PSSI menunjuk John Herdman sebagai pelatih timnas yang baru, menggantikan Patrick Kluivert. Targetnya tak main-main, lolos Piala Dunia 2030.
08 Jan 2026 02:00 WIB · Tajuk Rencana
AP Photo/Natacha Pisarenko
Publik sepak bola Indonesia tentu sudah tidak sabar menunggu kiprah pelatih berusia 50 tahun tersebut. Herdman diharapkan tiba dalam waktu dekat di Jakarta untuk memulai tugasnya sebagai pelatih ke-41 tim ”Garuda”.
Segala harapan jutaan pendukung bertumpu pada pelatih berkebangsaan Inggris ini, utamanya membawa tim Garuda lolos ke Piala Dunia 2030. Apalagi, tahun lalu publik sepak bola Indonesia merasakan kekecewaan beruntun yang dipuncaki dengan kegagalan meraih tiket Piala Dunia 2026.
Tugas perdana Herdman bersama timnas adalah ajang FIFA Series di Jakarta, Maret 2026, dilanjutkan Kejuaraan ASEAN 2026, Juli mendatang. Pada Januari 2027, Herdman akan memimpin timnya pada Piala Asia 2027 di Arab Saudi. Baru pada Oktober 2027, Herdman akan mengawali perjuangan bersama tim Garuda di kualifikasi Piala Dunia 2030.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/17/7660bef67d6b4730c5bc5052cc4718cb-cropped_image.jpg)
Seperti diungkapkannya dalam wawancara dengan The Canadian Press, Herdman menyadari besarnya harapan yang ada di pundaknya dengan menerima pinangan PSSI. ”Ini tentang menemukan proyek yang tepat. Satu (proyek) yang dapat membuat Anda merasakan hasrat dan intensitas dari pendukung,” kata Herdman (Kompas.id, 4/1/2026).
Tidak diragukan lagi soal rekam jejak kesuksesan Herdman. Bersama Kanada, ia berhasil membawa negara ini menembus Piala Dunia 2022, yang menjadi partisipasi pertama sejak edisi Meksiko 1986. Herdman juga jadi satu-satunya pelatih yang membawa tim putri dan putra tampil di Piala Dunia. Herdman mengantarkan tim putri Selandia Baru ke Piala Dunia 2007 dan 2011 serta mengasuh putri Kanada di Piala Dunia 2015.
Rekam jejak Herdman di Kanada menunjukkan, ia adalah seorang ”guru” dan ”arsitek”. Perubahan yang dilakukannya tidak dimulai dari papan taktik, tetapi dari aspek mental melalui cara komunikasi dan motivasinya dengan pemain. Di bawah kepemimpinannya, Kanada dikenal memiliki identitas kolektif yang solid.
Namun, meski memiliki prestasi gemilang, tidak ada jaminan bahwa Herdman bisa mengulang kesuksesannya seperti di Kanada. Tantangan yang dihadapi Herdman sangat berat, tidak melulu soal teknis, tetapi juga ekosistem persepakbolaan nasional.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/24/8f4c7772-3dfc-45ab-a575-782bd2e84f65.jpg)
Misalnya soal mutu kompetisi liga yang masih tertinggal, bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, hingga soal pembinaan usia muda. Herdman juga tidak memiliki pengalaman persaingan di Asia, selain juga terbilang gagal saat melatih Toronto FC di MLS.
Untuk itu, kita harus fair dengan memberi waktu yang cukup kepada Herdman menerapkan filosofi kepelatihannya. Juga harus disadari, beban tanggung jawab tidak bertumpu pada Herdman semata, tetapi juga pemangku kepentingan yang lain, utamanya PSSI.
Federasi harus mendukung dengan menyediakan kolam talenta, tidak hanya dari naturalisasi, tetapi pemain lokal yang dihasilkan dari liga berkualitas dan penguatan pembinaan di akar rumput.
Penulis:
RedaksiEditor:
RedaksiPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul