”Hacker” Pro-Iran Serang Situs Penting AS, Ancaman Perang Siber Meningkat

Perang Iran melawan AS dan Israel menjalar ke jagat maya. Peretas pro-Iran menyerang situs-situs penting AS dan kamera pemantau Israel.

13 Mar 2026 10:30 WIB · Internasional

KOMPAS

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

WASHINGTON, JUMAT — Peretas (hacker) pro-Iran menyerang situs penting Amerika Serikat dan kamera pemantau Israel. Aksi ini meningkatkan risiko serangan siber di antara kedua pihak. Perang tak cuma terjadi di dunia nyata, tetapi juga di jagat maya.

Laporan kantor berita Associated Press, Jumat (13/3/2026), menyebutkan, peretas pro-Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber terhadap perusahaan perangkat medis AS, Stryker, pada Kamis. Serangan ini menyebabkan gangguan dan keterbatasan akses ke sistem informasi dan aplikasi bisnis perusahaan tersebut.

Kelompok peretas yang dikenal sebagai Handala menyatakan, serangan itu sebagai pembalasan atas serangan AS yang menewaskan ratusan siswa sekolah dasar di Minab, Iran. Sekolah itu diduga diledakkan rudal Tomahawk AS. Serangan AS juga menggunakan berbagai alat kecerdasan buatan (AI).

Peti mati berisi korban anak-anak korban rudal AS-Israel pada 28 Februari di sekolah dasar anak perempuan bersiap untuk dikuburkan di Minab, Iran, Selasa, 3 Maret 2026.

Dilansir dari The Guardian, sebuah pernyataan di media sosial X yang disinyalir diunggah oleh kelompok Handala menyatakan, ”Kami mengumumkan kepada dunia bahwa sebagai balasan atas serangan brutal terhadap sekolah di Minab dan sebagai tanggapan terhadap serangan siber yang sedang berlangsung terhadap infrastruktur poros perlawanan, operasi siber besar kami telah dieksekusi dengan sukses sepenuhnya.”

Pernyataan itu juga menuding Stryker sebagai perusahaan yang berakar pada zionisme. Kelompok ini mengklaim telah menghapus ribuan sistem dan perangkat seluler serta mengekstrak sekitar 50 terabita data.

Ismael Valenzuela, ahli keamanan siber dari Arctic Wolf, mengatakan, Handala merupakan peretas yang termotivasi secara ideologis. Mencari keuntungan finansial bukanlah tujuan utama kelompok ini.

”Yang membedakan kelompok ini adalah fokusnya yang jelas pada penghancuran data daripada pemerasan finansial,” katanya.

Tampilan situs web Stryker yang memberitahukan serangan siber terhadap situs perusahaan perangkat medis Amerika Serikat tersebut, Kamis (12/3/2026).

Stryker telah mengumumkan serangan siber itu di laman resminya. Perusahaan tersebut juga memberikan beberapa panduan kepada pelanggan, salah satunya terkait dengan keamanan pengiriman data.

”Stryker sedang menanggapi gangguan jaringan global pada lingkungan Microsoft kami sebagai akibat dari serangan siber. Kami tidak menemukan indikasi adanya ransomware atau malware dan yakin insiden tersebut telah terkendali,” tulis pernyataan Stryker.

Sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, peretas pro-Iran berupaya menembus kamera pemantau di negara-negara Timur Tengah. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan target serangan rudal Iran. Selain itu, para peretas membidik fasilitas industri di Israel.

Ke depannya, serangan siber ini dapat menyasar kontraktor pertahanan AS, vendor pemerintah, dan bisnis yang bekerja sama dengan Israel. Infrastruktur penting, seperti rumah sakit, pelabuhan, instalasi pengolahan air, pembangkit listrik, dan jalur kereta api, juga berpotensi menjadi target selanjutnya.

Quote

Handala (kelompok peretas pro-Iran) merupakan peretas yang termotivasi secara ideologis. Mencari keuntungan finansial bukanlah tujuan utama kelompok ini.

Rencana serangan siber itu dibahas secara terbuka di aplikasi pesan Telegram dan forum daring lainnya. ”Pusat data perlu dihancurkan,” tulis seorang pengguna seperti yang diungkapkan oleh para peneliti di SITE Intelligence Group yang berbasis di AS.

Menciptakan kekacauan

Ini bukanlah pertama kali peretas pro-Iran menyerang AS. Dua tahun lalu, mereka menyusup ke sistem surel kampanye Presiden AS Donald Trump. Tujuannya menyebarkan data yang telah mereka curi.

Tak hanya itu, kelompok ini mencoba meretas akun Whatsapp milik Trump dan rivalnya dari Partai Demokrat saat itu, Joe Biden. Hal ini mendorong Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengeluarkan peringatan publik pada tahun lalu tentang ancaman siber Iran.

”Iran dan terutama para proksinya tidak peduli seberapa besar atau pintar Anda. Ini tentang membuat dampak, tentang menciptakan kekacauan,” kata James Turgal, Wakil Presiden Optiv, perusahaan keamanan informasi yang berbasis di Denver, AS.

Infografik Estimasi Biaya Perang Iran Membalas AS dan Israel

Iran telah berinvestasi besar-besaran dalam kemampuan siber ofensif. Negara itu juga membina hubungan dengan kelompok peretas. Mereka menargetkan sistem instalasi pengolahan air AS dan mencoba membobol jaringan yang digunakan militer dan kontraktor pertahanan.

Tujuannya melemahkan upaya perang AS dengan menaikkan biaya energi, membebani sumber daya siber, dan menyebabkan kerugian sebanyak mungkin bagi perusahaan-perusahaan AS yang bergantung pada industri pertahanan. Serangan siber ini dapat mencakup penolakan layanan di mana peretas mencoba mengganggu jaringan sehingga pengguna yang sah tidak dapat mengaksesnya. Sementara perusakan situs web dapat mencegah perusahaan berkomunikasi dengan pelanggan.

Menurut direktur perusahaan keamanan siber SentinelOne, Shaun Williams, serangan kelompok Handala tersebut tidak terlalu canggih. Namun, serangan itu tetap merugikan perusahaan atau lembaga pemerintah yang tidak dilengkapi dengan sistem keamanan siber yang mumpuni.

<p>FILE &#8211; In this Nov. 10, 2016, photo, people walk near a Microsoft office in New York.  Microsoft says Iranian hackers have posed as conference organizers in Germany and Saudi Arabia in an attempt to spy on “high-profile” people using spoofed email invitations. The tech company said Wednesday, Oct. 28, 2020, it detected attempts by the hacking group it calls Phosphorus to trick former government officials, policy experts and academics.  (AP Photo/Swayne B. Hall)</p>

”Perbarui sistem Anda. Pastikan firewall dan solusi keamanan Anda selalu diperbarui. Hapus akun yang sudah tidak aktif. Semua tindakan pencegahan siber yang seharusnya Anda lakukan kini lebih penting dari sebelumnya. Bersiaplah menghadapi gangguan,” ujar mantan petugas FBI dan CIA itu.

Para peneliti di perusahaan keamanan siber CrowdStrike mendeteksi lonjakan aktivitas dari peretas Rusia yang mendukung Iran sejak perang dimulai. Kelompok yang dikenal sebagai Z-Pentest mengklaim bertanggung jawab atas gangguan beberapa jaringan di AS.

”Waktu serangan tersebut menunjukkan peretas menargetkan kepentingan AS terkait perang di Iran. Organisasi-organisasi Barat harus terus waspada,” ujar Kepala Operasional CrowdStrike Adam Meyers.

Serangan siber telah mewarnai perang Iran sebelum serangan udara gabungan perdana AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Dilansir dari BBC, kamera pemantau dan lalu lintas telah diretas oleh Israel untuk membuat jaringan pengawasan besar-besaran. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pola kehidupan Khamenei dan para pemimpin Iran sebagai persiapan untuk melakukan serangan.

”Kamera yang terhubung ke internet telah menjadi target dalam perang siber karena menawarkan kondisi situasional secara real time tentang jalanan, fasilitas, dan pergerakan dengan biaya yang sangat rendah,” kata Sergey Shykevich, pakar intelijen di perusahaan keamanan siber Check Point.

(AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W