Harga beras di Jawa Tengah naik di atas harga eceran tertinggi setidaknya sejak sepekan lalu. Masyarakat berharap harga beras bisa segera turun.
23 Jul 2025 19:33 WIB · Ekonomi & Bisnis
SEMARANG, KOMPAS — Rata-rata harga beras, baik premium maupun medium, di Jawa Tengah naik melampaui harga eceran tertinggi. Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah intervensi agar harga beras kembali normal, salah satunya dengan menggelontorkan beras medium di semua kabupaten/kota.
Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional, rata-rata harga beras medium di Jateng pada Rabu (23/7/2025) mencapai Rp 13.494 per kilogram (kg). Angka ini melebihi harga eceran tertinggi (HET) beras medium, yakni Rp 12.500 per kg. Harga beras medium tertinggi di Jateng adalah Rp 14.500 per kg, yakni di Kabupaten Wonosobo. Adapun harga beras medium terendah di Jateng tercatat Rp 12.250 per kg, yakni di Kebumen dan Wonogiri.
Rata-rata harga beras premium di Jateng juga terbilang tinggi, yakni Rp 15.026 per kg. Angka ini melebihi HET beras premium, yaitu Rp 14.900 per kg. Harga beras premium tertinggi di Jateng tercatat di Boyolali, yakni Rp 16.000 per kg, dan harga terendah Rp 13.950 per kg, di Sragen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/23/bde78f8f646d8392a4f48a6888a32ccd-IMG_3908.JPG)
Di Kota Semarang, rata-rata harga beras medium Rp 13.600 per kg dan beras premium Rp 15.000 per kg. Namun, di Pasar Bulu, Kecamatan Semarang Selatan, harga beras medium dan premium lebih tinggi dari harga rata-rata tersebut.
”Kalau beras medium Rp 14.000 per kg, naik dari harga minggu lalu Rp 13.500 per kg. Untuk beras premium, paling murah Rp 16.000 per kg, naik juga dari harga minggu lalu sebesar Rp 15.500 per kg,” kata Muji (67), pedagang Pasar Bulu, saat ditemui pada Rabu (23/7/2025).
Muji tak tahu persis penyebab kenaikan harga tersebut. Menurut dia, harga beras semua jenis naik sejak dari tingkat pemasok.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/23/d8372c0aa2eca048ba7273abe0502861-IMG_3902.JPG)
Kenaikan harga beras juga dikeluhkan oleh para pedagang beras di Pasar Karang Ayu, Kecamatan Semarang Barat. Di pasar itu, harga beras medium Rp 14.000 per kg, sedangkan beras premium paling murah Rp 15.500 per kg. Pekan sebelumnya, harga beras medium Rp 13.500 per kg dan beras premium termurah Rp 14.500 per kg.
”Saya biasanya ambil beras medium dari petani di Demak. Sejak dari sana, harganya sudah tinggi. Kenaikan harganya itu karena lagi enggak musim panen. Jadi, stoknya sedikit,” ujar Junaidi (65), pedagang beras di Pasar Karang Ayu.
Para pembeli keberatan dengan harga beras yang naik. Mereka berharap pemerintah bisa segera menstabilkan harga. Dengan demikian, masyarakat bisa kembali membeli beras dengan harga terjangkau.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/23/496a343a7a10ce722cdc0eb8bf04d154-IMG_3903.JPG)
”Baru satu minggu sudah naik Rp 1.000 per kg. Buat saya berat sekali. Apalagi, saat ini harga-harga bahan kebutuhan pokok, seperti gula dan minyak goreng, juga naik,” kata Nora (52), warga Kelurahan Krobokan, Semarang Barat.
Kepala Bidang Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng Devita Ayu Mirandati mengatakan, kenaikan harga beras yang terjadi di Jateng dipicu oleh kenaikan harga dasar gabah kering di tingkat petani. Harga gabah kering di tingkat petani naik dari sebelumnya Rp 5.500 per kg menjadi Rp 6.500 per kg.
Menurut Devita, kenaikan harga gabah kering itu terjadi karena amanat Presiden Prabowo Subianto. Hal itu untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/23/afaaf6c4c8551f0258feb40839a6d3a4-IMG_3900.JPG)
”Kami berupaya menstabilkan harga dengan cara menggelontorkan beras medium di 62 kecamatan di 27 kabupaten/kota hampir setiap hari. Sampai saat ini, kami sudah menyalurkan 620.000 kg beras dan 124.000 liter minyak goreng,” kata Devita.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Jateng telah berkoordinasi dengan Bulog untuk menggelontorkan beras dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Beras SPHP dijual dengan harga sesuai HET beras medium, yakni Rp 12.500 per kg.
Selain itu, masyarakat memiliki pilihan untuk membeli beras di Sinergi Inflasi Makin Harmonis atau Simanis Mart. Di toko itu, kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, telur, bawang merah, bawang putih, dan cabai dijual sesuai HET.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/22/661e618e-3e99-4424-89b2-2d40f003e6e1_jpg.jpg)
”Kami bisa jual dengan HET karena ambil langsung beras dari petani. Jadi, memotong rantai pasok. Kalau beras, kami ambil dari petani di Demak dan Sukoharjo,” kata Jojo (28), penjaga Simanis Mart di Pasar Bulu.
Menurut Jojo, setiap hari Simanis Mart mampu menjual beras medium hingga 1 ton. Mayoritas pembeli merupakan perorangan. Dalam satu kali transaksi, mereka hanya boleh membeli maksimal 10 kg beras. Hal itu dilakukan untuk mencegah beras dijual kembali.
Simanis Mart di Pasar Bulu sudah berdiri sejak 2024. Ke depan, Simanis Mart akan didirikan di pasar-pasar lain di Kota Semarang, seperti di Pasar Karang Ayu, Pasar Peterongan, Pasar Gayamsari, dan Pasar Johar.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti