Harga Emas Turun karena Pasar Jual Aset Investasi Imbas Tarif Trump

Meski demikian, investasi emas diyakini tetap menjanjikan untuk jangka panjang.

07 Apr 2025 16:40 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Perdagangan emas dunia mengalami fluktuasi pasca-pengumuman kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Harga emas pun turun beberapa hari terakhir. Namun, analis menilai, ketidakpastian ekonomi dunia dalam jangka menengah dapat membawa harga emas ke rekor terbarunya.

Kebijakan tarif impor yang diumumkan Trump pada 2 April 2025 diikuti dengan menurunnya harga emas dunia. Mengutip laman Goldprice, harga emas dunia yang berkisar 3.120 dollar AS per troy ons perlahan turun setelah pengumuman kebijakan perdagangan krusial AS yang menyasar hingga lebih dari 180 negara di dunia.

Pada Senin (7/4/2025), harga emas dunia jatuh ke level 3.024 dollar AS per troy ons atau terkoreksi sekitar 3 persen dari pekan sebelumnya. Penurunan ini lebih cepat daripada kenaikan harga emas dunia dalam sebulan terakhir yang sebanyak 144 poin atau mencapai 5 persen.

Grafik harga emas Antam per gram dalam enam bulan terakhir sampai Senin (7/4/2025).

Di dalam negeri, harga emas PT Aneka Tambang (Antam) Persero Tbk ikut menyesuaikan. Hari ini, harga emas per satu gram terpangkas Rp 23.000 dibandingkan hari sebelumnya, dari Rp 1,781 juta menjadi Rp 1,758 juta. Dibandingkan Kamis (3/4/2025), harga satu gram emas Antam sudah turun 4,2 persen hingga Senin ini.

Pengamat bursa berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, harga emas dunia bergerak fluktuatif dan cenderung melemah karena pengumuman tarif resiprokal oleh Trump dikhawatirkan memicu perang dagang yang memperlambat ekonomi. Kondisi ini membuat manajer aset besar menarik dana dari aset investasi mereka menjadi uang tunai.

”Aksi ini dilakukan oleh fund manager di AS dan Eropa. Jadi, ada ketakutan akan perlambatan ekonomi. Di sisi lain, di hampir semua negara bagian di AS ada demonstrasi masyarakat yang menentang kebijakan Donald Trump,” tutur Ibrahim dalam keterangannya kepada wartawan, Senin.

Pegawai Toko Emas Bintang Timur di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, menunjukkan logam mulia Antam koleksi toko tersebut, Rabu (18/9/2024). Berdasarkan data di laman Logammulia.com yang dikelola PT Antam Tbk, harga emas per Rabu Rp 1.440.000 per gram atau turun Rp 4.000 per gram dibanding hari sebelumnya yang merupakan rekor harga tertingginya. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 18-09-2024

Meski demikian, Ibrahim melanjutkan, dalam jangka waktu menengah dan panjang, harga emas dunia diprediksi akan kembali menguat ke level 3.200 dollar AS per troy ons. Faktor pendorong kenaikan harga emas masih terkait kebijakan tarif impor AS dan permasalahan geopolitik.

Saat dihubungi terpisah, analis komoditas dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menganalisis, dalam jangka pendek, pasar emas masih sangat fluktuatif dan berpotensi kembali terkoreksi.

”Investor masih mencoba menghitung dampak dan potensi eskalasi perang dagang. Penjualan besar-besaran pada hampir semua aset, baik saham maupun kripto, ikut berimbas pada koreksi harga emas,” jelasnya.

Pengamatan Kompas, Senin (7/4/2025), sejumlah bursa dan indeks saham di dunia serta aset kripto mengalami koreksi. Hingga sore WIB, US Tech Index 100 turun 4 persen. Demikian pula Indeks Nikkei 225 milik Jepang turun hampir 8 persen, bursa Inggris FTSE 100 minus 4 persen, dan Indeks Komposit Shanghai anjlok 7 persen.

Tabel berisi daftar indeks saham di bursa global dan perubahannya pasca pengumuman tarif resiprokal oleh Presiden AS Donald Trump, Rabu (2/4/2025).

Adapun dari sektor kripto, data CoinMarketCap mencatat, harga bitcoin pada perdagangan Senin (7/4/2025) turun 3,47 persen secara harian ke level 75.493 dollar AS, koin ethereum turun 7,05 persen ke level 1.464 dollar AS, XRP turun 12,39 persen ke 1,6 dollar AS, dan harga BNB turun 4 persen ke 532 dollar AS per koin pada perdagangan hari ini.

Sementara itu, ia memprediksi, harga emas masih berpeluang naik dan dapat memecahkan rekor baru dalam jangka menengah. ”Saya melihat emas masih berpotensi naik hingga 3.350 dollar AS tahun ini,” kata Lukman.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan