulum pendidikan, generasi berikutnya akan tumbuh dengan pemahaman yang lebih luas tentang pentingnya hak yang setara antara pria dan wanita.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Nasrullah NaraPenyelaras Bahasa:
Nur Adji