Merespons tawaran gencatan senjata Trump, Israel setuju, Hamas belum setuju.
02 Jul 2025 18:51 WIB · Internasional
Sehari setelah Israel menyetujui persyaratan gencatan senjata selama 60 hari di Gaza yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Hamas pada Rabu (2/7/2025) menyatakan bahwa mereka tidak menerima persyaratan yang diajukan Trump. Namun, mereka terbuka terhadap perjanjian gencatan senjata dengan Israel.
Hamas bersikeras pada posisi lamanya bahwa kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang di Gaza. Pejabat Hamas, Taher al-Nunu, mengatakan bahwa kelompok militan itu siap dan serius untuk mencapai kesepakatan. Ia mengatakan Hamas siap menerima inisiatif apa pun yang jelas mengarah pada akhir perang secara menyeluruh.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/a10b770c-8c70-4cfa-9dc7-ff2b204ecc3f_jpg.jpg)
Delegasi Hamas diperkirakan akan bertemu dengan mediator Mesir dan Qatar di Kairo pada Rabu untuk membahas usulan tersebut. Demikian keterangan yang diutarakan seorang pejabat Mesir.
Sebelumnya, lewat media sosialnya, Trump mengunggah bahwa Israel telah menyetujui persyaratan gencatan senjata selama 60 hari di Gaza dan mendesak Hamas untuk menerima kesepakatan tersebut sebelum kondisi memburuk.
Trump mengatakan, periode 60 hari akan digunakan untuk mengakhiri perang, sesuatu yang Israel katakan tidak akan diterima sampai Hamas dikalahkan. Ia mengatakan bahwa kesepakatan mungkin akan tercapai minggu depan.
Namun, Hamas menanggapi dengan menekankan tuntutannya agar perang diakhiri. Mereka mempertanyakan apakah tawaran terbaru tersebut dapat terwujud menjadi jeda pertempuran yang sebenarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/18/e3de5854-1314-4faf-8389-1310ebb3f5e7_jpg.jpg)
Sepanjang perang yang berlangsung hampir 21 bulan, perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas berulang kali gagal. Hamas mengatakan pihaknya bersedia membebaskan 50 sandera yang tersisa, yang mana kurang dari separuhnya dinyatakan masih hidup. Pembebasan tersebut sebagai imbalan untuk penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza dan diakhirinya perang.
Israel mengatakan pihaknya hanya akan setuju untuk mengakhiri perang jika Hamas menyerah, melucuti senjatanya dan mengasingkan diri, sesuatu yang ditolak kelompok tersebut.
Seorang pejabat Israel mengatakan bahwa usulan terbaru menyerukan kesepakatan 60 hari yang akan mencakup penarikan sebagian pasukan Israel dari Gaza dan peningkatan bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut. Tidak jelas berapa banyak sandera yang akan dibebaskan sebagai bagian dari perjanjian tersebut, tetapi proposal sebelumnya menyerukan pembebasan sekitar 10 orang.
Perang dimulai pada 7 Oktober 2023, ketika pasukan yang dipimpin Hamas menyerang Israel selatan, menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang. Konflik brutal dua negara yang berlangsung 21 bulan ini telah menewaskan lebih dari 56.000 orang di wilayah Palestina.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/18/f27c1889-933b-47f1-8d1a-b28c5763da03_jpg.jpg)
Kementerian Kesehatan Gaza tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan dalam penghitungan kematiannya, tetapi mengatakan bahwa lebih dari separuh korban tewas adalah perempuan dan anak-anak.
Perang telah menghancurkan wilayah pesisir Palestina dan sebagian besar lanskap perkotaan rata dengan tanah akibat pertempuran. Lebih dari 90 persen dari 2,3 juta penduduk Gaza telah mengungsi.
Perang telah memicu krisis kemanusiaan di Gaza, mendorong ratusan ribu orang menuju kelaparan. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Retma Wati