Bencana bisa datang kapan saja. Namun, jangan sampai ujungnya menimbulkan korban jiwa.
08 Mar 2025 08:30 WIB · Nusantara
Bencana bisa datang kapan saja. Namun, ikhtiar semua pihak menjaga nyawa orang di sekitarnya harus tetap ada. Hanya dengan mitigasi bencana, keinginan itu bisa tetap terjaga.
Kisah Asep Maulana (59) yang tewas saat banjir menerjang Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (3/3/2025), begitu mengena. Warga Kampung Pesanggarahan di Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, itu meninggal dunia setelah menyelamatkan istrinya, Yuyun, dari banjir Sungai Cisarua.
Dari informasi yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, saat air mulai meluap, Asep dan keluarganya berada di sebuah saung di tepi Sungai Cisarua. Hanya dalam hitungan menit, banjir bandang datang dan menyeret Yuyun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/88854393a062412f9411caeba06fe40c-PUncak_xxx.jpg)
Yuyun bisa diselamatkan Asep menggunakan seprai. Namun, Asep justru tak selamat. Dia terbawa arus sungai. Jenazahnya ditemukan di Bendungan Ciawi keesokan harinya.
Di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Amanillah Bayu Pratama (14) juga tidak selamat karena disapu banjir di Desa Mulya Jaya, Kecamatan Teluk Jambe Barat, Rabu (5/3/2025). Saat kejadian, santri asal Purbalingga, Jawa Tengah, itu tengah berada di pinggir sungai bersama dua temannya.
Dua temannya berhasil menyelamatkan diri. Namun, Bayu tidak selamat. Dia berpulang di usia muda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/07/12cd8044840605bd6d881f36a04d10cb-jembatan_sukabumi.jpeg)
Sehari kemudian, duka muncul di Kampung Gumelar, Kecamatan Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. N (3) tewas diseret luapan Sungai Cipalabuhan yang tiba-tiba meluap pada Kamis (6/3/2025).
Ibu dari N yang terseret banjir belum ditemukan. Selain dia, ada lima warga Kecamatan Simpenan dan Kecamatan Lengkong juga masih dicari akibat banjir dan longsor.
Duka mendalam dilayangkan untuk mereka yang meninggal akibat bencana. Namun, kepergian mereka menyiratkan benang merah serupa. Warga masih tidak siap menghadapi bencana meski beberapa kali diancam hal yang sama.
Banjir bandang, misalnya, pernah terjadi pada Selasa (19/1/2021) di kawasan Gunung Mas, Kampung Rawa Dulang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Saat itu, ratusan orang mengungsi.
Pada Selasa (31/5/2022), banjir mengakibatkan jalan kampung Ciburial, Kecamatan Cisarua, terendam banjir. Sekitar setahun kemudian, banjir bandang bahkan terjadi di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Sabtu (9/11/2024). Lokasinya dekat dengan banjir bandang tahun ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/01/28/20210128bky-Longsor-Lipsus-Puncak-8_1611828306.jpg)
Di Karawang, banjir juga berulang kali terjadi setiap Sungai Citarum dan Sungai Cibeet. Seperti semua daerah yang berada di bantaran Sungai Citarum, banjir di Telukjambe Barat pasti terjadi setiap tahun.
Bencana di Kabupaten Sukabumi juga memilukan. Korban tewas masih berjatuhan saat air mata akibat banjir dan longsor besar di awal Desember 2024 belum kering. Saat itu 10 orang tewas akibat banjir bandang dan longsor di 34 kecamatan.
Alam memang tidak bisa dilawan. Hujan deras pasti datang setiap tahun. Akan tetapi, dampak buruk seharusnya bisa ditekan. Kuncinya mitigasi di daerah rawan. Pemerintah daerah bertanggung jawab menegakkan hal itu.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menegaskan, peran pemda dalam mitigasi bencana sangat krusial. Itu terutama dalam memastikan setiap peringatan dini ditindaklanjuti dengan langkah antisipatif di lapangan.
Dwikorita mengatakan, peringatan dini bukan sekadar informasi, melainkan juga seruan untuk tindakan nyata. Kecepatan dan kesiapan dalam merespons peringatan dini cuaca ekstrem sangat menentukan upaya mitigasi risiko, baik dari segi korban jiwa maupun kerugian materiil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/01/02/c18783a2-87a5-4971-b0c4-d5887f90e921.jpg)
Menurut Dwikorita, pihaknya terus menyampaikan peringatan dini cuaca ekstrem melalui berbagai kanal komunikasi resmi, termasuk website, aplikasi mobile, SMS blasting dan media sosial BMKG. Namun, efektivitas peringatan dini ini sangat bergantung pada kesiapan daerah dalam meresponsnya dengan langkah konkret.
Dwikorita memahami, banyak daerah saat ini dipimpin kepala daerah baru. Terbuka kemungkinan, mereka masih beradaptasi dengan perangkat di bawahnya.
Oleh karena itu, BMKG siap memberikan pendampingan lebih lanjut agar pemahaman terhadap sistem peringatan dini semakin optimal dan dapat diterjemahkan ke dalam tindakan mitigasi yang efektif.
Pegiat bencana dari komunitas Jaga Balai dan Garda Caah di Bandung Riki Waskita juga berharap, sistem peringatan dini cuaca ekstrem dari sejumlah pihak segera ditindaklanjuti oleh pemda.
Mereka bisa menyampaikannya melalui BPDB dengan meningkatkan deteksi, pemantauan, dan analisis bahaya, serta menyebarluaskan peringatan dini banjir/longsor kepada masyarakat sesuai tingkatannya.
”Respons pemda setelah kejadian bencana relatif sudah cukup baik. Namun, ada baiknya hal serupa dilakukan dalam merespons sistem peringatan dini agar warga siap menghadapi bencana,” katanya.
Sejauh ini, ada atau tidak ada bantuan dari pemda, baik Garda Caah maupun Jaga Balai, sudah melakukan pemantauan bencana secara mandiri. Mereka kerap melakukan mitigasi bencana dengan mengundang siswa sekolah hingga pelatihan sukarelawan.
Peserta, yang sebagian besar warga Kabupaten Bandung, diajak untuk mengenali potensi bencana di sekitarnya. Saat bencana datang, anggota komunitas ini relatif lebih sigap menghadapinya.
Pada Jumat (7/3/2025), misalnya, kesiapsiagaan itu muncul lagi. Sejak pagi, di grup Whatsapp Siaga Warga, mereka sudah berbagai informasi data BMKG tentang prakiraan di Bandung dan sekitarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/12/9ee2762d-6933-4e3f-90ec-f86eda68487b_jpg.jpg)
Menjelang siang saat mendung datang, beberapa anggota mulai menyampaikan data lebih banyak tentang potensi hujan deras. Selain data BMKG, mereka juga menggunakan data automatic water level recorder (AWLR), pencatat muka air otomatis.
Alat ini akan menggantikan pengukur air sederhana buatan warga untuk mengukur di titik-titik terdalam Sungai Citarum di sekitar Majalaya, Ibun, dan Pacet. Data itu bisa digunakan warga di daerah hilir seperti Bojongsoang dan Dayeuhkolot untuk memperkirakan kapan air datang ke sekitar tempat tinggal mereka.
Tidak hanya itu, setiap anggota hingga mitra informan juga melaporkan cuaca di sekitar lokasi mereka berada. Ada yang di rumahnya. Ada juga dalam perjalanan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/24/e6542d70967e3e13ecf3cd49d8dea030-InShot_20241124_113009404.jpg)
”Cimenyan hujan deras durasi 40 menit. Waspada daerah di bawahnya,” kata Abdul Haq, salah satu warga.
”Ujungberung hujan dari 15.30 WIB. Intensitas deras disertai petir dan angin,” tulis Arie, warga lainnya.
Peran aktif warga itu mungkin tidak akan menghentikan bencana. Pada Jumat malam, banjir tetap datang dan menggenangi sebagian permukiman di Sukabirus dan Bojongasih di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung.
Akan tetapi, informasi itu ternyata kembali berguna bagi anggota grup lain untuk menyiapkan diri. Barang-barang berharga diselamatkan. Sebagian ada yang naik ke lantai dua. Lebih dari itu semua, tidak ada yang terluka atau kehilangan nyawa karena tidak siap menghadapi bencana.
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Mukhamad Kurniawan