Meski pahit bagi Hamas, sebaiknya Hamas menerima konsep damai Trump itu demi kepentingan yang lebih besar bagi rakyat Palestina.
03 Okt 2025 11:59 WIB · Kolom
Hamas tentu kini menghadapi situasi paling sulit sejak berdiri pada tahun 1987. Hamas benar-benar berada di persimpangan jalan dalam menghadapi konsep damai Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Jalur Gaza. Konsep itu tersirat dalam proposal damai yang diluncurkan pada Senin, 29 September 2025.
Trump menyampaikan konsep itu setelah menggelar pertemuan dengan sejumlah pemimpin Arab dan Islam di sela sidang MU PBB di New York pada 23 September 2025. Hadir dalam pertemuan itu antara lain Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Selanjutnya pada Selasa, 30 Oktober 2025, Trump memberi waktu tiga atau empat hari kepada Hamas untuk memberi respons atas konsep damainya itu. Singkatnya, tujuan utama dari konsep damai Trump itu adalah demiliterisasi Jalur Gaza. Ada 20 butir dalam konsep damai Trump itu.
Di antara 20 butir itu terdapat butir yang menegaskan, Hamas harus membebaskan semua tawanan Israel dalam kurun waktu 72 jam setelah konsep damai Trump itu disetujui oleh semua pihak, dengan imbalan Israel harus membebaskan sekitar 2.000 tawanan Palestina di penjara Israel. Ada sebanyak 48 tawanan Israel di Jalur Gaza, 20 tawanan di antaranya masih hidup.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/30/b00880fa-2ad0-48fa-b193-9bd35b066ee3_jpg.jpg)
Tentu yang paling sulit bagi Hamas dan faksi-faksi bersenjata Palestina lainnya adalah terkait butir dalam konsep damai tersebut yang menegaskan harus dilakukan proses pelucutan senjata Hamas. Mereka juga harus menghancurkan infrastruktur militernya, seperti pabrik senjata dan jaringan terowongan bawah tanah.
Jika Hamas dan faksi-faksi bersenjata Palestina lainnya menerima konsep damai Trump tersebut, berarti mereka membubarkan diri sebagai organisasi atau kekuatan militer. Mereka perlu beralih sebagai organisasi politik penuh.
Meski pahit bagi Hamas, sebaiknya Hamas menerima konsep damai Trump itu demi kepentingan yang lebih besar bagi rakyat Palestina. Mengapa Hamas sebaiknya menerima konsep damai Trump itu? Konsep damai Trump tersebut telah memenuhi tujuan dan kepentingan utama rakyat Palestina saat ini.
Kepentingan utama rakyat Palestina saat ini adalah berhentinya perang Gaza sesegera mungkin. Selain itu, kepentingan lain adalah mengalirnya arus bantuan kemanusiaan tanpa batas ke Jalur Gaza di bawah kendali PBB dan Bulan Sabit Merah Internasional, pembangunan kembali Jalur Gaza, dan tidak ada relokasi warga Gaza ke luar negeri.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/23/2f0d6b52-0945-437b-a026-0478201530f4_jpg.jpg)
Hamas hendaknya memanfaatkan momentum munculnya konsep damai Trump itu untuk mencegah marabahaya terbesar dalam sejarah modern Palestina, yaitu genosida di Jalur Gaza dan proyek relokasi warga Jalur Gaza yang berjumlah 2,3 juta jiwa ke luar negeri. Bayangkan, warga Gaza yang tewas sejak meletus perang Gaza pada 7 Oktober 2023 telah mencapai 66.000 jiwa dan korban luka-luka 168.536 jiwa. Korban tersebut terus berjatuhan setiap hari sampai sekarang.
AS dan Israel juga sedang gencar berusaha mewujudkan proyek relokasi warga Gaza ke luar negeri. Namun, konsep damai Trump bisa menghentikan semua marabahaya yang sedang menimpa dan mengancam warga Jalur Gaza, yaitu genosida dan proyek relokasi warga Gaza ke luar negeri.
Dalam konsep damai Trump juga terdapat butir yang mengadopsi kepentingan nasional utama Palestina di masa mendatang, yaitu membuka pintu ke arah terwujudnya negara Palestina. Dalam butir nomor 19 ditegaskan, seiring dengan kemajuan pembangunan kembali Jalur Gaza kelak dan proses reformasi institusi otoritas Palestina, akan terbuka terciptanya situasi kondusif menuju berdirinya negara Palestina dan hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Palestina.
Butir 20 juga menegaskan bahwa AS akan menggelar dialog Israel-Palestina untuk mencapai kesepakatan atas horizon politik untuk hidup berdampingan secara damai dan sejahtera. Ini untuk pertama kalinya pada era Trump dan pemerintah Netanyahu yang beraliran ultrakanan menerima konsep berdirinya negara Palestina dan hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Palestina.
Tentu narasi ini merupakan kemajuan luar biasa bagi isu konflik Israel-Palestina saat posisi Palestina dan dunia Arab dalam keadaan lemah. Jika menelaah konsep damai Trump di Gaza secara utuh dan satu kesatuan, hal itu cukup menguntungkan Palestina dan memberi harapan akan terciptanya negara Palestina merdeka seperti yang dicita-citakan rakyat Palestina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/30/22fce72858fedf585f9a68e2c905320f-20250930_ANU_AS_mengakhiri_Perang_Gaza_mumed.jpg)
Tinggal kini Hamas dan rakyat Palestina meminta jaminan AS dan masyarakat internasional bagi terlaksananya semua butir dalam konsep damai Trump di Gaza itu secara utuh. Kompensasinya, mereka akan menanggalkan senjata.
Selanjutnya, konsep damai Trump itu hendaknya dijadikan kesepakatan damai komprehensif Israel-Palestina secara resmi yang memiliki kekuatan hukum dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang berkepentingan, seperti AS, PBB, Israel, Otoritas Palestina, plus Mesir, Jordania, Qatar, Turki, China, Uni Eropa, dan Rusia. Penandatanganan oleh pihak-pihak yang berpengaruh dan berkepentingan itu merupakan keniscayaan untuk lebih bisa menjamin terlaksananya semua butir konsep damai Trump itu secara satu kesatuan, bukan terpisah satu sama lain.
Jika semua itu terwujud, konsep damai Trump bisa menjelma menjadi kesepakatan damai yang paling historis dalam sejarah modern konflik Arab-Israel. Namun, sebaliknya, jika konsep damai Trump itu tidak dilaksanakan secara utuh, terutama terkait dengan terciptanya lingkungan yang kondusif bagi berdirinya negara Palestina, stabilitas yang diinisiasi Trump hanya sementara.
Jika situasi itu yang terjadi, dalam jangka panjang atau menengah akan meletus perang Israel-Palestina lagi. Perang Israel-Palestina mendatang mungkin bukan Hamas lagi yang mengobarkan, melainkan generasi baru Palestina, apa pun latar belakang ideologi mereka.
Musthafa Abd. Rahman, Wartawan Kompas 1991-2022
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/05/83f4c4d2-1830-4f50-9519-d163d4e0e786.jpg)
Penulis:
Musthafa Abd. RahmanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji