Video Palsu AI Mengubur Media Sosial

Semakin sulit membedakan video dunia nyata dan buatan AI yang membanjiri media sosial. Jika lebih banyak yang palsu, media sosial bisa ditinggalkan warganet.

21 Okt 2025 16:00 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

Sadarkah selama beberapa pekan terakhir, banyak berseliweran video-video buatan kecerdasan buatan atau AI yang jadi viral di media sosial? Salah satunya, video kucing rumahan yang sigap menyelamatkan bayi dari beruang yang hendak menyerang.

Video itu viral ditonton jutaan warganet di Instagram, Facebook, dan Tiktok. Resep manjur untuk viral ada semua: drama, kepolosan, hewan, dan risiko bahaya. Semua dirancang untuk menghasilkan jutaan klik di media sosial.

Masalahnya, video itu 100 persen palsu dan dibuat dengan AI generatif bernama Sora yang dirilis pada 30 September 2025. AI buatan perusahaan OpenAI, pembuat aplikasi ChatGPT, itu mampu menghasilkan video realistis hanya dengan perintah teks sederhana.

Tangkapan layar dari akun media sosial Kenza Layli, sosok hasil rekayasa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pada 10 Juli 2024, Layli ditetapkan sebagai pemenang kontes kecantikan khusus sosok hasil rekayasa AI. Kontes bagian dari World ‍AI Creator Awards (WAICA)

Ratusan video deepfake sudah dibuat dan beredar. Mulai dari video ”receh” tentang bayi yang baru lahir sudah bisa lari keluar dari rumah sakit, sampai video yang menampilkan selebritas yang sudah meninggal, termasuk mendiang Michael Jackson yang sedang bekerja di pusat perbelanjaan Walmart.

Ada juga video percakapan palsu antara aktor James Gandolfini dan Robin Williams. Ada juga video-video yang sudah kelewatan dan tak tahu etika. Contohnya, video Dr Martin Luther King Jr sedang berpidato.

Isi pidato terkenalnya, ”I Have a Dream”, diganti dengan materi yang vulgar dan rasis. Ada juga video Malcolm X yang sedang berkelahi.

Video kedua tokoh ini kemudian beperkara karena dianggap tidak sopan. OpenAI sudah memblokir pembuat video itu setelah dituntut oleh pihak keluarga Dr King. Zelda Williams, putri mendiang Robin Williams, juga meminta orang-orang berhenti mengirimkan video-video hasil rekayasa AI tentang ayahnya.

Presiden John F Kennedy, Ratu Elizabeth II, dan Stephen Hawking juga tak luput dari pengguna Sora. Kepada BBC, OpenAI mengaku sudah membangun berbagai lapisan perlindungan untuk mencegah penyalahgunaan.

Ini yang membuat publik khawatir. Aplikasi seperti Sora bisa jadi sarang disinformasi dan penyalahgunaan.

Bahayanya lagi, warganet bisa dengan mudah percaya. Seperti yang terjadi pada video tentang kecurangan surat suara, penangkapan imigrasi, unjuk rasa, dan segala kejahatan.

Orang jadi semakin susah untuk membedakan antara konten yang betul-betul terjadi dan konten yang hanya rekaan atau buatan AI. Apalagi, jika kontennya menggambarkan skenario yang lebih realistis.

Infografik Sejarah Generative AI

Mesin palsu

CEO OpenAI Sam Altman berharap video-video buatan Sora 2 akan lebih menyenangkan dan bisa membantu melatih AI-nya tentang cara kerja dunia 3D. Namun, para kritikus justru melihatnya sebagai lonceng kematian bagi media sosial.

Semula media sosial diharapkan jadi tempat orang-orang merasa terhubung. Walakin, media sosial kini malah jadi mesin pembuat konten palsu. Jika banyak konten AI yang tidak bermutu, mungkin lama-kelamaan orang akan menjauh dari media sosial.

”Jika semua yang ada di internet mulai terasa palsu dan For You Page kita semuanya berisi video-video yang dihasilkan Sora, orang pasti akan mendekat ke hal-hal yang dapat dibuktikan secara fisik,” kata Wakil Presiden Encode Justice, Kashyap Rajesh, kepada majalah Time, Senin (20/10/2025).

Encode merupakan kelompok aktivis akar rumput internasional yang mendorong penggunaan kecerdasan buatan yang etis.

Kemunduran media sosial, jika memang terjadi, pasti akan lambat. Hingga saat itu tiba, para kritikus khawatir tentang dampak maraknya penggunaan AI yang buruk pada masyarakat.

Rajesh berpendapat, video AI yang realistis akan mengancam pemahaman bersama tentang realitas. Video di media sosial dulunya dipahami sebagai bukti bahwa suatu peristiwa benar-benar terjadi dan dapat mengubah jalannya sejarah, seperti dalam kasus George Floyd.

infografik 20 Negara dengan Pengguna AI Terbanyak

Kini, peristiwa nyata akan bisa dianggap palsu dan peristiwa palsu juga dapat dipercaya sebagai nyata. Akibatnya, kampanye disinformasi dan misinformasi dapat merajalela.

”Ini akan membuat banyak linimasa kita jadi ruang yang bising dan kurang dipercaya. Setiap momen emosional menjadi mencurigakan. Akan terjadi paranoia tingkat rendah dalam diri orang-orang dan ini akan membunuh spontanitas dan keajaiban media sosial,” kata Rajesh.

Ben Colman, CEO dan salah satu pendiri platform deteksi deepfake Reality Defender, melakukan eksperimen keamanan Sora dan menemukan bahwa ia bisa menggunakan Sora untuk membuat impersonasi AI dari orang-orang terkenal lalu ”mengautentikasi” mereka seolah-olah berasal dari tokoh itu sendiri. Risikonya jadi semakin besar, terutama bagi aplikasi yang membutuhkan identifikasi wajah.

Dengan perubahan media sosial ini, banyak warganet di Amerika Serikat mulai mengambil langkah berani meninggalkan ponsel mereka sepenuhnya. Warganet mulai merasa tak ada gunanya menggulir konten tanpa berpikir karena itu tidak berguna dalam hidup mereka.

Kemunculan Sora 2 dan video hiper-realistis lainnya kemungkinan menjadi titik kritis. Di mana manusia seolah-olah mendapatkan kembali sebagian kendali atas kehidupan mereka.


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto