Hamas-Israel-Mediator Optimistis Lagi Soal Gencatan Senjata

Ada titik terang dalam negosiasi tawaran gencatan senjata bertahap, pembebasan sandera, dan penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza. Peluang akan diterima 50 : 50.

14 Jan 2025 10:15 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

KAIRO, SENIN — Ada kemajuan signifikan dalam proses perundingan gencatan senjata dan pertukaran tawanan perang Israel-Hamas. Meski belum tercapai kesepakatan dan masih bisa gagal, mediator Amerika Serikat dan Arab, Hamas serta Israel, optimistis gencatan senjata dapat segera tercapai.

Tidak bisa ditentukan kepastian waktu kesepakatan harus tercapai. Akan tetapi, Amerika Serikat kemungkinan menargetkan semua harus rampung sebelum pelantikan presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump pada 20 Januari 2025.

Sejumlah pejabat dari semua pihak, Senin (13/1/2025), sama-sama mengaku masih banyak bagian yang masih harus diselesaikan. Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani bertemu dengan delegasi Hamas di Doha serta dengan utusan Trump, Steve Witkoff, dan Penasihat Presiden AS untuk Urusan Timur Tengah, Brett McGurk.

Al Thani juga menelepon Presiden AS Joe Biden yang menekankan perlunya segera tercapai kesepakatan. Pemerintahan Biden, bersama dengan Mesir dan Qatar, selama setahun telah mencoba menjadi penengah kesepakatan gencatan senjata. Biden yakin kali ini ”hampir” membuahkan hasil.

Namun, kedua belah pihak berbeda pendapat mengenai rincian rencana pertukaran sandera dengan tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel. Hamas tidak akan membebaskan tawanan yang tersisa tanpa mengakhiri perang.

Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji melanjutkan operasi militernya hingga berhasil melumpuhkan Hamas. Hal yang sedang dibahas sekarang adalah gencatan senjata bertahap.

Netanyahu berulang kali memberi isyarat bahwa dia hanya berkomitmen pada tahap pertama. Tahap itu adalah pembebasan sebagian sandera dengan imbalan penghentian pertempuran selama seminggu.

Kemungkinan gencatan senjata yang langgeng dan masalah lainnya akan dinegosiasikan setelah tahap pertama dimulai. Hamas sudah menuntut penarikan penuh dan penghentian perang sepenuhnya. Mereka berharap tahap pertama ini akan mengarah pada hasil tersebut.

Untuk perundingan kali ini, Qatar sudah menekan Hamas untuk menerima perjanjian tersebut. Sementara Witkoff, menekan Israel. Mediator sudah menyerahkan rancangan kesepakatan kepada masing-masing pihak dan dalam 24 jam ke depan akan jadi menentukan.

Seorang pejabat Mesir mengaku proses ini kemungkinan memakan waktu beberapa hari lagi. Dari pihak Hamas disebutkan masih ada sejumlah isu yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Hal itu termasuk komitmen Israel untuk mengakhiri perang, cara penarikan pasukan Israel, serta pertukaran tawanan di antara kedua belah pihak.

Seorang pejabat Israel mengatakan, perundingan sedang dalam tahap lanjutan untuk pembebasan hingga 33 sandera. Mereka terdiri dari orang berusia di bawah 18 tahun, perempuan, laki-laki berusia di atas 50 tahun, dan sandera yang terluka atau sakit sebagai bagian dari kesepakatan. Menurut otoritas Israel, masih ada 98 sandera di Gaza.

Pada hari ke-16 sejak kesepakatan mulai berlaku, perundingan akan dimulai pada tahap kedua. Di tahap ini, para sandera yang masih hidup akan dibebaskan dan jenazah pada sandera yang telah meninggal akan dikembalikan.

Kesepakatan tersebut akan mencakup penarikan pasukan secara bertahap. Di tahap awal, pasukan Israel tetap berada di perimeter perbatasan untuk menjaga kota-kota dan desa-desa perbatasan Israel-Gaza.

Selain itu, akan ada pengaturan keamanan di koridor Philadelphia, di sepanjang tepi selatan Gaza. Israel akan mundur bertahap dari koridor pemisah Gaza dengan Mesir itu.

Ada juga kesepakatan penduduk Gaza Utara yang tidak bersenjata akan diizinkan kembali. Akan ada mekanisme untuk memastikan tidak ada senjata yang dipindahkan ke sana.

People run for cover as smoke rises from a building destroyed in Israeli airstrike at the Bureij camp for Palestinian refugees in the central Gaza Strip on January 12, 2025, as the war between Israel and Hamas militants continues. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Selain itu, akan ada pengaturan keamanan di koridor Philadelphia, di sepanjang tepi selatan Gaza. Israel akan mundur bertahap dari koridor pemisah Gaza dengan Mesir itu.

Ada juga kesepakatan penduduk Gaza Utara yang tidak bersenjata akan diizinkan kembali. Akan ada mekanisme untuk memastikan tidak ada senjata yang dipindahkan ke sana.

Pasukan Israel akan ditarik dari koridor Netzarim di Gaza tengah. Pejabat Israel mengatakan, anggota Hamas yang dihukum karena pembunuhan atau serangan mematikan juga akan dibebaskan. Akan tetapi, jumlahnya akan bergantung pada jumlah sandera yang masih hidup. Pembebasan tidak termasuk bagi anggota Hamas yang dituding Israel terlibat serangan 7 Oktober 2023.

Palestinian children play next to a building destroyed by Israeli army strikes in the central Gaza Strip town of Khan Younis, Wednesday, Jan. 1, 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Para mediator sudah memberikan rancangan akhir kesepakatan kepada Israel dan Hamas. Seorang pejabat keamanan Mesir mengatakan, rancangan akhir itu tidak memuat perjanjian akhir. Rancangan itu bertujuan untuk menyelesaikan penghambat perundingan sebelumnya.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan, kedua belah pihak ”lebih dekat dari sebelumnya” untuk mencapai kesepakatan, dan keputusannya ada di tangan Hamas. Hamas mengatakan mereka sangat ingin mencapai kesepakatan.

”Kesepakatan itu akan membebaskan para sandera, menghentikan pertempuran, memberikan keamanan bagi Israel, dan memungkinkan kami untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan secara signifikan bagi warga Palestina yang sangat menderita dalam perang yang dimulai oleh Hamas ini,” kata Biden.

Koalisi Netanyahu

Kesepakatan gencatan senjata dapat melemahkan koalisi Netanyahu yang mencakup dua faksi sayap kanan. Mereka mengancam akan meninggalkan pemerintahan jika Israel membuat terlalu banyak konsesi.

Sementara oposisi berjanji memberikan Netanyahu dukungan untuk menyetujui pembebasan sandera. Kemarahan garis keras di Israel dapat menjadi sumber ketidakstabilan di kemudian hari.

Sepuluh anggota parlemen garis keras Israel mengirim surat kepada Netanyahu. Mereka menolak kesepakatan yang tidak mengizinkan tentara Israel mempertahankan kehadiran di wilayah strategis Jalur Gaza. Netanyahu berharap prospek pemerintahan Trump akan membujuk mitranya untuk tetap berada di pemerintahan.

Relatives and supporters of Israeli hostages held by Hamas in Gaza hold photos of their loved ones during a protest calling for their return, in Tel Aviv, Israel, Wednesday, Jan. 8, 2025. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich berjanji menentang kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang Gaza. Di akun X, Smotrich menulis perjanjian yang diusulkan adalah malapetaka bagi keamanan nasional Israel.

”Kami tidak akan menjadi bagian dari kesepakatan penyerahan diri yang melibatkan pembebasan teroris berbahaya, penghentian perang, pemborosan pencapaian yang diperoleh dengan susah payah yang dibayar dengan darah, dan menelantarkan banyak sandera yang masih ditawan,” tulis Smotrich.

Dia juga menegaskan sekarang saatnya Israel mengintensifkan operasi militernya dengan menggunakan semua kekuatan yang ada untuk mengamankan dan membersihkan Jalur Gaza sepenuhnya.

”Kita harus mengambil kendali tegas atas bantuan kemanusiaan untuk mencegah eksploitasinya oleh Hamas, dan membuka gerbang neraka di Gaza sampai Hamas menyerah tanpa syarat dan semua sandera dikembalikan dengan selamat,” tulis Smotrich.

Smotrich telah berulang kali menentang penghentian perang di Gaza. Komentarnya muncul di tengah meningkatnya seruan oleh warga Israel, khususnya keluarga sandera yang masih ditahan di Gaza, untuk mencapai kesepakatan yang akan membawa pulang orang-orang yang mereka cintai.

Pernyataan Smotrich menggarisbawahi perpecahan tajam dalam koalisi yang berkuasa di bawah Netanyahu mengenai kesepakatan tersebut. Netanyahu tetap dapat mengumpulkan cukup dukungan untuk meloloskan kesepakatan tersebut melalui kabinetnya, bahkan tanpa dukungan Smotrich.

Sementara di Gaza, warga Palestina berharap operasi militer Israel dihentikan. Konflik itu telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza dan mengusir sekitar 90 persen dari 2,3 juta penduduknya. Pada saat perundingan kesepakatan gencatan senjata tengah berlangsung, Israel masih saja menyerang Gaza.

Setidaknya 14 warga Palestina, termasuk satu keluarga dengan lima anggota, tewas dalam tiga serangan udara Israel yang terpisah, Senin. Lima tentara Israel tewas di Beit Hanoun sehingga jumlah tentara Israel yang tewas dalam pertempuran di utara selama seminggu terakhir menjadi 15 orang. ”Kami mendengar ada perundingan setiap hari tetapi tidak terlihat hasilnya,” kata warga Khan Younis, Mazen Hammad. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari