Hamas Siap Rundingkan Gencatan Senjata Sesegera Mungkin

Hamas siap berunding demi gencatan senjata di Gaza. Sementara militer Israel terus menyerbu dan membunuh warga di sekitar pusat bantuan kemanusiaan.

05 Jul 2025 16:11 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

GAZA, JUMAT – Menyikapi terus jatuhnya korban dan situasi kemanusiaan yang terus memburuk di Gaza, Hamas menyatakan siap berunding kembali untuk membahas gencatan senjata sesegera mungkin, Jumat (4/7/2025). Pada saat yang sama, militer Israel terus melancarkan serangan.

Pernyataan Hamas disampaikan setelah berunding dengan berbagai kelompok perjuangan Palestina. Langkah Hamas disampaikan sebelum PM Israel Benjamin Netanyahu bertemu sekutunya, Presiden AS Donald Trump, di Gedung Putih, Senin (7/7/2025).

Presiden Trump berusaha mendorong diakhirinya perang yang sudah berlangsung 21 bulan sejak Oktober 2023. ”Gerakan perjuangan telah siap untuk segera berunding membahas teknis pelaksanaan gencatan senjata,” demikian keterangan Hamas menyikapi usulan gencatan senjata 60 hari yang diusulkan AS.

Sebelumnya, pada 12 Mei 2025, Hamas membebaskan warga AS-Israel, Edan Alexander (21). Namun, Israel terus menggempur Gaza meski prajurit Israel terakhir yang disandera Hamas itu telah dibebaskan.

Ketika itu diadakan perundingan khusus antara AS dan Hamas untuk membebaskan Edan Alexander. Hamas mengatakan, pembebasan Alexander adalah bagian dari negosiasi gencatan senjata dan membuka blokade agar bantuan kemanusiaan bisa masuk ke Gaza.

Seorang pejabat Hamas mengatakan, pembebasan Alexander dilakukan karena ada kesepakatan khusus dengan AS. ”Sekarang bola ada di tangan AS dan Israel. Kita sudah memberikan apa yang AS minta. Kita menanti timbal balik dari mereka,” tutur pejabat Hamas tersebut.

Namun, semua upaya tersebut mentah karena Israel terus menyerang membabi buta. Bahkan, pusat-pusat bantuan kemanusiaan yang dikendalikan AS-Israel jadi ajang pembantaian warga dengan ratusan orang tewas ditembak saat mengambil bantuan makanan.

Israelis walk past a billboard congratulating US president-elect Donald Trump, in Jerusalem, on November 8, 2024. Israel's Prime Minister Benjamin Netanyahu on November 6 congratulated Donald Trump, who has won the US presidential election, calling it "history's greatest comeback" and a new beginning in the US-Israel alliance. (Photo by AHMAD GHARABLI / AFP)

Kini upaya berunding kembali dilakukan. Sekutu perjuangan Hamas, Jihad Islam, menyatakan mendukung gencatan senjata, tetapi harus ada jaminan Israel tidak melanjutkan agresi setelah seluruh sandera dibebaskan.

Kekhawatiran pihak Palestina menguat karena mereka memahami doktrin militer Israel yang mengenal Protokol Hanibal. Protokol Hanibal adalah tindakan mengorbankan kawan sendiri demi menghabisi lawan.

Adapun Presiden Trump yang mendengar respons Hamas untuk segera berunding mengatakan sangat senang. ”Ini kabar baik. Saya belum mendapat kabar resmi. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini. Kita harus bertindak soal Gaza,” ucap Trump.

Sebelumnya sudah dua kali gencatan senjata diberlakukan di Gaza atas bantuan mediasi Qatar, Mesir, dan AS. Bersamaan dengan gencatan senjata, dilakukan pembebasan sandera oleh Hamas dan sejumlah tahanan Palestina dilepaskan dari penjara Israel.

PM Netanyahu pada Jumat pagi bersumpah akan membebaskan seluruh sandera yang tersisa di Gaza. Netanyahu selama ini juga dihujani protes sejumlah kalangan di Israel yang menuntut dilakukannya gencatan demi pembebasan sandera.

”Komitmen kita yang utama adalah memastikan kepulangan para sandera dengan selamat,” kata Netanyahu.

Pada Kamis (3/7/2025), Trump mendesak agar keselamatan warga Gaza diupayakan. ”Hidup mereka seperti di neraka,” ujar Trump prihatin.

TOPSHOT - Palestinian civil defence try to extinguish a fire at a building hit by an Israeli strike in Gaza City in the central Gaza Strip, on July 2, 2025, amid the ongoing conflict between Israel and the Palestinian Hamas militant group. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Meski demikian, AS terus memasok senjata bagi militer Israel (Tzahal) dan berulang kali melakukan veto terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB soal gencatan senjata segera di Gaza.

Seorang tokoh Palestina yang memahami dinamika perundingan gencatan senjata, kepada kantor berita AFP, mengatakan, usulan terakhir adalah gencatan senjata 60 hari, dengan kewajiban Hamas membebaskan separuh dari sandera yang masih hidup, diperkirakan sejumlah 22 orang. Imbalannya, Israel membebaskan tahanan Palestina dari penjara Israel.

Sebanyak 251 orang disandera Hamas dalam serangan 7 Oktober 2023. Sebanyak 49 sandera masih di tangan Hamas. Menurut pihak Israel, 27 sandera sudah tewas.

Serbuan Israel

Tzahal dalam keterangan tertulis mengaku menyerang sasaran yang diduga Hamas di seluruh Gaza utara, yakni Gaza City, Khan Yunis, dan Rafah di selatan.

Pejabat Pertahanan Sipil Gaza, Mohammad al-Mughayyir, mengatakan, serangan Israel dan berondongan senjata yang dilakukan terhadap warga mengakibatkan 52 orang tewas pada Jumat.

Tzahal menyebut sedang mengumpulkan laporan soal penembakan-penembakan tersebut.

PHOTO TAKEN DURING A CONTROLLED EMBED TOUR WITH THE ISRAELI ARMY AND SUBSEQUENTLY EDITED UNDER MILITARY SUPERVISION -- This picture taken on June 8, 2025, shows Israeli soldiers standing at the entrance of a tunnel at the European Hospital during a controlled embed organised by the Israeli military, in Khan Yunis in the Gaza Strip. Israel on June 8 ordered the military to stop a humanitarian ship carrying activists, including Swedish climate campaigner Greta Thunberg, breaking the blockade of the war-ravaged Gaza Strip. (Photo by Sharon ARONOWICZ / AFP)

Pembatasan liputan media di Gaza oleh Israel membuat AFP tidak dapat melakukan verifikasi lapangan terhadap jumlah korban dan kekerasan yang dilaporkan otoritas Palestina di Gaza.

Dalam laporan terpisah, Tzahal mengumumkan, seorang sersan berusia 19 tahun tewas dalam baku tembak di selatan Jalur Gaza.

Mengenai korban Palestina, Mughayyir menerangkan, salah satu korban adalah bocah lima tahun yang tewas tertembak saat menunggu di lokasi bantuan kemanusiaan di Rafah. Selain itu, korban lainnya juga tewas tertembak saat menunggu bantuan di Jembatan Wadi Gaza di tengah Jalur Gaza.

Mereka termasuk korban-korban yang ditembak mati di dekat pusat bantuan kemanusiaan yang dikelola oleh AS dan Israel melalui Gaza Humanitarian Foundation (GHF). GHF mulai beroperasi pada 27 Mei 2025. Badan ini beroperasi dengan pengawalan tentara bayaran yang diketahui terlibat dalam penembakan warga Palestina dalam berbagai kesempatan di pusat-pusat penyaluran bantuan.

Komisioner HAM PBB, Ravina Shamdasani, dalam laporan Middle East Eye mengungkapkan, hingga 27 Juni 2025, sebanyak 613 warga tewas di dekat pusat-pusat bantuan GHF. Menurut Shamdasani, Tzahal sengaja menembaki warga yang mendekati pusat bantuan kemanusiaan.

Harian Israel, Haaretz, mengungkapkan pengakuan dari tentara bayaran yang mengatakan memang ada perintah penembakan langsung terhadap warga Palestina. Mereka tidak dibekali peluru karet, dan amunisi yang tersedia hanyalah peluru tajam untuk mengawal pusat bantuan kemanusiaan.

Pada Jumat pagi, Pertahanan Sipil Gaza mengatakan, delapan orang lagi tewas akibat serangan Israel di kamp-kamp pengungsi, termasuk dua anak. Sejak 7 Oktober 2023, serbuan Israel sejauh ini sudah menewaskan 57.268 orang di Gaza yang didominasi perempuan dan anak-anak. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul