Wabah hantavirus di kapal pesiar menunjukkan bagaimana penyakit zoonosis, yakni dari tikus, dapat muncul tiba-tiba dalam sistem global yang saling terhubung.
05 Mei 2026 14:33 WIB · Kesehatan
AFP
Di tengah laut yang seharusnya tenang, sebuah kapal pesiar berubah menjadi ruang kecemasan. Bukan badai atau kecelakaan, melainkan ancaman dari virus mematikan.
Dalam beberapa hari terakhir, laporan kematian penumpang di kapal pesiar internasional mengguncang perhatian dunia. Dugaan mengarah pada hantavirus, penyakit yang biasanya diasosiasikan dengan hutan, gudang tua, atau perdesaan, bukan kapal mewah yang melintasi samudra.
Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kapal pesiar MV Hondius dengan ratusan orang di dalamnya kini tertahan di lepas pantai Tanjung Verde, Afrika Barat, sejak Senin (4/5/2026). Tiga penumpang dilaporkan meninggal dan sedikitnya tiga lainnya dalam kondisi kritis akibat dugaan wabah hantavirus langka.
Jenazah salah satu korban, warga Jerman, masih berada di kapal. Sebelumnya, seorang pria Belanda berusia 70 tahun meninggal pada 11 April, disusul istrinya yang wafat di Afrika Selatan. Hasil tes darah mengonfirmasi infeksi virus tersebut.
Dari 87 penumpang yang tersisa, terdapat warga dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Spanyol, serta 61 awak kapal. Dua awak kapal dilaporkan sakit parah dengan gejala pernapasan. Situasi ini mendorong respons darurat. ”Kami telah mengirim tim medis yang terdiri dari dua dokter, seorang perawat, dan seorang spesialis laboratorium ke kapal tersebut dalam tiga kali perjalanan,” kata Ann Lindstrand dari WHO.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/05/091e115a4450edb3e13be98756cfd272-Hantavirus_What_to_Know_137998995.jpg)
Evakuasi menjadi tantangan besar. ”Ini sangat rumit bagi otoritas Tanjung Verde,” ujar Lindstrand.
”Yang harus mereka hadapi adalah peristiwa kesehatan masyarakat. Tentu saja, mereka telah memikirkan perlindungan penduduk di sini,” ucapnya menambahkan.
Pemerintah setempat menolak kapal untuk berlabuh demi mencegah risiko penularan. Opsi lain tengah dipertimbangkan, termasuk evakuasi ke wilayah Kepulauan Canary, Spanyol. Sekalipun WHO menyatakan bahwa insiden di kapal ini masih terisolasi dan tidak menjadi wabah global, kita perlu berhati-hati terhadap kemunculan penyakit mematikan ini.
Penularan tidak memerlukan kontak langsung, cukup menghirup partikel yang terkontaminasi.
Kapal ini sebelumnya menjalani pelayaran panjang dari Argentina menuju Antartika dan pulau-pulau terpencil Atlantik Selatan. Namun, bagaimana virus yang identik dengan tikus ini bisa muncul di kapal modern yang relatif steril masih menjadi tanda tanya.
WHO menyatakan penyelidikan masih berlangsung. Dugaan kuat mengarah pada hantavirus, penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui partikel udara yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur tikus. Penularan tidak memerlukan kontak langsung, cukup menghirup partikel yang terkontaminasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/05/25b5003b2985d9304112ef06bc85628b-wires_photo_14_.jpg)
Guru Besar Pulmonologi dan Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama menjelaskan pola klinis penyakit ini. Pasien mengalami demam dan gangguan gastrointestinal, lalu cepat memburuk menjadi pneumonia berat hingga gagal napas akut. ”Varian gejala pada pasien adalah demam, gejala gastrointestinal, lalu dengan cepat memburuk menjadi pneumonia dan keadaan gagal napas akut (acute respiratory distress syndrome) lalu shock,” tuturnya.
Secara umum, hantavirus jarang menular antarmanusia. Namun, ada pengecualian. Tjandra menyebut, ”Walaupun jarang terjadi, pernah dilaporkan terjadinya penularan virus hanta dari manusia ke manusia, khususnya pada spesies andesvirus.”
Adapun hingga kini jenis virus yang terlibat dalam kasus kapal MV Hondius ini belum diketahui.
Kejadian ini terasa janggal. Bagaimana virus yang biasanya muncul di lanskap liar bisa hadir di ruang tertutup modern?
Namun, belakangan virus hanta semakin muncul ke permukaan dan bisa muncul di tempat tak terduga. Sebelumnya, kematian aktor legendaris Gene Hackman bersama istrinya, Betsy Arakawa, di rumah peristirahatan mereka di Santa Fe, New Mexico, pada awal 2025 juga dikaitkan dengan infeksi hantavirus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/27/f1357ade0aa228b3eb1bcec6c547481f-000_36YN3Q8.jpg)
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hantavirus dapat menyebabkan dua sindrom utama, yaitu sindrom paru hantavirus (HPS) dan demam berdarah dengan sindrom ginjal. Penularan terjadi melalui paparan kotoran atau cairan tubuh hewan pengerat meskipun gigitan juga mungkin terjadi. Gejala awal sering menyerupai flu, kelelahan, demam, nyeri otot—namun dapat berkembang menjadi sesak napas parah akibat cairan di paru-paru. Sekitar sepertiga kasus berujung kematian.
Data CDC menunjukkan 864 kasus tercatat di Amerika Serikat antara 1993-2022, dengan konsentrasi di wilayah perdesaan. Namun, misteri medis masih banyak—di antaranya mengapa sebagian pasien mengalami gejala ringan, sementara yang lain berujung fatal—dan belum sepenuhnya dipahami.
Di Indonesia, kasus serupa juga mulai muncul. ”Indonesia pertama kali melaporkan kasus konfirmasi penyakit hantavirus pada manusia di tahun 2025,” kata Tjandra.
Hingga Agustus 2025, tercatat 10 kasus dari berbagai provinsi. ”Sampai kini kita belum membaca update data kasus hantavirus di negara kita sampai tahun 2026 ini,” ujarnya.
Kemungkinan terbesar, para korban terpapar dari sumber yang sama, yaitu ruang penyimpanan, ventilasi, atau logistik yang membawa jejak hewan pengerat.
Kapal pesiar pernah menjadi simbol penyebaran penyakit, terutama saat pandemi Covid-19. Namun, hantavirus berbeda. Virus ini tidak menyebar lewat interaksi sosial, tetapi melalui lingkungan yang terkontaminasi.
Kemungkinan terbesar, para korban terpapar dari sumber yang sama, yaitu ruang penyimpanan, ventilasi, atau logistik yang membawa jejak hewan pengerat. Dalam ruang tertutup, seperti kapal, paparan kecil bisa tampak seperti wabah besar dalam waktu singkat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/11abac98f1c9a1576b0bedbea7f80be7-Screen_Shot_2025_03_09_at_06.08.33.png)
Tikus adalah spesies yang sangat adaptif. Mereka hidup di pelabuhan, gudang, bahkan kapal. Dalam konteks globalisasi, mereka dapat berpindah melalui rantai logistik—kontainer makanan, kapal kargo, atau pelabuhan transit. Begitu masuk ke sistem tertutup, seperti kapal pesiar, mereka membawa risiko biologis yang sulit dideteksi.
Kasus ini menunjukkan sisi lain globalisasi: mobilitas manusia yang tinggi juga diikuti perpindahan organisme lain. Virus yang dulunya terbatas di satu wilayah kini dapat muncul di tempat jauh. Kapal pesiar menjadi simbol dari sistem global ini—ruang yang mempertemukan manusia, barang, dan risiko dalam satu lintasan.
Di luar faktor logistik, ada ancaman yang lebih besar, yaitu perubahan iklim. Studi terbaru dari University of California, Davis yang dipublikasikan dalam jurnal npj Viruses (4 Mei 2026) menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat memperluas penyebaran virus yang dibawa tikus.
Penelitian ini berfokus pada arenavirus, kelompok virus yang mirip dengan hantavirus dalam hal penularan dan dampaknya. Dengan menggabungkan data iklim, perubahan habitat, dan pergerakan populasi tikus, para peneliti menemukan bahwa dalam 20-40 tahun ke depan, risiko infeksi dapat meluas ke jutaan orang di wilayah baru.
”Seiring percepatan perubahan iklim, risiko wabah dapat bergantung pada pergeseran populasi hewan pengerat,” kata Pranav S Kulkarni, penulis utama studi tersebut.
Model mereka menunjukkan kemungkinan penyebaran virus ke wilayah baru di Amerika Selatan, termasuk Kolombia, Brasil, dan kawasan Andes.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/25/84588db2-d584-4149-b1d2-8ae3004d4e99.jpg)
Artinya, bukan hanya manusia yang bergerak, ekosistem juga ikut bergeser. Perubahan suhu, curah hujan, dan penggunaan lahan memaksa tikus mencari habitat baru. Di mana tikus berpindah, risiko penyakit ikut menyertai.
Jika ditarik ke kasus kapal pesiar, gambarnya menjadi lebih jelas. Dunia saat ini mengalami pergeseran besar dalam distribusi penyakit zoonosis. Virus yang dulunya terbatas kini dapat berpindah melalui rantai logistik global, mengikuti pergerakan hewan reservoir, dan diperkuat oleh perubahan iklim.
Kasus hantavirus di kapal pesiar bukan sekadar insiden kesehatan. Ini adalah cerminan hubungan kompleks antara manusia, hewan, dan lingkungan. Kapal pesiar bukan sumber masalah, melainkan titik temu dari berbagai risiko: mobilitas global, ekosistem yang berubah, dan celah dalam sistem modern.
Kasus hantavirus di kapal pesiar bukan sekadar insiden kesehatan. Ini adalah cerminan hubungan kompleks antara manusia, hewan, dan lingkungan.
Kita hidup di dunia yang semakin terkoneksi, tetapi juga semakin rentan. Banyak hal bisa dikendalikan, tetapi tidak semuanya. Ancaman terbesar sering datang dari yang tak terlihat—dari ruang yang kita anggap aman.
Di tengah laut yang luas, sebuah virus kecil menjadi pengingat bawah modernitas tidak menghapus risiko, hanya mengubah bentuknya. Dari celah-celah kecil itulah, krisis bisa muncul, diam-diam, lalu tiba-tiba menjadi wabah.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Madina NusratPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra