Jam kerja yang panjang, kesibukan padat di lingkungan kerja membuat pekerja memiliki sedikit saja waktu untuk berinteraksi. Itu menjadi faktor merasa kesepian.
Bagi warga Jepang, April menjadi bulan di mana banyak hal dimulai. Tahun anggaran baru dimulai setiap bulan April. Tahun ajaran baru juga dimulai pada April. Bulan ini juga menjadi periode baru kesepian di antara pekerja, khususnya pekerja pria.
April menjadi bulan para mahasiswa mulai atau lulus kuliah. Mereka yang baru lulus dan berhasil dalam persaingan pencarian pekerjaan, memulai hari pertama kerja juga di April. Di April pula, rata-rata karyawan berpengalaman mendapat promosi atau mendapat penempatan baru.
Sayangnya, menurut laporan The Mainichi edisi Minggu (13/4/2025), tidak semua hal baru itu membuat warga Jepang, khususnya para pekerja, merasakan kebahagiaan. Mereka justru merasa kesepian. Angkanya lumayan untuk kasus kesepian ini, sekitar 10 persen.
Penelitian tentang perasaan kesepian yang dilakukan Universitas Tokyo dan Universitas Kitasato pada Oktober 2024 menunjukkan hal itu. Studi ini melibatkan 24.000 karyawan dari perusahaan-perusahaan Jepang.
Responden ditanyai soal kesepian di lingkungan baru. Mereka harus memilih satu dari empat pilihan jawaban, termasuk ”hampir selalu” dan ”hampir tidak pernah”.
Jawaban ”hampir selalu” dilontarkan 1.980 orang atau 8,3 persen dari responden. Pekerja laki-laki lebih berpotensi kesepian dibandingkan pekerja perempuan.
Dari aspek umur, mereka yang berusia 30-an dan 40-an tahun lebih berpotensi kesepian. Alasannya, pekerja dalam rentang usia ini cenderung menjalani kehidupan lebih berpusat pada pekerjaan dibandingkan mereka yang berusia lebih muda.
Berdasarkan jenis industri, kesepian lebih umum melanda mereka yang bekerja secara individu. Mereka yang bekerja di sektor manufaktur, konstruksi, pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Meskipun Anda mungkin tidak langsung cocok, penting untuk membangun hubungan dalam jangka panjang.
Sementara itu, mereka yang bekerja di industri jasa, kecil saja potensi dilanda kesepian. Sebabnya, para pekerja di sektor ini lebih banyak berinteraksi dengan orang lain.
Dari aspek jam kerja, mereka yang bekerja 61 jam atau lebih per minggu ditemukan berpotensi dua kali lebih dilanda perasaan kesepian.
Faktor penyebab
Rasa kesepian yang dirasakan banyak warga Jepang ini merupakan dampak dari sejumlah hal. Norito Kawakami, profesor kesehatan mental Sekolah Pascasarjana Kedokteran Universitas Tokyo, menerangkan, tempat kerja di Jepang itu selalu sibuk. Rata-rata jam kerja di Jepang cukup panjang.
Hal itu membuat waktu yang dimiliki sesama pekerja untuk berinteraksi atau sekadar mengobrol sangat sedikit. Di saat sama, waktu untuk pribadi juga berkurang.
Menurut Kawakami, merasa tidak cocok (dengan hal baru atau lingkungan baru) merupakan hal alami. ”Bersiaplah untuk melalui fase seperti itu selama dua hingga tiga bulan,” kata Kawakami.
Ia pun membagikan tips kepada para pekerja baru. Selama berada di lingkungan baru, pekerja bisa secara bertahap berinteraksi dengan rekan kerja.
Jika tetap merasa sendirian, imbuh Kawakami, lihatlah sisi positif dari kondisi sendirian. Bisa jadi seorang pekerja bisa lebih berkonsentrasi pada pekerjaan saat sendirian. Konsentrasi akan mengurangi rasa kesepian itu.
Kawakami mengingatkan, munculnya rasa kesepian menjadi tanda bahwa seseorang memerlukan interaksi sosial. ”Cobalah untuk meningkatkan waktu interaksi Anda dengan orang lain secara bertahap. Meskipun Anda mungkin tidak langsung cocok, penting untuk membangun hubungan dalam jangka panjang,” pungkasnya.
Tentang kesepian ini, mengulik laporan Tokyo Weekender edisi 25 Februari 2022, kesepian sudah menjadi masalah sosial di Jepang. Kesepian ini melanda sebagian besar penduduk dari semua kelompok umur.
Menurut Indeks Kemakmuran Legatum, indeks untuk menilai kesejahteraan sosial dan ekonomi di seluruh dunia secara komprehensif, Jepang memang ada di 20 negara paling makmur di dunia.
Namun, menurut peringkat modal sosial atau peringkat yang mengukur kekuatan hubungan pribadi dan profesional, Jepang ada di peringkat ke-143 dari 167 negara. Hal itu menunjukkan kurangnya kemampuan warga Jepang dalam hal hubungan interpersonal.
Data dari OECD Better Life Index, juga secara konsisten menempatkan Jepang di bawah rata-rata dalam hubungan komunitas dan keseimbangan kehidupan dengan kerja.
Dari itu semua Jepang menunjukkan indikator tidak langsung lainnya dari kesepian. Indikator itu, di antaranya, terdapat sejumlah besar rumah tangga dengan satu orang di Jepang.
Rumah tangga satu orang ini diprediksi dapat meningkat hingga 40 persen dari populasi pada tahun 2040. Lalu, jam kerja rata-rata di Jepang cukup panjang dan Jepang memiliki ketergantungan besar pada teknologi untuk menggantikan kekosongan sosial.
Padahal, sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan ikatan nyata dengan sesama manusia. Dari sana, Pemerintah Jepang membentuk gugus tugas untuk mengatasi kesepian dan isolasi sosial pada akhir tahun 2021.
Gugus tugas tersebut ditugaskan untuk menawarkan layanan konsultasi 24 jam melalui telepon dan media sosial. Gugus tugas juga bekerja sama dengan LSM dan sektor swasta untuk memastikan individu yang terisolasi dapat terhubung lebih baik dengan masyarakat.
Bagi warga Jepang, April menjadi bulan di mana banyak hal dimulai. Tahun anggaran baru dimulai setiap bulan April. Tahun ajaran baru juga dimulai pada April. Bulan ini juga menjadi periode baru kesepian di antara pekerja, khususnya pekerja pria.
April menjadi bulan para mahasiswa mulai atau lulus kuliah. Mereka yang baru lulus dan berhasil dalam persaingan pencarian pekerjaan, memulai hari pertama kerja juga di April. Di April pula, rata-rata karyawan berpengalaman mendapat promosi atau mendapat penempatan baru.
Sayangnya, menurut laporan The Mainichi edisi Minggu (13/4/2025), tidak semua hal baru itu membuat warga Jepang, khususnya para pekerja, merasakan kebahagiaan. Mereka justru merasa kesepian. Angkanya lumayan untuk kasus kesepian ini, sekitar 10 persen.
Serial Artikel
Kerja Berat ”Menteri Kesepian” Jepang
Rasa kesepian dan keterisolasian akibat pandemi Covid-19 di kalangan warga Jepang memicu naiknya angka bunuh diri. Tahun lalu, angka bunuh diri pada Oktober lebih besar dari kematian akibat Covid-19, Januari-Oktober.
Penelitian tentang perasaan kesepian yang dilakukan Universitas Tokyo dan Universitas Kitasato pada Oktober 2024 menunjukkan hal itu. Studi ini melibatkan 24.000 karyawan dari perusahaan-perusahaan Jepang.
Responden ditanyai soal kesepian di lingkungan baru. Mereka harus memilih satu dari empat pilihan jawaban, termasuk ”hampir selalu” dan ”hampir tidak pernah”.
Jawaban ”hampir selalu” dilontarkan 1.980 orang atau 8,3 persen dari responden. Pekerja laki-laki lebih berpotensi kesepian dibandingkan pekerja perempuan.
Dari aspek umur, mereka yang berusia 30-an dan 40-an tahun lebih berpotensi kesepian. Alasannya, pekerja dalam rentang usia ini cenderung menjalani kehidupan lebih berpusat pada pekerjaan dibandingkan mereka yang berusia lebih muda.
Berdasarkan jenis industri, kesepian lebih umum melanda mereka yang bekerja secara individu. Mereka yang bekerja di sektor manufaktur, konstruksi, pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Meskipun Anda mungkin tidak langsung cocok, penting untuk membangun hubungan dalam jangka panjang.
Sementara itu, mereka yang bekerja di industri jasa, kecil saja potensi dilanda kesepian. Sebabnya, para pekerja di sektor ini lebih banyak berinteraksi dengan orang lain.
Dari aspek jam kerja, mereka yang bekerja 61 jam atau lebih per minggu ditemukan berpotensi dua kali lebih dilanda perasaan kesepian.
Serial Artikel
Gen Z Sungkan Ambil Cuti
Hanya sebagian kecil karyawan Jepang -termasuk Gen Z- yang memanfaatkan seluruh jatah cuti tahunannya. Keengganan mereka mengambil cuti bermula dari etos kerja yang sudah lama ada.
Rasa kesepian yang dirasakan banyak warga Jepang ini merupakan dampak dari sejumlah hal. Norito Kawakami, profesor kesehatan mental Sekolah Pascasarjana Kedokteran Universitas Tokyo, menerangkan, tempat kerja di Jepang itu selalu sibuk. Rata-rata jam kerja di Jepang cukup panjang.
Hal itu membuat waktu yang dimiliki sesama pekerja untuk berinteraksi atau sekadar mengobrol sangat sedikit. Di saat sama, waktu untuk pribadi juga berkurang.
Menurut Kawakami, merasa tidak cocok (dengan hal baru atau lingkungan baru) merupakan hal alami. ”Bersiaplah untuk melalui fase seperti itu selama dua hingga tiga bulan,” kata Kawakami.
Ia pun membagikan tips kepada para pekerja baru. Selama berada di lingkungan baru, pekerja bisa secara bertahap berinteraksi dengan rekan kerja.
Jika tetap merasa sendirian, imbuh Kawakami, lihatlah sisi positif dari kondisi sendirian. Bisa jadi seorang pekerja bisa lebih berkonsentrasi pada pekerjaan saat sendirian. Konsentrasi akan mengurangi rasa kesepian itu.
Kawakami mengingatkan, munculnya rasa kesepian menjadi tanda bahwa seseorang memerlukan interaksi sosial. ”Cobalah untuk meningkatkan waktu interaksi Anda dengan orang lain secara bertahap. Meskipun Anda mungkin tidak langsung cocok, penting untuk membangun hubungan dalam jangka panjang,” pungkasnya.
Serial Artikel
Jepang-Jerman, Negeri Raksasa Otomotif Kekurangan Mekanik
Robot belum bisa sepenuhnya menggantikan mekanik. Kendaraan yang semakin otomatis sekalipun membutuhkan mekanik.
Tentang kesepian ini, mengulik laporan Tokyo Weekender edisi 25 Februari 2022, kesepian sudah menjadi masalah sosial di Jepang. Kesepian ini melanda sebagian besar penduduk dari semua kelompok umur.
Menurut Indeks Kemakmuran Legatum, indeks untuk menilai kesejahteraan sosial dan ekonomi di seluruh dunia secara komprehensif, Jepang memang ada di 20 negara paling makmur di dunia.
Namun, menurut peringkat modal sosial atau peringkat yang mengukur kekuatan hubungan pribadi dan profesional, Jepang ada di peringkat ke-143 dari 167 negara. Hal itu menunjukkan kurangnya kemampuan warga Jepang dalam hal hubungan interpersonal.
Data dari OECD Better Life Index, juga secara konsisten menempatkan Jepang di bawah rata-rata dalam hubungan komunitas dan keseimbangan kehidupan dengan kerja.
Dari itu semua Jepang menunjukkan indikator tidak langsung lainnya dari kesepian. Indikator itu, di antaranya, terdapat sejumlah besar rumah tangga dengan satu orang di Jepang.
Rumah tangga satu orang ini diprediksi dapat meningkat hingga 40 persen dari populasi pada tahun 2040. Lalu, jam kerja rata-rata di Jepang cukup panjang dan Jepang memiliki ketergantungan besar pada teknologi untuk menggantikan kekosongan sosial.
Padahal, sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan ikatan nyata dengan sesama manusia. Dari sana, Pemerintah Jepang membentuk gugus tugas untuk mengatasi kesepian dan isolasi sosial pada akhir tahun 2021.
Gugus tugas tersebut ditugaskan untuk menawarkan layanan konsultasi 24 jam melalui telepon dan media sosial. Gugus tugas juga bekerja sama dengan LSM dan sektor swasta untuk memastikan individu yang terisolasi dapat terhubung lebih baik dengan masyarakat.