Lapas bukan lagi sekadar menjalani hukuman, melainkan menjadi ruang kedua untuk bertumbuh dengan harapan baru dari pengalaman sebelumnya.
19 Jun 2025 13:13 WIB · Metropolitan
Di balik dinding tebal dan jeruji besi penjara Lembaga Pemasyarakatan Perempuan kelas IIA Bulu, Kota Semarang, Jawa Tengah hidup terus berjalan. Denyut kehidupan dengan beragam aktivitas yang tidak kalah dengan dunia luar untuk menumbuhkan harapan baik.
Harapan baik yang coba terus dipelihara para perempuan penghuni Lapas sebagai bekal kehidupan di luar penjara jika waktu bebas telah sampai.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/5c7612a6e4a2a801af6c65669c9c7009-20250619WEN13.jpg)
Ruang-ruang yang sebelumnya sunyi, menjelang siang riuh bersama para penghuninya. Suara mesin jahit, harum kue yang baru matang menguar, serta berisik pengering rambut terdengar dari sebuah ruangan. Kesibukan itu menandai seluruh aktivitas warga binaan untuk terus menjalani hidup.
Hampir setiap pagi puluhan tangan mulai sibuk merangkai benang warna-warni menjadi tas rajut, dompet, hingga taplak meja. Di sudut lain dapur tata boga menjadi tempat eksperimen rasa dan teknik memasak.
Mereka mendapatkan pelatihan intensif untuk memperoleh beberapa keterampilan sebagai bekal hidup. Bahkan mereka sering mendapatkan kunjungan beberapa desainer kondang salah satunya Samuel Wattimena yang datang memberikan kelas singkatnya seperti terlihat pada Rabu (18/6/2025).
Kedatangannya tersebut untuk mengkurasi berbagai produk karya warga binaan agar tampil lebih menarik dan dapat diterima pasar yang luas. Ia juga meminta petugas lapas untuk mendokumentasikan setiap karya warga sebagai portofolio contoh produk dan desain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/441c66596f23daab986723c9abd0bfea-20250619WEN10.jpg)
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Perempuan Semarang Rini Sulistiyowati mengatakan bahwa pihaknya memberikan kebebasan untuk warga binaan membuat produk sesuai keinganan serta kreativitasnya. Selama berada di dalam penjara itu mereka juga diharapkan mendapatkan hal positif dengan mengasah bakat dan minatnya.
Sementara itu, Endah, salah satu petugas pengawas lapas tampak mengawasi beberapa tahanan yang sedang membuat kue. “Kebetulan hari ini ada pesanan kue dari gereja untuk acara mereka,” jelasnya. Ia bercerita bahwa beberapa kue dan makanan yang mereka buat juga memberikan nilai tambah ekonomi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/5b06a6b81d5379a25c6a8a865537c561-20250619WEN5.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/4371a00ebf4c2451b8667e0374419274-20250619WEN3.jpg)
Tak hanya dapur dan ruang kerajinan, ada satu ruang lain yang juga tak kalah hidup. Berada di ujung area lapas sebuah ruangan menjadi salon kecantikan. Lusy Juni (31) perempuan berparas cantik serta berambut panjang tergerai dengan tangan lincahnya melayani salah satu pelanggannya untuk potong rambut.
Ia harus mendekam dan menjalani hukuman penjara selama 17 tahun atas sebuah kasus pembunuhan di Cirebon pada tahun 2014. Setelah terpuruk dan menyesal atas perbuatannya, perempuan asli Bandung tersebut mengisi hari-harinya dengan beragam aktivitas berguna untuk bekalnya nanti.
Lapas bukan lagi sekedar tempat menjalani hukuman, tetapi menjadi ruang untuk bertumbuh dengan harapan baru dari pengalaman sebelumnya.
Penulis:
Raditya Mahendra YasaEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari