Meski bergerak dalam pola berlawanan, harga emas dan minyak dunia diprediksi akan sama-sama naik hingga akhir 2026 karena efek ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.
12 Mar 2026 13:50 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Harga emas dan minyak dunia cenderung bergerak dalam arah yang berlawanan di tengah momentum ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada saat terjadi tren kenaikan harga minyak mentah, harga emas justru turun karena dolar AS beralih menjadi instrumen safe haven.
Kamis (12/3/2026) pagi, harga emas dunia melemah 25 poin atau 0,47 persen ke harga 5.147 dolar AS per troy ounce. Pada saat yang sama, harga minyak dunia melonjak 8-9 persen dengan harga minyak mentah WTI di level 94 dolar AS per barel dan minyak mentah Brent naik ke level 100 dolar AS per barel.
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya mengatakan, konflik terbaru di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia sekaligus berpengaruh negatif terhadap pergerakan harga emas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/e0bebb66a4fe0a80eed80812d9dd373d-WhatsApp_Image_2026_03_11_at_18.44.59.jpeg)
Kenaikan harga minyak hari ini, setelah pada 9 Maret merosot dari harga di atas 100 dolar AS per barel, menurut Ibrahim, terjadi karena dua kapal tanker asing yang membawa minyak dari Irak diserang oleh kapal-kapal Iran. Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi, terutama di kawasan Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis pengiriman minyak mentah dunia.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus memantau situasi di kawasan tersebut. Intelijen AS menilai kepemimpinan Iran masih solid dalam menghadapi tekanan Barat, sementara Iran juga menolak gencatan senjata dan tetap menyerang Israel serta pangkalan militer AS.
”Kondisi tersebut membuat ketidakpastian geopolitik meningkat dan memicu pergerakan harga komoditas global,” ujar Ibrahim.
Harga minyak pun naik bersamaan dengan lonjakan indeks dolar AS. Dalam lima hari terakhir, indeks dolar tumbuh 0,47 persen dan dalam sebulan menguat 2,5 persen ke level 99,5 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/12/547e9d2b21376b6955a12a24c3350371-GOLD_2026_03_12_13_04_52.png)
Menurut Ibrahim, penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak justru memberi tekanan sementara terhadap harga emas dunia. Harga emas yang sebelumnya berada di level 5.240 dollar AS per troy ounce terkoreksi menjadi 5.150 dollar AS per troy ounce.
”Dalam kondisi saat ini, dolar menjadi instrumen safe haven utama di tengah konflik Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz,” ujarnya.
Meski demikian, Ibrahim menilai, prospek emas masih positif dalam jangka menengah. Ia memperkirakan harga emas berpotensi kembali naik jika konflik di kawasan semakin meluas, terutama jika kapal militer AS masuk ke Selat Hormuz dan memicu eskalasi konflik lebih besar.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga dapat mendorong kenaikan harga emas di pasar domestik. Sejauh ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,4 persen dalam lima hari terakhir dan 1,11 persen sejak awal tahun ke harga Rp 16.900 per dolar AS. Bahkan, nilai tukar menyentuh Rp 17.000 per dolar AS ketika konflik AS dan Iran memanas.
Analis Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI), Tiffani Safinia, menjelaskan, meski sama-sama dipengaruhi faktor geopolitik, harga emas dan minyak memiliki karakter pergerakan yang berbeda.
”Dalam beberapa hari terakhir, ketika minyak naik tajam, emas justru terkoreksi. Namun, secara keseluruhan outlook emas masih positif,” kata Tiffani dalam paparannya pada acara ICDX Commodity Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Tiffani menyebutkan, dalam jangka pendek kedua komoditas tersebut bahkan dapat bergerak berlawanan arah. Ketika harga minyak melonjak tajam akibat konflik di Timur Tengah, misalnya, pasar bisa saja khawatir terhadap lonjakan inflasi yang memengaruhi kebijakan suku bunga. Kondisi ini pada akhirnya membuat dolar AS dan obligasi Pemerintah AS lebih menarik dari emas.
”Jadi, bisa dibilang mungkin pasar mulai membagi ataupun mengarahkan safe haven-nya tidak hanya ke emas, tapi ada juga ke dolar AS atau ke safe haven lain, seperti obligasi Pemerintah AS,” ujarnya.
Situasi ini berbeda dengan 2025, ketika kenaikan harga emas didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, The Federal Reserve, yang mencapai total 75 basis poin.
Penurunan suku bunga, kata Tiffany, biasanya membuat emas lebih menarik karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih rendah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/28/a184954539859ef4e1c4306d3a0b94b8-20260128_ADI_Harga_Emas_mumed.png)
Kemudian, ada faktor meningkatnya risiko geopolitik global, seperti perang dagang Amerika Serikat dan China, konflik Rusia-Ukraina, serta ketegangan di Timur Tengah, yang tidak mengancam harga minyak dunia.
Volatilitas dolar AS dan pergerakan imbal hasil obligasi Pemerintah AS juga membuat bank sentral di banyak negara memborong 863 ton emas pada tahun lalu.
Sepanjang tahun lalu, harga emas pun melonjak 64 persen dan mencetak rekor tertinggi hingga 53 kali. Pada 26 Desember 2025, harga emas bahkan mencapai rekor 4.550 dolar AS per troy ounce.
Bagaimanapun, sejumlah lembaga keuangan global menaikkan proyeksi harga emas untuk 2026. Beberapa di antaranya memperkirakan harga emas dapat bergerak dalam kisaran 5.000 dolar AS hingga 6.300 dolar AS per troy ounce.
Terkait harga minyak mentah dunia, analis Research and Development ICDX, Girta Putra Yoga, pada kesempatan yang sama menilai harga komoditas tersebut berpeluang naik pada 2026.
Adapun pada 2025, tren harganya melemah dengan penurunan hampir 10 persen sepanjang tahun ke angka 69 dolar AS per barel. Salah satu faktor yang menekan harga adalah kebijakan Presiden AS Donald Trump yang mencabut larangan pengeboran minyak sehingga memunculkan kekhawatiran akan peningkatan pasokan global.
Selain itu, perang dagang antara Amerika Serikat dan sejumlah mitra dagang juga menekan prospek permintaan energi global. ”Untuk minyak mentah, perang dagang justru berdampak negatif karena dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi,” kata Yoga.
Pada paruh kedua 2025, tekanan terhadap harga minyak semakin besar setelah kebijakan tarif impor baru kembali diumumkan terhadap sejumlah komoditas dan mitra dagang AS.
Memasuki 2026, lanjutnya, harga emas mengalami kenaikan karena keputusan organisasi negara eksportir emas, OPEC, untuk mempertahankan tingkat produksi hingga Desember 2026 guna menstabilkan harga. Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi faktor pendorong harga minyak.
Salah satu faktor penting yang memengaruhi kenaikan harga minyak adalah stabilitas Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dari negara produsen seperti Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab menuju pasar global. Gangguan pada jalur tersebut berpotensi menghambat pasokan minyak dan memicu lonjakan harga energi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/10/e585e7ae53b3d9ec6f303db73bfcca80-wti_crude_2026_03_10_1_.png)
Kondisi genting seperti itu bisa membuat negara pemasok minyak atau yang memiliki cadangan minyak mengeluarkan cadangan mereka sehingga menurunkan harga minyak. Keputusan ini dikeluarkan negara-negara G7 dan kelompok International Energy Agency pada Senin (9/3/2026).
”Perang Iran ini termasuk yang mereka anggap sebagai kondisi genting. Impact-nya cukup kuat untuk mengerek harga minyak kembali turun setelah melonjak naik. Itu karena ada proyeksi, mereka akan melepas lebih dari 182 juta barel dari cadangan mereka. Jadi, pasar akan dibanjiri dengan pasokan berlebih. Seperti semua hukum supply and demand, saat supply banyak, pasti harganya cenderung akan tergerus ke bawah,” tutur Yoga.
Ia memprediksi, dalam jangka pendek, harga minyak dapat mencapai level resistensi di kisaran 95 dolar AS hingga 100 dollar AS per barel. Namun, jika muncul sentimen yang bisa meningkatkan pasokan minyak atau mengurangi risiko gangguan pasokannya, harga minyak dapat kembali turun ke kisaran 75 dolar AS hingga 80 dolar AS per barel.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti