Jakarta menjadi salah satu tujuan favorit tur trofi Piala Dunia di Asia. Namun, belum ada lagi warga Indonesia yang diizinkan menyentuh langsung trofi.
22 Jan 2026 17:01 WIB · Olahraga
KOMPAS/MUHAMMAD IKHSAN MAHAR
JAKARTA, KOMPAS — Melalui perjalanan udara selama lebih dari tiga jam, Kamis (22/1/2026) pagi, Kompas menjadi salah satu anggota rombongan FIFA yang memboyong trofi Piala Dunia dari Malaysia ke Indonesia. Bukan sekadar hiburan, kehadiran piala berlapis emas 18 karat itu menjaga harapan bagi pemain dan pencinta sepak bola nasional agar tim nasional Indonesia kelak bisa tampil di turnamen terakbar di dunia.
Indonesia merupakan bagian dari 182 negara yang telah menjadi destinasi Tur Trofi Piala Dunia sejak pertama kali digelar pada 2006. Bekerja sama dengan salah satu mitra paling setia, Coca-Cola, FIFA berambisi merampungkan misi membawa trofi paling ikonik dalam cabang olahraga tersebut ke seluruh anggota FIFA yang berjumlah 211 negara jelang Piala Dunia 2030.
Trofi Piala Dunia, yang mulai digunakan pada edisi 1974, itu sudah empat kali mengunjungi Indonesia. Namun, skuad ”Garuda”—sejak Indonesia merdeka—belum mampu lolos ke putaran final Piala Dunia. FIFA memang mencatat Indonesia sebagai wakil Asia pertama yang tampil di ajang kreasi ”Jules Rimet” itu pada 1938.
Kala itu, Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Tim tersebut dipersiapkan oleh Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU), Persatuan Sepak Bola Hindia Belanda, bukan PSSI. Seragam dan lagu kebangsaan yang diputar sebelum duel kontra Hongaria di Reims, Perancis, juga milik Belanda.
Pada kedatangan keempat ini setelah 2006, 2010, dan 2014, Indonesia—bersama India, Jepang, Korea Selatan, dan Malaysia—mendapat kehormatan menyambut Gilberto Silva, peraih Piala Dunia 2002 bersama tim nasional Brasil. Silva berstatus legenda FIFA yang mendampingi kunjungan trofi Piala Dunia di negara tujuan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/22/6d0b06972efb8ba9af47f6e8d0176ffc-IMG_2435.jpeg)
Tidak hanya membawa trofi dari Kuala Lumpur ke Jakarta dalam pesawat FIFA berjenis Airbus A320, Silva secara simbolis membuka agenda Tur Trofi Piala Dunia yang memberi kesempatan kepada penggemar sepak bola Indonesia untuk berfoto dengan trofi asli.
Silva melepas tirai penutup trofi yang dilindungi kotak berbahan kaca. Para tamu naratama yang hadir dalam acara pembukaan, seperti Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, serta Presiden The Coca-Cola Company Asia Tenggara dan Pasifik Selatan Selman Careaga, tidak diperkenankan menyentuh langsung trofi itu.
Dengan situasi itu, hanya ada dua warga Indonesia yang mendapat kehormatan memegang trofi seberat 6,17 kg itu. Mereka adalah Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden periode 2004–2009 Jusuf Kalla.
SBY memegang dan menyambut trofi Piala Dunia pada kunjungan terakhir, Januari 2014, di Istana Negara, Jakarta. Kala itu, Dwight Yorke mendampingi trofi sebagai perwakilan legenda FIFA. Adapun Kalla memegang trofi tersebut pada kunjungan perdana pada 2006.
Bagi Silva, makna trofi Piala Dunia abadi dalam kehidupannya. Walaupun momen terbaik dalam kariernya telah berlalu selama 24 tahun, ia masih merasakan dampak besar keberhasilan Brasil membawa pulang trofi Piala Dunia kelima dari Jepang-Korea Selatan 2002.
”Saat mengangkat trofi ini pertama kali, saya merasa senang karena menjadi capaian terbaik dalam karier saya. Prestasi itu telah menjadi cerita inspiratif bagi generasi-generasi selanjutnya untuk mengikuti jejak saya bersama timnas Brasil,” ucap Silva dalam wawancara khusus yang dihadiri Kompas di sela agenda Tur Trofi Piala Dunia di Jakarta.
Ia menambahkan, ”Saya melihat dan mendengar kisah-kisah itu tidak hanya di Brasil, tetapi juga di belahan dunia lain.”
Dari perwakilan PSSI, Wakil Ketua Umum Ratu Tisha ikut mendampingi trofi sejak keberangkatan dari Kuala Lumpur, Malaysia. Tisha menyebut kehadiran trofi Piala Dunia di Jakarta—setelah absen pada rangkaian tur jelang Piala Dunia 2018 dan 2022—bukan sekadar pelipur lara atas kegagalan tim nasional Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026.
”Kehadiran trofi ini sesungguhnya adalah pemberi harapan dan semangat bagi para pemain profesional hingga pemain di akar rumput untuk berusaha membawa Indonesia tampil di Piala Dunia. Demi menembus capaian terbaik itu, kita memerlukan inspirasi dan kehadiran trofi ini diharapkan bisa menjadi jalan untuk mewujudkan mimpi tampil di Piala Dunia,” ujar Tisha.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/22/9bfbed24b2c508d6b5a866cd96e940da-IMG_2383.jpeg)
Serupa dengan Tisha bersama perwakilan FIFA dan Coca-Cola, Kompas duduk di kursi kelas bisnis yang hanya berjumlah 22 kursi di dalam pesawat tersebut. Meski demikian, penempatan trofi di dalam pesawat benar-benar dirahasiakan.
”Selamat menikmati pengalaman berharga ini dan kami senang menyambut Anda untuk membawa trofi ke Indonesia yang sangat bersemangat dengan sepak bola. Trofi ada di suatu tempat di dalam pesawat ini,” ucap salah satu kru pesawat sebelum pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Subang, Kuala Lumpur, Malaysia, tepat pukul 08.40 waktu setempat.
Sejatinya, perjalanan dari Bandara Internasional Subang di Kuala Lumpur menuju Bandara Halim Perdanakusuma berdurasi dua jam. Namun, cuaca buruk menyebabkan pesawat berputar-putar di udara lebih dari satu jam menunggu hujan reda dan jarak pandang normal lintasan pendaratan bandara.
Jadwal semula pesawat FIFA yang membawa trofi ikonik itu mendarat di Jakarta sekitar pukul 09.40 WIB. Akibat hujan deras, pesawat baru bisa mendarat pada pukul 10.45 WIB.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/22/44991070c7492dc6fb3875aaa5be2af9-IMG_2449.jpeg)
Kondisi itu menyebabkan penyesuaian dalam agenda penyambutan rombongan di Halim Perdanakusuma. Misalnya, rencana wawancara media kepada Silva di dalam pesawat serta penyambutan Silva oleh dua eks gelandang timnas Indonesia, Evan Dimas dan Egi Melgiansyah, batal.
”Saya senang bisa berpartisipasi di acara ini. Semoga kehadiran trofi Piala Dunia dan Gilberto Silva bisa semakin menginspirasi anak-anak Indonesia untuk menjadi pemain besar di masa depan,” ucap Evan yang hadir ke Jakarta seusai mengikuti laga amal di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Meski begitu, agenda utama tur trofi untuk memberikan kesempatan langka warga Jakarta dan sekitarnya berfoto dengan trofi asli Piala Dunia tetap berjalan sesuai rencana. Sesi foto yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) dimulai sekitar pukul 14.30 WIB.
Ribuan orang mendapat kesempatan berfoto di sisi trofi yang dilapisi kaca berbentuk kotak. Pengunjung tidak diperkenankan menyentuh kaca pelindung tersebut. Dua petugas keamanan mengawasi setiap gerak pengunjung selama pengambilan foto yang dibatasi tidak lebih dari 10 detik.
Selain berfoto dengan trofi, terdapat pula sejumlah agenda hiburan dalam rangkaian acara tersebut, di antaranya FootGolf Challenge, tantangan kemampuan sepak bola, dan arena foto bernuansa sepak bola.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim