BerandaEditorialHarapan Perubahan di Pund...

Harapan Perubahan di Pundak Trump

Keunggulan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat memperlihatkan rakyat AS ingin perubahan. Mereka tak puas dengan kondisi saat ini.

08 Nov 2024 04:00 WIB · Editorial

Oleh REDAKSI

Supporters watch returns at a campaign election night watch party for Republican presidential nominee former President Donald Trump at the Palm Beach Convention Center, Wednesday, Nov. 6, 2024, in West Palm Beach, Fla. (AP Photo/Evan Vucci)

Rakyat Amerika Serikat telah memberikan suaranya dalam pemilihan presiden dan legislatif, Selasa (5/11/2024). Meski hasil resmi baru ditetapkan Kongres AS pada 6 Januari 2025, sejumlah hasil hitung cepat memproyeksikan Donald Trump, Presiden ke-45 AS, akan kembali ke Gedung Putih sebagai presiden ke-47. Trump mengungguli rivalnya, Kamala Harris dari Partai Demokrat, yang kini menjabat Wakil Presiden AS.

Kantor berita Associated Press, misalnya, memproyeksikan Trump merebut 295 suara elektoral (electoral vote), sedangkan Harris 226 suara. Diperlukan minimal 270 suara untuk memenangi pemilihan presiden AS atau separuh lebih satu dari 538 suara elektoral yang diperebutkan di 50 negara bagian plus satu daerah ibu kota District of Columbia.

Trump berhasil mendapat lebih banyak dukungan rakyat di tujuh negara bagian mengambang (swing states). Ketujuh wilayah ini menjadi fokus kampanye kedua kandidat karena kekuatan pendukung Republik dan Demokrat relatif berimbang. Trump akhirnya merebut 76 suara elektoral dari Wisconsin, Michigan, Pennsylvania, North Carolina, Georgia, serta unggul dalam perolehan suara di Arizona dan Nevada.

Former US President and Republican presidential candidate Donald Trump (R) arrives for  an election night event alongside former US First Lady Melania Trump and his son Barron Trump at the West Palm Beach Convention Center in West Palm Beach, Florida, on November 6, 2024. (Photo by Jim WATSON / AFP)

Tak hanya pemilihan presiden, Republik juga diproyeksikan akan menguasai kursi mayoritas Senat dan DPR AS. Untuk ke-25 kalinya sejak 1857, kekuasaan eksekutif dan kursi mayoritas dua kamar legislatif sepenuhnya dikuasai Republik.

Quote

Pemilu menjadi sarana bagi rakyat untuk meninjau ulang mandat kekuasaan yang mereka berikan kepada pemerintah di pemilu sebelumnya.

Terlepas dari suara pendukung setia Trump, hasil pemilu ini memperlihatkan ketidakpuasan warga AS atas pemerintahan Presiden Joe Biden, terutama di bidang ekonomi. Dampak pandemi Covid-19, yang sempat mendongkrak inflasi hingga 9 persen, masih dirasakan meski saat ini inflasi telah terkendali. Angka pengangguran di sejumlah wilayah juga cukup tinggi.

Di sisi lain, Harris yang baru mendapat tiket nominasi dari Demokrat pada awal Agustus, setelah Biden memutuskan tidak mencalonkan diri, tak terlihat berusaha memisahkan diri dari kebijakan Biden. Layaknya negara demokrasi yang telah matang, pemilu menjadi sarana bagi rakyat untuk meninjau ulang mandat kekuasaan yang mereka berikan kepada pemerintah di pemilu sebelumnya. Hal itulah yang terjadi dalam pemilihan presiden AS kali ini.

Japanese newspapers’ front pages reporting on U.S. President-elect Donald Trump in the U.S. presidential election, are seen in Yokohama, south of Japan, Thursday, Nov. 7, 2024. A headlines reads "U.S. President Trump." (AP Photo/Shuji Kajiyama)

Harapan perubahan dari rakyat AS kini tersandang pada Trump. Sejumlah janji disampaikannya saat kampanye, seperti menurunkan pajak penghasilan dan meminta perusahaan AS di luar negeri untuk kembali ke AS guna membuka lapangan pekerjaan. Bersama Senat dan DPR AS yang dikuasai Republik, program Trump akan lebih mudah diwujudkan.

Dunia juga menanti langkah Trump berikutnya. Berkaca pada periode pertama pemerintahan Trump, 2017-2021, ada kekhawatiran terkait beberapa hal, seperti dukungan AS terhadap Ukraina dan komitmen AS pada Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Selain itu, ancaman penerapan tarif untuk ekspor ke AS, persaingan dengan China, hingga hubungan Korea Selatan dan Korea Utara.

Namun, untuk setiap ancaman selalu ada peluang. Seharusnya para pemimpin negara lain, termasuk Indonesia, kali ini akan lebih siap menghadapi langkah-langkah tidak biasa dan penuh kejutan dari calon presiden ke-47 AS ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

REDAKSI
 | 

Editor:

Johanes Waskita Utama
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan