Bagi Haiti, sepak bola adalah tentang harapan, bukan skor akhir. Di Piala Dunia 2026, harapan itu kembali diapungkan.
14 Jun 2026 16:44 WIB · Olahraga
AFP
Tim nasional Brasil pernah menghentikan perang di Haiti selama dua hari. Pada Agustus 2004, ketika Ronaldo, Ronaldinho, Roberto Carlos, dan sejumlah bintang Brasil datang ke Port-au-Prince untuk laga persahabatan, kelompok-kelompok bersenjata yang bertikai sepakat melakukan gencatan senjata sementara.
Warga yang biasanya bersembunyi karena takut peluru nyasar berbondong-bondong keluar rumah menyambut kedatangan ”Selecao”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/3c3f8b8b44ef854c6c7eff95fd95c6cb-wires_photo_13_.jpg)
Dalam laga bertajuk ”Jogo da Paz” atau (”Game of Peace”/Pertandingan Perdamaian), Haiti kalah 6-0. Namun, laporan BBC menyebut, semua tetap dirayakan gembira. Setidaknya perang berhenti dua hari. Terdengar sebentar, tetapi bermakna sangat dalam bagi warga yang lama terjebak konflik.
Sekitar 22 tahun kemudian, Brasil kembali datang ke hati rakyat Haiti. Bedanya, kali ini Haiti tak sekadar menjadi tuan rumah yang menyambut. Mereka berdiri sebagai sesama peserta Piala Dunia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/12f198f0c9d574c92d177047153c141c-wires_photo_14_.jpg)
Di Piala Dunia 2026, Haiti berdiri setara dan sama kuat dengan Brasil. Mereka sama-sama finalis, bahkan berada di Grup C. Di bawah asuhan Sebastian Minge, 26 pemain yang 10 di antaranya belum menjejakkan kaki di Haiti mengambalikan negara di Karabia itu ke pesta sepak bola dunia setelah absen 52 tahun.
Lolosnya Haiti ke putaran final lebih dari sekadar beruntung. Mereka diperkuat pemain yang malang melintang di berbagai negara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/86518bd976bd4eb77808399c46f9c727-Scotland_Haiti_WCup_Soccer.jpg)
Pemain tengah Jean-Ricner Bellegarde, misalnya, menjadi andalan Wolverhampton Wanderes di Liga Inggris. Penyerang Wilson Isidor juga membantu tim Inggris lainnya, Sunderland, naik ke peringkat ketujuh di Liga Inggris. Tak ketinggalan, lini tengah mereka dijaga Ricardo Ade, salah satu bek dihormati di Amerika Selatan.
Seperti de javu, jelang laga perdana melawan Skotlandia, warga Haiti dilaporkan merasakan gairah yang sama. Jalan-jalan di ibu kota Port-au-Prince dibersihkan dari sampah konflik. Bendera Haiti dikibarkan dengan bangga.
Selain itu, sebagian warga juga ada menyusun rencana agar tetap menonton laga Haiti saat hidup mereka terdampak kekurangan listrik kronis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/326ac40a3cb29a4864bc148651a6f169-wires_photo_16_.jpg)
Berjarak sekitar 2.700 kilometer dari Haiti, para pemain timnas tidak mau melepaskan kesempatan membanggakan bangsa. Pencetak gol terbanyak sepanjang masa Haiti, 44 gol dari 78 laga, Duckens Nazon, mengatakan, banyak orang di Haiti pantas mendapatkan kegembiraan dan kebahagiaan apabila timnas bisa memberikan yang terbaik.
”Saat kita mengenakan seragam ini, ini lebih dari sekadar pertandingan biasa. Kita adalah negara kulit hitam merdeka pertama di dunia. Kita memiliki banyak sejarah. Kita harus mengemban peran ini,” kata Nazon, yang pernah merumput di Perancis, Inggris, Turki, dan Iran, dikutip dari FIFA.
Namun, perjuangan di Piala Dunia tidak ringan. Di laga perdana melawan Skotlandia pada 14 Juni 2026, Haiti dikalahkan sebiji gol John McGinn.
Namun, semua bukan tanpa perlawanan. ”Les Grenadiers”, julukan Haiti, tetap melawan sengit hingga akhir pertandingan. Jika saja sundulan Frantzdy Pierrot tidak meleset di menit ke-85, sejarah bakal tercipta di Stadion Boston, Massachusetts.
Sebastien Migne mengatakan, meski kalah, Haiti seharusnya bangga dengan penampilan anak asuhannya. Ia mengajak semua orang optimistis Haiti bisa melaju lebih jauh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/ab7417124a557121d126296fa5992cd5-wires_photo_17_.jpg)
”Ketika kita tahu dari mana kita berasal, kita mampu mengatasi tantangan, tetapi itu membuat kita semakin frustrasi karena kita sedikit kurang beruntung,” kata pelatih asal Perancis itu.
Di laga selanjutnya, Haiti akan bersua tim idola rakyat Haiti, Brasil, di Stadion Philadelphia, Jumat (19/6/2026) waktu setempat. Laga ini seperti mustahil dimenangkan meski apa pun bisa terjadi di lapangan bola.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/4c50719a62e2af634fe872beb7b88ae9-wires_photo_15_.jpg)
Namun, andaikan gagal menang dan harus pulang lebih dulu, penggawa Haiti berharap penampilan mereka akan dikenang. Apa pun hasilnya nanti, ia ingin memberi harapan untuk masa depan bangsa.
Nazon mengatakan, saat Haiti meraih prestasi, kelompok bersenjata dan warga sipil di jalanan biasanya bersatu merayakannya. Bukan tidak mungkin, apabila melaju lebih jauh, kali ini perang tidak hanya berhenti dua hari, tetapi lebih panjang. Sekali lagi, bagi Haiti, sepak bola adalah tentang harapan, bukan skor akhir. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra