Kasus keracunan berulang dalam waktu singkat di Kabupaten Bandung Barat. Orangtua dan siswa meminta program ini dimoratorium.
24 Sep 2025 20:25 WIB · Metropolitan
NGAMPRAH, KOMPAS — Kasus keracunan setelah menyantap makanan bergizi gratis kembali terjadi di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (24/9/2025). Ironisnya, baru beberapa hari lalu keracunan serupa terjadi di daerah yang sama.
Sebelumnya, Senin (22/9/2025), sebanyak 411 siswa di Kecamatan Cipobgkor keracunan sajian Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebagian disebut sudah diperbolehkan pulang.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyebut sudah meminta penghentian sementara penyediaan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) itu. Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menyatakan telah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) atas peristiwa itu. Selain itu, 85 dapur MBG di Cipongkor ditutup. Sebagian besar belum memiliki sertifikat kelayakan.
”Kami akan investigasi menyeluruh. Investigasi meliputi aspek perizinan, standar pengolahan, hingga bahan makanan yang digunakan,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/24/31a1fa0d47c0ea439510d88a72054d7a-20250924CHE01x.jpg)
Akan tetapi, sebelum evaluasi menyeluruh itu tuntas, kasus keracunan terjadi lagi di Cipongkor. Data sementara menyebut, ada sedikitnya 500 siswa SD hingga SMK yang terdampak. Bahkan, pada hari yang sama, keracunan tidak hanya di Cipongkor. Sebanyak 50 anak dari Kecamatan Cihampelas juga bernasib serupa.
Mereka lantas dirawat di berbagai tempat. Selain Rumah Sakit Umum Daerah Cililin, ada juga yang dirawat di Puskemas Cihampelas, Puskesmas Cipongkor, dan GOR Cipongkor.
Di GOR Cipongkor, misalnya, ratusan siswa keluar masuk dirawat bergantian karena keterbatasan tempat. Di ruangan tanpa penyejuk ruangan itu, siswa yang datang sampai harus menunggu di atas karpet.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/24/f4ec03e29a3150ce13dad3ecb0db2943-20250924CHE03x.jpg)
Berdasarkan pengamatan Kompas, wajah-wajah belia yang tengah dirawat itu pucat pasi. Sebagian besar sudah berulang kali muntah. Botol infus ada di atas kepala mereka. Lewat selang khusus, cairan infus masuk ke lengan kanan.
”Sekarang masih terasa pusing dan lemas. Lumayan setelah dipasang infus,” kata Fitri (13), siswa Mts Manarul Huda, Cipongkor.
Warga Gunung Halu, Bandung Barat, itu adalah salah satu yang harus menunggu sejam di atas karpet untuk mendapat tempat di salah satu pelbet dekat pintu masuk GOR.
Fitri mengatakan tidak menyangka bakal menjadi korban keracunan. Dua hari lalu, saat keracunan terjadi di Cipongkor, ia berharap tidak akan pernah menjadi salah satu korbannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/24/7cc5290ee42915526829aaa8b7c59ac3-20250924H1_HL_OK.jpg)
Irma (32), ibu dari Fitri (13), sudah mewanti-wanti agar anaknya tidak memakan sajian MBG bila basi atau tercium bau tidak segar. Lebih baik menahan lapar ketimbang keracunan.
Fitri mengklaim sudah memeriksa sajian itu sebelum menyantapnya. Selain nasi yang masih hangat, ada ayam goreng, sayur tahu, dan buah stroberi.
”Saya makin percaya makanannya aman karena rasanya paling enak selama dibagikan MBG. Untuk pertama kali, saya menghabiskan makanan MBG,” katanya.
Akan tetapi, petaka justru muncul dari makanan paling enak itu. Mulai makan sekitar pukul 10.00 WIB, setengah jam kemudian ia mulai pusing. Napasnya sesak. Perutnya pun mual.
Dia langsung dilarikan ke GOR untuk mendapat perawatan. GOR itu menjadi tempat yang sama untuk merawat korban keracunan dua hari sebelumnya.
Irma mengaku trauma. Apalagi, semakin sulit menebak makanan seperti apa yang berpotensi berbahaya. Dia berharap pemerintah memiliki solusi tepat. Bila tidak, hal yang sama bisa terjadi lagi.
”Kalau sekarang, hentikan dulu sementara. Kami masih trauma,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/24/3e2a6abd74bfc4b6aa3680d8c4cc1aef-20250924CHE04x.jpg)
Ena (50), orangtua siswa korban keracunan MBG lainnya, juga berharap soluai terbaik. Bila lewat cara yang sekarang masih saja terjadi keracunan, harus ada metode lain yang lebih aman.
”Kalau saya, inginnya orangtua yang memasak. Pemerintah menyediakan bahannya saja. Awasi saja distribusinya untuk mencegah ada penyelewengan,” katanya.
”Intinya, jangan sampai anak lain bernasib seperti anak saya ini,” ujar Ena sembari menatap anaknya, Siti Nuraida (14), yang tergolek lemas.
Terbaring di velbed, Siti tanpa gairah. Mata siswa SMK Karya Perjuangan Cipongkor itu menatap kosong. Wajahnya berkeringat. Sudah berulang kali dia muntah. Infus masih menempel di lengan kanannya.
Siti mengatakan, dirinya juga tidak curiga saat memakan menu nasi, ayam goreng, sayur tahu, sambal, dan tiga buah stroberi. ”Sambalnya paling enak,” kata Siti. ”Tapi, mungkin itu juga yang bikin keracunan,” kata Ena, menyambar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/23/449bed03932dc878cdca1694441d5e77-antarafoto_perawatan_korban_keracunan_mbg_di_kabupaten_bandung_barat_1758604651.jpg)
Sekretaris Daerah Jabar Herman Suryatman mengatakan, kasus keracunan di Cipongkor dan Cihampelas pada Rabu diperkirakan mencapai 550 orang. Mereka adalah siswa SD hingga SMA/SMK.
”Saya pastikan penanganan kesehatan bagi siswa terdampak berjalan dengan baik. Puluhan ambulans sudah kami siapkan. Sarana perawatan juga disediakan. Sudah ada yang pulang, tapi sebagian masih dirawat,” katanya.
Terkait keinginan untuk menghentikan program ini sementara waktu, Herman mengatakan, kewenangan itu ada di BGN. Bila ada aspirasi warga untuk moratorium MBG, pihaknya akan menyampaikan itu pada BGN.
”Terkait teknisnya ada kekurangan dan lain sebagainya, tentu harus dibereskan lewat evaluasi, terkait kandungan gizinya, higienitasnya, dan lain sebagainya. Itu domain dari BGN. Kami akan laporkan ke BGN, nanti kita tunggu,” katanya.
Herman memastikan, pemeriksaan terkait penyebab keracunan terus dilakukan. Untuk keracunan yang terjadi pada Senin, sampelnya sudah diteliti di laboratorium. Sementara untuk keracunan kali ini, sampelnya sudah diambil dan siap dikirimkan.
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Cornelius Helmy Herlambang, Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto