Hamas Inginkan Perang Diakhiri, Bukan Hanya Gencatan Senjata

Merespons tawaran gencatan senjata Trump, Israel setuju, Hamas belum setuju.

02 Jul 2025 18:51 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Sehari setelah Israel menyetujui persyaratan gencatan senjata selama 60 hari di Gaza yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Hamas pada Rabu (2/7/2025) menyatakan bahwa mereka tidak menerima persyaratan yang diajukan Trump. Namun, mereka terbuka terhadap perjanjian gencatan senjata dengan Israel.

Hamas bersikeras pada posisi lamanya bahwa kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang di Gaza. Pejabat Hamas, Taher al-Nunu, mengatakan bahwa kelompok militan itu siap dan serius untuk mencapai kesepakatan. Ia mengatakan Hamas siap menerima inisiatif apa pun yang jelas mengarah pada akhir perang secara menyeluruh.

Sebuah perkemahan tenda untuk warga Palestina yang terlantar membentang di antara reruntuhan bangunan yang dihancurkan oleh pemboman Israel di sebelah barat Kota Gaza, Sabtu, 21 Juni 2025.

Delegasi Hamas diperkirakan akan bertemu dengan mediator Mesir dan Qatar di Kairo pada Rabu untuk membahas usulan tersebut. Demikian keterangan yang diutarakan seorang pejabat Mesir. 

Sebelumnya, lewat media sosialnya, Trump mengunggah bahwa Israel telah menyetujui persyaratan gencatan senjata selama 60 hari di Gaza dan mendesak Hamas untuk menerima kesepakatan tersebut sebelum kondisi memburuk. 

Kerabat warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza berduka di Rumah Sakit Shifa di kota Gaza, Sabtu (28/6/2025).
Warga Palestina memeriksa reruntuhan rumah keluarga Al-Aimawi yang dihancurkan oleh serangan udara Israel di Al-Zawaideh, Jalur Gaza, Selasa (1/7/2025).
Kerabat dan pendukung sandera yang ditahan oleh Hamas di Jalur Gaza memprotes di luar kantor perdana menteri di Jerusalem, Selasa (1/7/2025).
Warga ambil bagian dalam protes yang menuntut diakhirinya perang dan segera membebaskan sandera yang ditahan oleh Hamas di Jalur Gaza dan menentang pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Tel Aviv, Israel, 28 Juni 2025.
Seorang tentara Israel mengarahkan sebuah tank di area pementasan dekat perbatasan dengan Jalur Gaza, di Israel selatan, 1 Juli 2025.

Trump mengatakan, periode 60 hari akan digunakan untuk mengakhiri perang, sesuatu yang Israel katakan tidak akan diterima sampai Hamas dikalahkan. Ia mengatakan bahwa kesepakatan mungkin akan tercapai minggu depan.

Namun, Hamas menanggapi dengan menekankan tuntutannya agar perang diakhiri. Mereka mempertanyakan apakah tawaran terbaru tersebut dapat terwujud menjadi jeda pertempuran yang sebenarnya.

Ribuan warga Palestina mencegat konvoi bantuan kemanusiaan Program Pangan Dunia yang menuju ke Kota Gaza di Jalur Gaza utara, Senin, 16 Juni 2025. *** Local Caption *** AP/Jehad Alshrafi

Sepanjang perang yang berlangsung hampir 21 bulan, perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas berulang kali gagal. Hamas mengatakan pihaknya bersedia membebaskan 50 sandera yang tersisa, yang mana kurang dari separuhnya dinyatakan masih hidup. Pembebasan tersebut sebagai imbalan untuk penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza dan diakhirinya perang.

Israel mengatakan pihaknya hanya akan setuju untuk mengakhiri perang jika Hamas menyerah, melucuti senjatanya dan mengasingkan diri, sesuatu yang ditolak kelompok tersebut.

Sebuah helikopter Apache milik Israel terbang di atas Jalur Gaza, terlihat dari Israel selatan, Selasa (1/7/2025).
Anak-anak menerima perawatan untuk luka-luka mereka, yang diderita dalam serangan Israel di sebuah kamp yang menampung pengungsi Palestina, di Rumah Sakit Nasser Khan Yunis di Jalur Gaza selatan, Rabu (2/7/2025).
Pasukan Israel di perbatasan Israel dengan Jalur Gaza pada 1 Juli 2025. Militer Israel mengatakan, pada 1 Juli, mereka telah memperluas operasinya di Gaza.
Warga membawa karung tepung berjalan melewati genangan air di sepanjang Jalan al-Rashid di Jabalia barat, 17 Juni 2025.
Ribuan orang membawa karung tepung berjalan di sepanjang Jalan al-Rashid di Jabalia barat pada 17 Juni 2025, setelah truk bantuan kemanusiaan dilaporkan memasuki Jalur Gaza utara melalui penyeberangan perbatasan Zikim yang dikendalikan Israel.
Ribuan warga Palestina membawa tas berisi makanan dan paket bantuan kemanusiaan di Rafah, Jalur Gaza selatan, 15 Juni 2025.

Seorang pejabat Israel mengatakan bahwa usulan terbaru menyerukan kesepakatan 60 hari yang akan mencakup penarikan sebagian pasukan Israel dari Gaza dan peningkatan bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut. Tidak jelas berapa banyak sandera yang akan dibebaskan sebagai bagian dari perjanjian tersebut, tetapi proposal sebelumnya menyerukan pembebasan sekitar 10 orang.

Perang dimulai pada 7 Oktober 2023, ketika pasukan yang dipimpin Hamas menyerang Israel selatan, menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang. Konflik brutal dua negara yang berlangsung 21 bulan ini telah menewaskan lebih dari 56.000 orang di wilayah Palestina. 

Warga Palestina bergegas mencari perlindungan saat puing-puing beterbangan di sekitar mereka setelah serangan Israel di kamp Bureij di Jalur Gaza tengah pada 15 Juni 2025.

Kementerian Kesehatan Gaza tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan dalam penghitungan kematiannya, tetapi mengatakan bahwa lebih dari separuh korban tewas adalah perempuan dan anak-anak.

Perang telah menghancurkan wilayah pesisir Palestina dan sebagian besar lanskap perkotaan rata dengan tanah akibat pertempuran. Lebih dari 90 persen dari 2,3 juta penduduk Gaza telah mengungsi.

Perang telah memicu krisis kemanusiaan di Gaza, mendorong ratusan ribu orang menuju kelaparan. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati