Kasus di kapal pesiar MV Hondius menjadi alarm bagi Indonesia yang selama puluhan tahun menyimpan ancaman zoonosis tersembunyi.
11 Mei 2026 08:27 WIB · Kesehatan
AP/Peter Dejong
Wabah virus hanta di kapal pesiar MV Hondius mengejutkan dunia. Bagi Indonesia, virus ini bukan ancaman baru, melainkan merupakan fenomena puncak gunung es.
Di balik minimnya perhatian publik, jejak virus hanta sebenarnya sudah ditemukan di beberapa kota Indonesia sejak lebih dari empat dekade lalu, dari Jakarta hingga Maumere. Bahkan, di Indonesia pernah diidentifikasi galur (strain) baru virus hanta yang dikenal sebagai ”Serang virus”, dinamai dari lokasi penemuannya di Serang, Banten.
Peredaran virus hanta di Indonesia telah dilaporkan oleh sejumlah penelitian epidemiologi. Laporan Nurhayati Lukman dari Indonesia Research Partnership on Infectious Disease (INA-Respond) dan tim di jurnal Viruses (2019) mengungkap, antibodi virus hanta ditemukan pada manusia di Indonesia sejak dekade 1980-an.
Riset kolaborasi para peneliti Kementerian Kesehatan Indonesia dengan National Institutes of Health Amerika Serikat tersebut menandakan paparan virus sudah terjadi lama, terutama di kawasan perkotaan padat dan pelabuhan dengan sanitasi buruk dan populasi tikus tinggi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/07/b05cd957-a6d6-4e15-95b3-ca00e046980a_jpg.jpg)
Laporan menyoroti lemahnya sistem diagnosis virus hanta di Indonesia. Antibodi virus hanta pada pasien demam yang sebelumnya didiagnosis sebagai demam berdarah, leptospirosis, atau infeksi lain.
Artinya, virus hanta yang menyerang pasien kemungkinan banyak yang salah diagnosis karena gejala awal mirip penyakit tropis lain, seperti demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Akibatnya, banyak kasus kemungkinan besar salah diagnosis atau tidak terdeteksi sama sekali.
Bahkan, penelitian ini juga mengidentifikasi strain baru disebut ”Serang virus”, dinamai dari lokasi penemuannya di Serang, Banten. Analisis genetik menunjukkan virus ini berbeda dari strain virus hanta lain yang sudah dikenal. Penemuan ini memperlihatkan Indonesia kemungkinan memiliki keragaman virus hanta yang belum banyak dipetakan.
Temuan itu penting karena menunjukkan evolusi lokal virus, membuka kemungkinan adanya strain endemik Indonesia, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai wilayah penting dalam studi zoonosis Asia Tenggara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/7c80573efc7e469dfe29ea655685c172-viruses_11_00698_g001.png)
Laporan penelitian Wibowo dari Puslitbang Biomedis dan Farmasi, Kementerian Kesehatan di Buletin Penelitian Kesehatan (2010) menyebut, antibodi virus hanta pada tikus dan manusia ditemukan di sejumlah kota pelabuhan Indonesia, seperti Semarang, Makassar, Jakarta, Maumere, dan Tanjung Priok.
Prevalensi antibodi pada tikus berkisar 7,9-40,3 persen. Sementara itu, pada manusia di beberapa wilayah mencapai 8,2 persen dengan prevalensi tertinggi di Maumere pernah ditemukan hingga 28,9 persen.
Wibowo menekankan bahwa virus hanta memiliki dua manifestasi utama pada manusia hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS), yang menyerang ginjal dan dapat menyebabkan demam tinggi, perdarahan, hingga gagal ginjal.
Selain itu, virus tersebut bisa menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome (HPS), bentuk yang lebih berat dengan gangguan paru dan pernapasan, memiliki tingkat kematian tinggi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/07/80d199b5-00b4-49bd-9451-7ec16c6a4063_jpg.jpg)
Penelitian rumah sakit di Jakarta dan Makassar pada 2004 terhadap pasien dengan demam tinggi dan gangguan ginjal menemukan beberapa pasien positif virus hanta dengan subtipe virus Seoul (SEOV), Hantaan (HNTV), Puumala (PUUV), dan Sin Nombre (SNV).
Di Indonesia, virus yang paling sering ditemukan adalah virus Seoul (SEOV), yang menyebar melalui tikus rumah (Rattus rattus dan Rattus norvegicus). Karena tikus jenis ini hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularan menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonotik lain yang terbatas pada hutan atau satwa liar.
Laporan Kemenkes terbaru menyebutkan, virus hanta yang ditemukan di Indonesia umumnya memicu HFRS, bukan HPS yang umumnya tersebar di wilayah Amerika, termasuk yang menyebabkan tiga orang tewas di kapal pesiar MV Hondius.
Sebaran virus hanta di Indonesia menyerupai fenomena puncak gunung es. Yang terdeteksi hanya sebagian kecil, sedangkan sebagian besar kemungkinan tersembunyi di balik diagnosis demam berdarah, leptospirosis, influenza, atau gagal ginjal akut.
Di Indonesia dilaporkan sudah ada 23 kasus virus hanta yang terkonfirmasi sejak 2024 hingga 2026 minggu ke-16. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menyampaikan, dalam keterangan pers, dari total kasus itu, tiga pasien meninggal. Dengan jumlah itu, case fatality rate (CFR) virus hanta di Indonesia tercatat mencapai 13 persen.
Namun, seperti disampaikan sejumlah laporan epidemiologi sebelumnya, sebaran virus hanta di Indonesia menyerupai fenomena puncak gunung es. Yang terdeteksi hanya sebagian kecil, sedangkan sebagian besar kemungkinan tersembunyi di balik diagnosis demam berdarah, leptospirosis, influenza, atau gagal ginjal akut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/11abac98f1c9a1576b0bedbea7f80be7-Screen_Shot_2025_03_09_at_06.08.33.png)
Mengacu laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus hanta yang memicu penyakit pernapasan berat di atas kapal pesiar MV Hondius semuanya diidentifikasi sebagai virus Andes (ANDV). Hingga 8 Mei 2026, total delapan kasus, termasuk tiga kematian dengan rasio kematian kasus 38 persen, telah dilaporkan.
Virus Andes, diketahui satu-satunya virus hanta yang bisa menular dari manusia ke manusia, yang umumnya beredar di Amerika Selatan. Meski demikian, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menilai, risiko terhadap populasi global yang ditimbulkan peristiwa ini rendah. Risiko bagi penumpang dan awak kapal dianggap moderat.
Dalam pembaruan tentang wabah yang diterbitkan pada Jumat (8/5/2026), WHO mencantumkan seorang pria dan perempuan dewasa yang tak disebutkan identitasnya yang bepergian bersama sebagai kasus pertama virus hanta di MV Hondius. Pria itu diklasifikasikan sebagai ”kasus yang mungkin”, sementara infeksi pada perempuan itu dikonfirmasi melalui pengujian reaksi rantai polimerase (PCR).
WHO menyebutkan, penyelidikan awal menunjukkan ”kemungkinan terpapar hewan pengerat selama kegiatan pengamatan burung”, berdasarkan riwayat perjalanan mereka yang pertama kali terinfeksi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/10/5530df6a-bbe6-4eb8-b200-f67f5cd29c08.jpg)
Sejumlah media internasional, seperti Newsweek, mengidentifikasi pasien pertama itu adalah ahli ornitologi atau pengamat burung Leo Schilperoord (70) bersama istrinya, Mirjam (69).
Sebelum naik kapal pesiar itu, keduanya mengunjungi Patagonia utara, yang terdapat 101 kasus penyakit virus hanta yang dikonfirmasi, termasuk 32 kematian, selama beberapa bulan terakhir. WHO saat ini menyelidiki asal mula wabah itu berkoordinasi dengan pihak berwenang di Argentina dan Chile.
Kini, lebih dari 90 penumpang kapal pesiar yang terjangkit virus hanta itu telah dievakuasi di Tenerife, Spanyol, dan dari sana rencananya akan diterbangkan pulang ke negara masing-masing. Tedros mengatakan kepada penduduk Tenerife bahwa berlabuhnya kapal pesiar yang dilanda wabah virus hanta tak menimbulkan risiko pandemi seperti Covid-19.
Para penumpang kapal pesiar ini menghadapi kemungkinan harus mengisolasi diri setelah meninggalkan Tenerife, sebuah prospek berat karena virus itu memiliki masa inkubasi hingga sembilan minggu. WHO merekomendasikan masa karantina 42 hari bagi para penumpang kapal pesiar sejak paparan terakhir mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/07/fdba7fb6-bf19-4ccc-ac2d-8fc8405aff06_jpg.jpg)
Sekalipun potensi virus hanta menjadi pandemi global dinilai relatif kecil, wabah di MV Hondius ini menjadi alarm untuk lebih memperhatikan penyakit yang diam-diam sudah berkembang di banyak negara, termasuk Indonesia. Bahkan, dari riset sebelumnya, penyakit ini menyerupai fenomena gunung es.
Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi Tjandra Yoga Aditama mengatakan, Pemerintah Indonesia terus melakukan surveilans dengan luas dan signifikan untuk mendeteksi keberadaan virus hanta. ”Surveilans ini epidemiologik, genomik maupun klinik,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah didorong untuk mendukung riset kesehatan dari perguruan tinggi dengan dana dan dukungan memadai. Sekalipun sudah lama beredar di Indonesia, data dan kajian tentang virus hanta terbatas. Literasi dan pemahaman publik mengenai upaya pencegahan penyakit ini juga masih minim.
Mengingat virus hanta ini sumbernya dari tikus, menurut Tjandra, pemerintah juga harus membumikan program One Health di lapangan. Pendekatan One Health melihat kesehatan manusia tidak bisa dipisahkan dari kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/10/c001e731-92ad-4f94-8e86-60cae9bba84b_jpg.jpg)
Konsep tersebut digunakan dunia internasional untuk menghadapi penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia, termasuk virus hanta, flu burung, rabies, hingga Covid-19.
Pendekatan One Health ini menjadi sangat penting untuk mengantisipasi virus hanta yang terutama menyebar terutama melalui urine, kotoran, air liur, atau atau debu yang terkontaminasi tikus pembawa virus.
Dalam konteks virus hanta, One Health bukan sekadar konsep kesehatan global, melainkan pengingat bahwa wabah sering lahir dari lingkungan yang rusak.
Kota yang dipenuhi sampah, drainase buruk, permukiman padat, dan ledakan populasi tikus menciptakan ruang ideal bagi penyakit zoonotik berkembang. Perlu dicatat, virus hanta terutama menular melalui urine, kotoran, air liur, atau atau debu yang terkontaminasi tikus pembawa virus.
Selama manusia terus memperlakukan lingkungan sebagai tempat membuang limbah dan bukan ruang hidup bersama, ancaman seperti virus hanta akan terus muncul dari sudut-sudut kota yang paling diabaikan.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan