Pengalaman panjang Damien Comolli melahirkan asa untuk kebangkitan Juventus. Analisis data jadi bekal Comolli untuk bangun ulang skuad ”Si Nyonya Besar”.
02 Jun 2025 15:56 WIB · Olahraga
Musim 2024-2025 yang berakhir tanpa gelar juara menginisiasi revolusi di dalam manajemen Juventus. Damien Comolli, pria asal Monaco dan mantan Presiden Toulouse, ditunjuk sebagai manajer umum baru ”Si Nyonya Besar” yang bertugas mulai 4 Juni 2025. Tugas berat membayangi Comolli untuk mengembalikan tren juara Juve.
Jabatan manajer umum sejatinya amat asing bagi Juve. Sebab, selama ini, Juve tidak memiliki posisi itu dalam susunan dewan manajemen. Juventus lebih jamak memiliki chief executive officer (CEO), kemudian direktur sepak bola yang bertanggung jawab bagi operasionalisasi tim utama dan akademi.
Comolli diserahi jabatan manajer umum yang memiliki hubungan langsung dengan CEO Juve Maurizio Scanavino. Posisi Comolli, yang menduduki Presiden Toulouse pada 2020-2025, lebih tinggi dari Cristiano Giuntoli yang berlabel Direktur Sepak Bola Juve sejak musim panas 2023.
Media-media Italia menyebut Giuntoli segera mengakhiri kerja sama dengan Juve ketika Comolli mulai bertugas pada Rabu (4/6/2025) besok. Selanjutnya, Comolli akan memegang kewenangan penuh guna menentukan pelatih Juve untuk musim 2025-2026 serta menentukan kebijakan transfer klub.
”Kami dengan bangga menyambut Damien (Comolli) untuk memulai petualangan barunya bersama kami. Kepakaran dan profesionalismenya akan memainkan peran krusial dalam jalan Juve untuk terus tumbuh dan berkembang,” tutur Scanavino dalam keterangan pers dilansir laman klub, Minggu (1/6/2025).
Target utama Comolli yang diberikan oleh pemilik Juve, John Elkann, adalah memulangkan gelar scudetto yang pergi dalam lima musim terakhir. Demi ambisi itu, Sky Sport Italia menyebut Comolli akan menjalankan tugas pertama untuk menentukan masa depan pelatih interim Juve Igor Tudor. Juru taktik asal Kroasia itu berpeluang melanjutkan masa bakti di Piala Dunia Antarklub 2025, Juni-Juli mendatang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/30/99ef83b0b2ec0525815578bf81dd06e3-000_38E37AP.jpg)
Pilihan untuk tetap mempertahankan Tudor menjadi realistis di tengah menipisnya stok allenatore bermental pemenang. Hal itu disebabkan keputusan Antonio Conte bertahan di Napoli. Selain itu, Gian Piero Gasperini juga memilih bergabung ke AS Roma setelah sembilan musim menangani Atalanta.
Dalam aspek manajemen, Comolli akan memiliki pengaruh sebesar Beppe Marotta pada periode 2010-2018. Kala itu, Marotta memegang jabatan CEO Juve yang bertanggung jawab penuh kepada Presiden Andrea Agnelli.
Marotta adalah sosok yang mampu membawa Juve bangkit setelah memasuki periode kelam akibat skandal calciopoli pada 2006. Sebelum meninggalkan Juve, Marotta mempersembahkan tujuh gelar juara Liga Italia serta dua kali menembus final Liga Champions.
Tangan dingin Marotta untuk membentuk skuad Juve yang dihujani trofi juara gagal disejajarkan oleh para penerusnya. Mereka adalah Fabio Paratici, meski menghadirkan dua scudetto, kemudian Giuntoli.
Sebagai contoh, walaupun mampu meregenerasi skuad, Giuntoli mengeluarkan dana transfer mencapai 355 juta euro atau sekitar Rp 6,55 triliun. Hasilnya, pemain-pemain baru dan pelatih pilihan Giuntoli hanya menghasilkan sebuah gelar Coppa Italia edisi 2023-2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/02/2fcf9b29b8fa703160697814b58dc24f-wires_photo_2025_06_02T153424.582.jpg)
Comolli bukan sosok yang medioker dalam manajemen sepak bola. Setelah gagal mengejar mimpi sebagai pesepak bola profesional di Akademi AS Monaco, awal dekade 1990-an, Comolli langsung banting setir ke dunia manajemen sepak bola.
Ia sudah memegang lisensi pelatih A UEFA ketika menginjak usia akhir 20-an. AS Monaco memercayakan jabatan manajer akademi kepada Comolli ketika baru berusia 31 tahun. Pengabdian kepada klub favoritnya itu membawa Comolli menjalin relasi erat dengan Arsene Wenger.
Wenger membajak Comolli untuk menjadi pemandu bakat di Arsenal pada 1996 hingga 2004. Tak ayal, ia adalah sosok paling berpengaruh di balik layar generasi emas Arsenal pada awal dekade 2000-an.
Selanjutnya, Comolli menduduki jabatan direktur olahraga di Saint-Etienne, lalu Tottenham Hotspur dan Liverpool. Ia mendatangkan Luka Modric untuk Spurs dan Luis Suarez buat Liverpool.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/409f256eb073ff92d815028bca1a4ebc-Italy_Soccer_Serie_A.jpeg)
Setelah menjadi penasihat di firma investasi asal Amerika Serikat, RedBird Capital, periode 2012 hingga 2018, ia kembali masuk manajemen klub profesional pada periode 2018-2020 dengan memimpin klub Turki, Fenerbahce.
Selama lima tahun terakhir, Comolli memimpin Toulouse untuk bangkit dari Liga 2 Perancis. Dengan dana transfer dan gaji tak sebesar tim lain, ia memberikan Toulouse raihan gelar Piala Liga Perancis pertama pada 2021-2022. Semusim setelah naik kasta ke Liga 1 Perancis.
Empat musim di Liga 1 Perancis, Toulouse menjelma menjadi tim papan tengah. Pengabdian Comolli di Toulouse ditutup dengan menduduki peringkat ke-10 Liga Perancis 2024-2025.
Kesuksesan di Toulouse tidak lepas dari gaya moneyball yang diadopsi Comolli untuk merekrut pemain dan pelatih berdasarkan data. Comolli ditunjuk sebagai Presiden Toulouse dipengaruhi rekomendasi Billy Beane, pencetus moneyball, kepada pemilik RedBird Capital, Gerry Cardinale.
RedBird mengakuisisi saham mayoritas Toulouse pada 2020. Dua tahun kemudian, RedBird memegang kendali penuh klub raksasa Italia, AC Milan.
Meskipun sangat mempertimbangkan data untuk mendatangkan pemain dan pelatih, Comolli menekankan dirinya juga tidak melupakan satu hal esensial lainnya, yaitu kultur klub. Menurut dia, data pemain itu harus bisa menyesuaikan dengan budaya dan filosofi permainan klub.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/10/36466d47da0d0172fc84d0e1e6147634-AFP_36ZN9KQ.jpg)
”Kami sangat dipengaruhi data dalam pemilihan pemain. Namun, kami juga amat dibimbing oleh kultur klub. Data memberikan kami indikasi karakter dan kepribadian pemain,” ujar Comolli dilansir Tuttosport tentang pengalamannya di Toulouse.
”Kami tentu menonton video permainan mereka, tetapi itu belum cukup. Kami mengirim manajer perekrutan pemain untuk menghabiskan 3-5 hari mengenal calon pemain baru lebih dalam. Pergi ke rumahnya, makan bersamanya, mengajaknya ke restoran favorit, dan bertemu keluarganya. Itu cara kami memahami apakah pemain itu cocok dengan kultur klub,” lanjut Comolli yang berusia 53 tahun.
Pemain incaran, kata Comolli, memang perlu sesuai dengan budaya dan filosofi klub. Namun, ia menekankan, pemain ketika sudah bergabung wajib menjadi arsitek untuk kelahiran kultur pemenang di dalam klub.
Demi mewujudkan tim yang memahami kultur Juve, Comolli akan didampingi oleh Giorgio Chiellini, mantan bek tengah dan kapten Juve. Chiellini akan memegang peran sebagai Direktur Strategi Sepak Bola yang bertanggung jawab kepada Comolli.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul