Sandera dan Warga Palestina Jadi Alat Tawar-menawar

Hamas akan memberi akses bantuan bagi warga Israel yang disandera jika serangan dihentikan dan koridor kemanusiaan dibuka.

04 Agt 2025 09:45 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

GAZA, SENIN — Hamas bersedia berkoordinasi dengan Palang Merah Internasional untuk mengirimkan bantuan kepada para sandera yang masih ditahan di Gaza. Namun, tindakan itu akan bergantung pada kemauan pemerintah dan militer Israel membuka koridor bantuan kemanusiaan secara permanen bagi warga Gaza serta menghentikan serangan udara.

Sementara Israel salah satunya mensyaratkan pembebasan sandera untuk mencapai gencatan senjata di Gaza. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta bantuan Komite Palang Merah Internasional untuk mengakses para sandera dan memberikan bantuan makanan dan obat-obatan.

Di tengah tawar-menawar itu, warga Palestina di Gaza terus menjadi korban. Kantor berita Reuters, Senin (4/8/2025), melaporkan, setidaknya ada enam warga Gaza yang meninggal akibat kelaparan atau malanutrisi dalam 24 jam terakhir.

Laporan korban terbaru itu menambah jumlah warga Gaza yang meninggal akibat kelaparan yang disengaja oleh Israel menjadi 175 orang. Sebanyak 93 di antaranya anak-anak.

Foto yang diambil dari rekaman video sayap militer Hamas, Jumat (1/8/2025), memperlihatkan kondisi salah satu sandera yang masih hidup, Evyatar David (24).

Stasiun televisi milik Pemerintah Mesir, Al Qahera, melaporkan, dua truk membawa 107 ton diesel akan masuk ke Gaza. Ini pertama kali setelah berbulan-bulan Israel membatasi dengan ketat akses pengiriman bahan bakar ke Gaza.

COGAT, badan militer Israel yang mengoordinasi bantuan, menyebutkan, ada empat kapal tanker PBB yang masuk ke Gaza. Mereka akan membantu operasional di rumah sakit, toko kue, dapur umum, dan layanan esensial lainnya.

Israel terus menyalahkan Hamas soal situasi kemanusiaan yang terjadi di Gaza. Perundingan kedua pihak tersendat dan gencatan senjata masih jauh dari terwujud.

Israel, Minggu, mendesak Hamas untuk memberikan akses bantuan bagi para sandera. Selama beberapa hari terakhir, beredar rekaman kondisi dua warga Israel yang disandera, Evyatar David dan Rom Braslavski, yang dirilis kelompok Jihad Islam.

Keduanya terlihat lemah dan kurang gizi setelah lebih dari 600 hari disandera. Dalam salah satu video, David terlihat menggali sebuah lubang, yang katanya, adalah akan menjadi tempat peristirahatannya yang terakhir.

Kemunculan video itu menuai kritik dari banyak pihak, termasuk negara-negara Barat. Perancis, Jerman, Inggris, serta Amerika Serikat menyatakan kemarahan. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengadakan sesi khusus pada Selasa (5/8/2025) pagi waktu New York untuk membahas soal para sandera yang diduga masih berada di Gaza.

Kantor Netanyahu menyatakan telah berhubungan dengan koordinator ICRC untuk wilayah Palestina dan Israel, Julien Lerisson. Israel meminta agar ICRC menyediakan makanan dan perawatan medis bagi para sandera. Menurut pejabat Israel, 50 sandera masih berada di Gaza dan hanya 20 di antaranya diyakini masih hidup.

Hidaya (31), seorang ibu Palestina menggendong putranya yang berusia 18 bulan, Mohammed al-Mutawaq yang juga menunjukkan tanda-tanda malnutrisi di dalam tenda mereka di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Kota Gaza, Kamis (24/7/2025). Lebih dari 100 organisasi bantuan dan kelompok hak asasi manusia memperingatkan pada 23 Juli bahwa "kelaparan massal" sedang menyebar di Gaza, sementara Amerika Serikat mengatakan utusan utamanya sedang menuju ke Eropa untuk membahas kemungkinan gencatan senjata dan koridor bantuan.

”Hamas berkewajiban untuk menyediakan semua yang mereka butuhkan. Hamas telah menculik mereka dan harus merawat mereka,” kata pernyataan keluarga sandera Israel.

Sebagai tanggapan, sayap bersenjata Hamas, Brigade Al Qassam, menyatakan akan mengizinkan Israel mengakses para sandera. Syaratnya, koridor untuk makanan dan bantuan dibuka di seluruh wilayah Jalur Gaza.

Brigade Al-Qassam juga menyatakan tidak sengaja membuat para sandera kelaparan. Akan tetapi, mereka tidak akan menerima hak istimewa makanan khusus ”di tengah kejahatan kemanusiaan yang telah mengakibatkan kelaparan dan kematian di Gaza akibat blokade Israel”.

Hamas berulang kali menawarkan pembebasan sejumlah sandera yang masih hidup dan pengembalian jenazah sandera yang meninggal dengan persyaratan yang sama. Terakhir, pada Juli, Hamas menyambut positif proposal gencatan senjata yang disodorkan Amerika Serikat.

Proposal itu mensyaratkan Hamas membebaskan secara bertahap sejumlah sandera yang masih hidup dan pengembalian jenazah sandera yang telah meninggal. Sebagai balasan, AS mengusulkan gencatan senjata selama 60 hari dan penarikan pasukan Israel secara bertahap dari beberapa wilayah Gaza.

Seorang anak laki-laki Palestina menunggu porsi makanan panas yang dibagikan oleh dapur amal di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah pada 5 Mei 2025. Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza yang terkepung telah memburuk secara signifikan sejak Israel memblokir semua bantuan memasuki wilayah tersebut pada 2 Maret, beberapa hari sebelum melanjutkan kampanye militernya setelah runtuhnya gencatan senjata.

Hamas meminta perubahan proposal, khususnya pada bagian penarikan pasukan Israel dari Gaza dan mekanisme penyaluran bantuan. Hamas meminta agar mekanisme penyaluran bantuan dialihkan sepenuhnya pada lembaga bantuan kemanusiaan PBB dan bukan pada Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) bentukan Israel dan AS.

Sejak penyaluran bantuan melalui GHF, ribuan warga Palestina penyaluran bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza justru membuat korban berjatuhan. Mereka tewas ditembak prajurit bayaran bersenjata dan militer Israel.

Selain itu, Hamas juga meminta agar pasukan Israel mundur ke posisi terakhir pada Maret 2025 ketika jeda pertempuran terjadi. Israel menolak perubahan tersebut.

Akibat blokade total militer Israel, badan kemanusiaan PBB dan sejumlah negara telah mengirimkan bantuan kemanusiaan melalui udara dalam beberapa hari terakhir. Angkatan Udara Belgia bekerja sama dengan Pemerintah Jordania telah mengirimkan serangkaian paket bantuan melalui udara, Minggu.

Perancis menjatuhkan 40 ton paket bantuan kemanusiaan, Jumat. Meski demikian, badan bantuan PBB menyebut hal itu tidak mencukupi dan tidak bisa mencegah kelaparan akut jutaan warga Gaza. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto