Untuk mencapai swasembada gula konsumsi dan industri paling lambat 2028, Indonesia setidaknya harus menambah produksi gula sebanyak 5,6 juta ton.
10 Jul 2025 09:08 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kisah cadangan pangan pemerintah memasuki babak baru. Habis memperkuat cadangan beras, pemerintah memperkokoh cadangan gula. Badan usaha milik negara di bidang pangan menjadi ujung tombaknya.
Per 7 Juli 2025, cadangan beras pemerintah (CBP) di Perum Bulog telah mencapai 4,2 juta ton. Untuk merealisasikannya, pemerintah memperkuat permodalan Bulog dengan dana Rp 16,5 triliun melalui mekanisme operator investasi pemerintah (OIP).
Dengan CBP sebanyak itu, pemerintah dapat sewaktu-waktu mengintervensi pasar ketika terjadi kenaikan harga beras. Pada medio 2025, misalnya. Kenaikan harga beras terjadi di kala produksi beras nasional dan CBP berlimpah.
Untuk meredam kenaikan harga beras itu, pemerintah menggulirkan dua program. Pertama, pemerintah akan megguyur pasar dengan 1,318 juta ton beras secara bertahap melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Kedua, pemerintah mulai menyalurkan bantuan beras bagi 18,3 juta keluarga berpenghasilan rendah. Setiap keluarga akan mendapatkan 20 kilogram (kg) beras untuk dua bulan sekaligus, yakni Juni dan Juli 2025.
Di tengah upaya meredam kenaikan harga beras, harga gula merangkak naik. Berdasarkan data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), per 9 Juli 2025, harga rerata nasional gula konsumsi di tingkat konsumen Rp 18.337 per kg. Harga gula tersebut 4,78 persen di atas harga acuan penjualan (HAP) gula di tingkat konsumen yang ditetapkan pemerintah Rp 17.500 per kg.
Tidak seperti beras, cadangan gula pemerintah (CGP) tidak banyak. Per 1 Juli 2025, CGP hanya sebanyak 46.000 ton. CGP itu dikelola Bulog dan ID Food masing-masing sebanyak 6.000 ton dan 40.000 ton.
CGP itu terlalu sedikit untuk meredam kenaikan harga gula. Ini mengingat kebutuhan gula konsumsi secara nasional sebanyak 230.000-250.000 per bulan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/10/b75c24e3-55c0-4a6a-b587-64d2a642fd74_jpg.jpg)
Oleh karena itu, pemerintah berupaya memperkuat CGP sekaligus menyejahterakan petani. Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menggulirkan rencana itu dalam Sarasehan Kemitraaan Gula Nasional 2025 di Jakarta pada 2 Juli 2025.
Merujuk Proyeksi Neraca Gula Konsumsi yang disusun Bapanas, Arief mengatakan, puncak musim giling tebu atau produksi gula pada 2025 diperkirakan terjadi pada Juli dan Agustus. Potensi produksi gula konsumsi pada Juli 2025 sebanyak 602.200 ton dan pada Agustus 2025 sebanyak 615.400 ton.
Kemudian pada September 2025, produksi gula tersebut diperkirakan turun menjadi 500.800 ton. Untuk itu, pelaku usaha swasta dan badan usaha milik negara (BUMN) pangan diharapkan dapat menyerap gula petani minimal Rp 14.500 per kg.
”Khusus BUMN pangan, serapan gula petani diperlukan untuk CGP. Dananya sedang disiapkan, yakni sebesar Rp 1,5 triliun,” ujarnya.
Dalam Food Outlook Edisi Juni 2025, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan produksi gula Indonesia pada 2025 mencapai 2,6 juta ton. Produksi gula Indonesia tersebut masih kalah jauh dari Thailand yang sebanyak 10 juta ton. Namun, Indonesia masih unggul dari Filipina dan Vietnam yang produksi gulanya masing-masing 1,8 juta ton dan 1,1 juta ton.
Sementara Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan, produksi gula nasional pada 2025 sebanyak 2,9 juta ton. Perkiraan produksi gula tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi produksi gula pada 2024 dan 2023 yang masing-masing sebanyak 2,46 juta ton dan 2,27 juta ton.
Untuk menopang kebutuhan gula nasional, pemerintah mempercepat tercapainya swasembada gula konsumsi dari 2028 menjadi 2026. Pemerintah juga mengakselerasi target tercapainya swasembada gula industri dari 2030 menjadi 2027 atau paling lambat 2028.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuturkan, sebenarnya, Kementan telah memiliki Peta Jalan Swasembada Gula Nasional. Dalam peta jalan itu, swasembada gula konsumsi nasional ditargetkan tercapai pada 2028, sedangkan swasembada gula industri dan bioetanol pada 2030.
”Namun, Presiden Prabowo Subianto meminta target swasembada gula konsumsi dipercepat menjadi tahun depan (2026). Kemudian pada 2027, paling lambat 2028, target swasembada gula industri juga diharapkan dapat tercapai,” tuturnya melalui siaran pers, Selasa (8/7/2025).
Untuk itu, pemerintah bakal menggulirkan sejumlah strategi. Pertama, Kementan akan meremajakan sekitar 500.000 hektar tanaman tebu petani melalui program Bongkar Ratun.
Presiden Prabowo Subianto meminta target swasembada gula konsumsi dipercepat menjadi tahun depan (2026). Kemudian pada 2027, paling lambat 2028, target swasembada gula industri juga diharapkan dapat tercapai.
Kementan mencatat, pada 2024, Indonesia memiliki 796.621 petani tebu yang mengelola 520.823 hektar tebu. Dari total luas lahan itu, seluas 83,5 persen lahan tebu berada di Jawa. Mayoritas tanaman tebu tersebut sudah lama tidak diremajakan.
”Bongkar ratun tanaman tebu itu akan dilakukan secara bertahap dalam tiga tahun. Dengan bongkar ratun itu, produksi tebu dapat meningkat hingga 15,5 juta ton per hektar. Rendemen tebu minimal juga dapat meningkat dari 7,29 persen menjadi 7,65 persen,” kata Amran.
Kedua, pemerintah melalui BUMN menggulirkan skema baru Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi petani tebu. Melalui skema baru itu, petani dapat mengajukan KUR senilai Rp 500 juta tanpa akumulasi pinjaman. Dahulu, setelah pinjaman terakumulasi hingga Rp 500 juta, petani harus beralih ke pinjaman komersial.
KUR tersebut dapat diajukan petani perorangan atau kelompok tani dengan komitmen pembelian dari pabrik gula milik negara, termasuk SugarCo atau PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). Bunga KUR tersebut sebesar 6 persen.
Ketiga, Kementan bersama pemangku kepentingan terkait juga akan mengembangkan varietas-varietas tebu unggulan. Pada 16 Juni 2025, misalnya, Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) dan Tim Penilai Varietas Tanaman Perkebunan Kementan melepas dua varietas tebu unggul, yakni SGN 01 dan Panjalu 01.
SGN 01 merupakan varietas tebu yang dikembangkan dan diusulkan PT SGN. Adapun Panjalu 01 dihasilkan dan diusulkan oleh Pemerintah Kabupaten Kediri bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya.
Varietas SGN 01 dapat menjadi alternatif varietas masak tengah lambat yang memiliki potensi produktivitas tinggi. Potensi produktivitas tebu varietas tersebut mencapai 120 ton per hektar dengan rendemen di atas 10 persen.
Sementara varietas Panjalu 01 menjadi alternatif varietas dengan kemasakan lambat yang memiliki produktivitas tinggi. Potensi produktivitas varietas tersebut diklaim 20 persen lebih tinggi dari produktivitas kebanyakan tanaman tebu saat ini.
Direktur Tanaman Semusin dan Tahunan Ditjenbun Kementan Baginda Siagian mengemukakan, varietas-varietas unggul tebu perlu terus dikembangkan untuk mencapai target swasembada gula. Hingga kini, telah ada 117 varietas unggul tebu yang dilepas Kementan, tetapi adopsinya ditingkat petani masih rendah.
”Petani gemar menggunakan varietas Bululawang (BL). Produktivitas tebu tersebut sebanyak 70 ton per hektar dengan rerata rendemen 7 persen. Untuk mencapai target swasembada gula, setidaknya dibutuhkan varietas unggul tebu di dengan produktivitas di atas 100 ton dan rerata rendemen 8 persen,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/11/3ee13fcf-73cf-4ae8-934b-e183ddf6824e_jpg.jpg)
Kementan mencatat, dalam setahun, kebutuhan gula nasional sebanyak 8,1 juta ton. Kebutuhan gula itu terdiri dari gula konsumsi sebanyak 3,4 juta ton dan gula industri 4,7 juta ton. Dengan rerata produksi gula nasional 2,5 juta ton, berarti Indonesia harus menutup kekurangannya sekitar 5,6 juta ton melalui impor.
Untuk mencapai target swasembada gula konsumsi pada 2026, Indonesia setidaknya harus menambah produksi gula minimal sebanyak 900.000 ton. Adapun untuk mencapai target gula konsumsi dan industri paling lambat 2028, Indonesia harus menambah produksi gula minimal 5,6 juta ton. Mari kita tunggu realisasinya.
Penulis:
HENDRIYO WIDIEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase