NILAI TUKAR RUPIAH

Hadapi Tekanan Ganda, Rupiah Tembus Rp 17.300

Tekanan eksternal dan derasnya arus modal keluar telah mengerek nilai tukar rupiah hingga ke level Rp 17.300 per dolar AS.

23 Apr 2026 15:51 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp 17.300 per dolar AS, terlemah sepanjang sejarah. Meski kebijakan moneter telah diarahkan untuk menjaga stabilitas, tekanan datang dari penguatan dolar AS dan keluarnya arus modal asing seiring ketidakpastian global.

Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.304 per dolar AS pada Kamis (23/4/2026) siang. Dibanding penutupan hari sebelumnya, rupiah melemah 0,72 persen. Bahkan, rupiah telah terdepresasi hingga 3,76 persen secara tahun kalender berjalan.

Pelemahan nilai tukar rupiah itu terjadi seiring dengan menguatnya indeks dolar AS terhadap mata uang utama (DXY). Pada periode yang sama, DXY menguat sekitar 0,04 persen ke level 98,65. Penguatan DXY tersebut, antara lain, didorong oleh pergerakan harga minyak global.

Setelah sempat turun ke level 90 dolar AS per barel pada pekan lalu, harga minyak mentah Brent kembali menanjak ke level 103 dolar AS per barel. Ini teradi akibat belum tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran yang mengakibatkan Selat Hormuz kembali ditutup.

Deretan kapal penangkap ikan yang bersandar di dermaga Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta, Selasa (21/4/2026). Kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi khususnya jenis solar industri berpotensi menekan operasional kapal ikan.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan, tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional. Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan sekitar 3,54 persen secara tahun kalender berjalan.

”Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Langkah stabilisasi tersebut dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. Adapun cadangan devisa juga tetap kuat sebesar 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026.

Quote

Secara fundamental, nilai tukar rupiah kita akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh fundamental ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, imbal hasil yang menarik, dan juga komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Destry menegaskan, BI akan senantiasa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Upaya ini, antara lain, ditempuh BI dengan hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten serta terukur demi memastikan stabilitas tetap terjaga.

Sebelumnya, BI memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur BI periode April 2026. Keputusan ini diambil sebagai respons kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah dinamika gejolak global.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan pidato motivasi saat peluncuran terbatas Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) di Jakarta, Senin (23/2/2026). PIDI diluncurkan dalam rangka membangun ekosistem inovasi digital nasional sebagai upaya penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi *** Local Caption ***

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, posisi nilai tukar rupiah sekarang telah berada di bawah nilai fundamentalnya (undervalued). Maka dari itu, BI akan menempuh berbagai langkah kebijakan untuk membawa kembali rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya.

”Secara fundamental, nilai tukar rupiah kita akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh fundamental ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, imbal hasil yang menarik, dan juga komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tuturnya dalam konferensi pers hasil RDG BI periode April 2026, Rabu (22/4/2026).

Ke depan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan berada dalam kisaran 4,9-5,7 persen dengan tingkat inflasi yang terjaga dalam sasaran 1,5-3,5 persen. Di sisi lain, defisit transaksi berjalan diproyeksikan berada dalam rentang 1,3-0,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Ketahanan eksternal

Sementara itu, Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist, HSBC Global Investment Research, Pranjul Bhandari, menilai, keputusan yang telah diambil BI untuk mempertahankan suku bunga acuan sudah tepat.

”Apabila Bank Indonesia kemarin menurunkan suku bunga acuan, nilai tukar rupiah pasti akan melemah lebih dalam hari ini,” katanya dalam Media Briefing HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook Q2-2026, secara daring.

Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist, HSBC Global Investment Research, Pranjul Bhandari, menjelaskan ketahanan eksternal Indonesia dalam Media Briefing HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook Q2-2026, secara daring, Kamis (23/4/2026).

Ia menjelaskan, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama terkait ketahanan eksternal yang salah satunya tecermin dari defisit neraca transaksi berjalan. Adapun defisit transaksi berjalan Indonesia masih terbilang rendah.

Pada 2025 defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat sekitar 0,1 persen terhadap PDB, menyusut dibandingkan dengan periode sebelumnya yang pernah mencapai 2,5 persen. Meski demikian, gejolak akibat lonjakan harga energi berisiko mengerek defisit hingga ke level 1 persen terhadap PDB.

Selain transaksi berjalan, ketahanan eksternal juga ditopang oleh aliran masuk modal asing, baik dalam bentuk portofolio maupun investasi langsung (FDI). BI mencatat, telah terjadi arus modal keluar dalam investasi portofolio sebesar 1,7 miliar dolar AS selama Januari-Maret 2026.

Quote

Jadi, menurut saya, arus modallah yang pada akhirnya akan menentukan apa yang terjadi pada nilai tukar rupiah.

Pranjul berpendapat, Indonesia perlu meningkatkan aliran masuk modal asing guna memperkuat ketahanan eksternal. Namun, upaya tersebut tidak mudah dilakukan di tengah kondisi ketidakpastian global seperti saat ini.

”Jadi, menurut saya, arus modallah yang pada akhirnya akan menentukan apa yang terjadi pada nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah juga turut dipengaruhi oleh kurs dolar AS yang cenderung menguat sejak terjadinya gejolak harga komoditas energi global. Bila gejolak mereda, dolar AS kemungkinan akan melemah sehingga rupiah dapat berbalik menguat.

Kendati demikian, Pranjul mengingatkan, masih terdapat risiko lonjakan harga minyak ke level 100 dolar per barel yang diikuti dengan penguatan dolar AS lebih lanjut. Kondisi tersebut menuntut respons dari kebijakan moneter, antara lain dengan menaikkan suku bunga acuan.

Infografik-Tren IHSG dan Kurs Rupiah terhadap Dolar AS Februari-Maret 2026

Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto