Harga Baja AS Naik, Saham Lain Turun

Kebijakan baru Trump: menaikkan tarif bea masuk impor baja. AS importir baja terbesar.

02 Jun 2025 20:30 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

WASHINGTON, SENIN — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaikkan tarif impor baja menjadi 50 persen dari 25 persen. Keputusan ini ia keluarkan setelah perjanjian kerja sama antara AS dan Nippon Steel dari Jepang terwujud.

Pada Senin (2/6/2025), harga saham baja di AS melonjak. Kisaran kenaikannya adalah 9 persen hingga 27 persen. Trump mengumumkan kenaikan tarif ini pekan lalu, yaitu pada Jumat (30/5/2025) ketika berada di Pittsburgh, Negara Bagian Pennsylvania.

Pittsburgh sampai dengan tahun 1980-an adalah pusat industri baja di AS. Seiring berkembangnya globalisasi dan rantai pasok yang tersebar di seluruh dunia, Pittsburgh bersama kota-kota lain di wilayah Sabuk Baja AS pun merosot perekonomiannya. Kini, wilayah itu dikenal dengan nama Sabuk Karat.

”Saya menaikkan tarif impor baja untuk melindungi industri dan pekerja di sektor baja dalam negeri,” kata Trump. AS adalah negara pengimpor baja terbanyak di dunia.

Penetapan tarif impor ini membuat harga baja naik. Hal ini bagi para pengusaha baja dinilai menguntungkan. Harga rata-rata baja sekarang adalah 875 dollar AS per ton kubik. Harga ini naik dari 725 dollar AS pada Februari 2025, sebelum Trump mengumumkan kenaikan tarif impor baja sebesar 25 persen.

Trump menjanjikan bahwa Pittsburgh akan kembali berjaya dan menjadi pusat industri baja AS. Apalagi, perusahaan setempat, US Steel dalam proses melakukan penggabungan dengan perusahaan Nippon Steel dari Jepang. ”Markas perusahaan tetap berada di Pittsburgh. Perusahaan AS tetap berada di dalam AS,” kata Trump.

President Donald Trump dances after speaking at the U.S. Steel Mon Valley Works-Irvin plant, Friday, May 30, 2025, in West Mifflin, Pa. (AP Photo/David Dermer)

Trump memiliki prinsip menentang rantai pasok global. Ia tidak menyukai perusahaan-perusahaan AS membuka pabrik di luar negeri. Ia menetapkan berbagai tarif impor atas alasan tersebut. Trump mengatakan, jika ingin lepas dari pukulan tarif, perusahaan AS harus pulang kampung.

Di dalam perjanjian antara US Steel dan Nippon Steel itu, Nippon membeli saham US seharga 55 dollar per lembar. Selain itu, Nippon juga menyuntikkan penanaman modal ke US Steel senilai 14 miliar dollar AS. Harapan lain dari merger ini ialah bisa membuka lowongan kerja untuk 70.000 orang.

Presiden AS 2021-2025 Joe Biden tidak menyetujui pengambilalihan US Steel oleh Nippon Steel. Alasannya, Biden melihat baja sebagai industri strategis AS dan terlalu berisiko jika dimasuki oleh negara lain. Ini yang membuat rencana merger sempat dikira batal oleh publik.

Akan tetapi, Trump ketika dilantik menjadi kepala negara pada 20 Januari 2025 mengatakan mendukung pengambilalihan itu dengan sejumlah perubahan, terutama agar basis produksi tetap berada di AS.

Di samping itu, Nipon Steel berjanji melakukan investasi tambahan untuk membangun kilang-kilang baja di Negara Bagian Minnessota dan India. Meskipun begitu, serikat pekerja baja, USW, mengatakan mereka tidak dilibatkan di dalam negosiasi merger US Steel dan Nippon Steel. Mereka telah melayangkan surat resmi ke Washington DC maupun ke kedua perusahaan untuk permintaan penyertaan.

Saham lain turun

Meskipun saham baja naik, saham-saham lain turun. Penyebabnya ialah pernyataan Trump yang mengatakan China tidak serius melakukan perundingan dagang. AS dan China sedang dalam perang dagang karena Washington menjatuhkan tarif 145 persen atas Beijing dan dibalas dengan tarif 125 persen.

”Presiden Trump menurut rencana berbicara dengan Presiden China Xi Jinping dalam waktu dekat untuk mematahkan situasi impas ini,” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

Pada 12 Mei 2025, China dan AS mengumumkan mereka menetapkan gencatan senjata tarif selama 90 hari. Selama periode itu pula kedua negara melakukan beberapa putaran perundingan. Prinsip China ialah tidak akan menurunkan tarif apabila AS tidak menurunkan tarif.

”Dunia belum bisa mengambil keputusan jangka panjang selama perang dagang AS dan China ini belum diatasi,” kata Kai Wang, ekonom di Morningstar.

President Donald Trump walks with workers as he tours U.S. Steel Corporation's Mon Valley Works-Irvin plant, Friday, May 30, 2025, in West Mifflin, Pa. (AP Photo/Julia Demaree Nikhinson)

Apalagi, sikap Trump sangat plin-plan. AS juga masih dalam proses berunding soal tarif dengan Uni Eropa. Pekan lalu, trump sebal karena perundingan ini ia anggap lamban. Ia pun secara sepihak menjatuhkan tarif tambahan kepada UE.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen kemudian menelepon trump untuk membujuknya. Setelah itu, Trump mencuit di pelantar Truth Social bahwa ia memperpanjang periode perundingan dengan UE hingga 1 Juli 2025.

Pengadilan federal AS kemudian mengeluarkan keputusan bahwa tindakan Trump menjatuhkan tarif kepada negara-negara mitra dagang adalah ilegal. Di dalam hukum AS, presiden tidak boleh mengambil keputusan secara sepihak.

Keputusan sebesar penjatuhan tarif impor hanya bisa disahkan apabila melalui sidang di DPR. Trump menolak keputusan pengadilan itu dan mengajukan banding.

Direktur JP Morgan Chase, Jamie Dimon, ketika diwawancara Fox News mengatakan, segala ketidakpastian ini mencederai pasar dan perekonomian global. ”Tidak ada yang tahu masalah ini akan berlangsung selama enam bulan ke depan atau enam tahun ke depan. Semua merugi,” ujarnya. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul