Siti Fadia Silva Ramadhanti/Lanny Tria Mayasari menjuarai turnamen Thailand Masters. Tiga wakil lain dari Indonesia kalah di final.
02 Feb 2025 21:37 WIB · Olahraga
BANGKOK, MINGGU — Kemenangan Siti Fadia Silva Ramadhanti/Lanny Tria Mayasari pada turnamen bulu tangkis Thailand Masters menjadi satu-satunya gelar juara dari wakil Indonesia yang tampil pada empat final. Gelar itu menjadi gelar tunggal Indonesia dari empat turnamen BWF World Tour sejak Januari.
Satu gelar juara itu didapat dari total 20 gelar yang diperebutkan dalam turnamen Malaysia Terbuka Super 1000, India Terbuka Super 750, Indonesia Masters Super 500, dan Thailand Masters Super 300 dalam empat pekan beruntun. Indonesia tertinggal dari Korea Selatan dan Thailand yang masing-masing mengumpulkan empat gelar. Negara lain yang memiliki gelar juara lebih banyak dari Indonesia adalah Malaysia dan China dengan dua gelar.
Dalam final Thailand Masters, yang berlangsung di Stadion Nimibutr, Bangkok, Minggu (2/2/2025), Indonesia sebenarnya menempatkan finalis pada empat nomor, kecuali pada tunggal putra yang dijuarai pemain Singapura, Jia Heng Jason Teh. Namun, hanya Fadia/Lanny yang akhirnya bisa berdiri di podium tertinggi setelah mengalahkan wakil tuan rumah, Laksika Kanlaha/Phataimas Muenwong, dengan skor 15-21, 21-13, 21-8.
Fadia mendapatkan gelar itu setelah bermain dalam enam gim selama total 2 jam 10 menit. Sebelum bermain bersama Lanny pada final keempat, Fadia tampil pada laga pertama bersama Dejan Ferdinansyah di final ganda campuran yang juga berlangsung tiga gim. Akan tetapi, Dejan/Fadia kalah dari jagoan tuan rumah, Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran, 21-19, 17-21, 13-21.
”Hari ini full main enam gim tapi terbayarkan, terbalaskan karena bisa jadi juara di ganda putri. Sangat senang,” komentar Fadia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/02/5be6fd081ca0feded0147abec40ad7af-PodiumXD_ThailandMasters2025_PBSI_20250202.jpg)
Atlet berusia 24 tahun itu bermain dalam dua nomor pada tahun ini. Dalam nomor ganda campuran, Fadia bermain besama Dejan yang baru tahun ini menjadi atlet pelatnas. Adapun di ganda putri, Fadia bersama Lanny sejak Oktober ketika partner Fadia, yaitu Apriyani Rahayu, menepi dari turnamen setelah selesai Olimpiade Paris 2024.
Fadia/Lanny memulai dari turnamen level rendah, yaitu Indonesia International Challenge dan menjadi juara, lalu menjadi finalis Indonesia Masters Super 100. Pada turnamen BWF World Tour level tinggi, mereka masih kalah dari kekuatan utama ganda putri, seperti pemain China dan Jepang.
Akan tetapi, saat bermain di Malaysia Terbuka, Fadia/Lanny bisa bertahan hingga perempat final di antaranya dengan mengalahkan ganda putri tuan rumah ranking kelima dunia, Pearly Tan/Thinaah Muralitharan. Di Thailand, Fadia/Lanny menang atas dua ganda putri tuan rumah ranking 20 besar dunia, yaitu Kanlaha/Muenwong dan Benyapa Aimsaard/Nuntakarn Aimsaard.
Pengalaman tersebut bisa menambah rasa percaya diri mereka meski setelah ini akan berpisah dalam kejuaraan perseorangan. Fadia akan bermain kembali bersama Apriyani dan mereka direncanakan bermain di Orleans Masters serta All England, pada Maret.
”Setelah ini, di turnamen perseorangan, kami akan berpisah. Tapi, kami di ganda putri akan tetap memberikan yang terbaik siapa pun pasangannya. Kami selalu bertekad menyumbang prestasi untuk ganda putri Indonesia,” kata Fadia.
Menurut Kasubbid Hubungan Media dan Dokumentasi PBSI Yuni Kartika, Lanny direncanakan akan berpasangan dengan Velisha Christina. Saat ini, Velisha tercatat sebagai atlet ganda campuran pelatnas pratama.
Nama Lanny sempat didaftarkan di Jerman Terbuka bersama Febi Setianingrum, yang selama ini berpasangan dengan Jesita Putri Miantoro, tetapi, keikutsertaan mereka dibatalkan. Dengan demikian, dalam waktu dekat, Lanny hanya akan fokus pada Kejuaraan Asia Beregu Campuran yang akan berlangsung di Qingdao, China, 11-16 Februari.
Pemain ganda putri di pelatnas utama yang berjumlah sembilan orang membuat pelatih harus menemukan pasangan yang tepat untuk setiap orang. Nitya Krishinda Maheswari, yang saat ini menjadi pelatih ganda putri pelatnas utama, mengatakan, sektornya masih melakukan pencarian pasangan yang pas pada awal 2025 ini. Nitya mengatakan itu di sela turnamen Indonesiai Masters, tetapi, dia belum mau menyebutkan rencana lebih detail.
Dejan juga harus menanti kesempatan lain untuk menunjukkan kemampuan yang lebih baik bersama Fadia. Untuk turnamen perseorangan, mereka didaftarkan ke Jerman Terbuka dan Orleans Masters. Namun, Dejan/Fadia masih berstatus pemain cadangan sehingga harus menunggu pembatalan pasangan lain, dengan ranking di atas mereka agar mendapatkan kesempatan bermain.
Sebelum mencapai final Thailand Masters, Dejan/Fadia bermain hingga babak kedua di Malaysia Terbuka dan babak pertama India Terbuka. ”Hasil di Thailand bisa dibilang cukup bagus walaupun kami belum bisa juara. Penampilan kami sudah lebih baik dibandingkan dua turnamen sebelumnya, tetapi masih ada yang harus ditingkatkan dari sisi komunikasi dan pola permainan. Hasil ini penting untuk turnamen-turnamen selanjutnya,” komentar Dejan.
Sementara, Fadia menilai dirinya harus terus membiasakan bermain ganda campuran yang ritmenya lebih cepat dibandingkan ganda putri, nomor yang menjadi fokusnya sejak 2019. ”Tadi, saya mencoba lebih aktif bergerak. Masih ada kesalahan yang harus diperbaiki dan kebiasaan-kebiasaan bermain ganda campuran harus dicoba terus dalam latihan,” kata Fadia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/02/1d58cc9d998266417eb827c1ebd4516b-PodiumMD3_ThailandMasters2025_PBSI_20250202.jpg)
Kekalahan di final juga dialami ganda putra, Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin. Mereka kalah dari Seo Seung-jae/Jin Yong (Korea Selatan) 18-21, 17-21, pemain yang dikalahkan pada babak kedua Indonesia Masters, sepekan sebelumnya. Fikri mengatakan, Seo/Jin bermain dengan pola menyerang yang lebih konsisten dan lebih sedikit membuat kesalahan.
Hasil tersebut membuat Fikri/Daniel belum menjuarai turnamen sejak berpartner seusai Olimpiade Paris, Agustus 2024. Mereka merupakan hasil tukar pasangan dengan ganda lain yang juga bermain bersama saat ini, Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana. Leo/Bagas sudah memiliki satu gelar juara, dari Korea Terbuka 2024, tetapi kalah dari Seo/Jin pada perempat final di Thailand.
Perubahan pasangan itu dilakukan sebagai upaya untuk mencari ganda putra baru yang bisa menembus kekuatan elite dunia dengan target jangka panjang, Olimpiade Los Angeles 2028. Oleh karena harus mengumpulkan poin sebanyak mungkin untuk menaikkan peringkat bersama pasangan baru, turnamen yang diikuti pun beragam, mulai dari Super 300 hingga 1000.
Fikri, yang menjuarai All England Super 1000 pada 2022 bersama Bagas, mengatakan, tampil dalam turnamen level berapa pun, dia harus tetap fokus. ”Ini pelajaran bagi kami. Bermain di level berapa pun harus mencari gelar juara,” katanya.
Pelajaran itu akan mereka bawa ke ajang lebih besar, All England. Mereka menjadi wakil ganda putra Indonesia bersama Leo/Bagas, Fajar/Rian, dan Sabar Karyaman Gutama/Muhammad Reza Pahlevi Isfahani.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/02/e75e4d671c8a116bfd02107312a88dd3-PodiumWS2_ThailandMasters2025_PBSI_20250202.jpg)
Setelah mencapai final pertamanya di ajang BWF World Tour, Komang memiliki target ingin mengimbangi atlet-atlet yang lebih berpengalaman. Tunggal putri berusia 22 tahun itu kalah dari Pornpawee Chocuwong 21-18, 16-21, 13-21 dalam final Thailand Masters, tetapi itu menjadi momen yang diharapkannya bisa naik level.
”Dibandingkan tahun lalu yang sulit, ini merupakan hal yang baik bagi saya. Di turnamen ini, saya mencari lagi pola permainan terbaik yang membuat saya nyaman. Itu yang hilang pada tahun lalu, terutama enam bulan terakhir. Astungkara, sekarang sudah membaik. Harapannya, saya bisa konsisten, mengadu di level atas,” ujar Komang.
Target itu bisa dia capai pada turnamen inidividu berikutnya, yaitu di Jerman dan Orleans. Meskipun berlevel Super 300, seperti Thailand Masters, dua turnamen itu diikuti lebih banyak pemain top dunia karena merupakan ajang pemanasan untuk All England. Di Orleans, yang diikuti sebagian besar pemain ranking sepuluh besar dunia, Komang harus tampil sejak fase kualifikasi.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari