PANGAN

Harga Gabah Tembus Rp 8.000 Per Kg, Penggilingan Kecil-Menengah ”Tiarap”

Gunakan cadangan beras pemerintah yang berlimpah untuk meredam kenaikan harga beras.

28 Apr 2026 14:47 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Oleh Hendriyo Widi

JAKARTA, KOMPAS — Harga gabah kering panen di tingkat petani di sejumlah daerah Jawa Barat dan Jawa Timur tembus Rp 8.000 per kilogram. Hal itu menyebabkan pengusaha penggilingan padi kecil dan menengah ”tiarap” alias tidak mampu membelinya.

Di Jawa Tengah, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Demak Hery Sugihartono, Selasa (28/4/2026), mengatakan, harga gabah kering panen (GKP) di Demak sekitar Rp 7.700-Rp 8.000 per kilogram (kg). Hal itu juga terjadi di sejumlah wilayah di Kudus dan Grobogan.

”Kenaikan harga gabah itu terjadi lantaran pasokannya terbatas. Ini mengingat panen raya padi musim tanam II di wilayah Demak dan sekitarnya baru akan berlangsung pada Mei 2026,” ujarnya ketika dihubungi dari Jakarta.

Menurut Hery, lonjakan harga gabah itu juga dipengaruhi kenaikan harga karung gabah berkapasitas 50 kg yang terbuat dari rajutan plastik. Hal itu terutama jika panennya menggunakan combine harvester atau alat pemanen padi modern.

Harga karung tersebut naik Rp 500-Rp 1.000 per lembar. Kenaikan harga karung itu memengaruhi kenaikan harga gabah sekitar Rp 50 per kg.

Quote

Jika harga GKP Rp 7.700 per kg dan Rp 8.000 per kg, harga beras medium bisa dua kali lipatnya, yakni Rp 14.000-Rp 16.000 per kg. Padahal, HET beras medium saat ini hanya Rp 13.500 per kg.

Mesin pemanen padi, combine, digunakan untuk memanen padi di lahan persawahan di kawasan Widasari, Indramayu, Jawa Barat, Selasa (23/9/2025). Penggunaan combine untuk memanen padi dapat mengurangi biaya panen dari Rp 7,5 juta per bahu (7.000 meter persegi) menjadi Rp 2 juta-Rp 2,5 juta per bahu.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
23/09/2025

Hery juga mengungkapkan, harga GKP yang naik sangat tinggi itu membuat pelaku penggilingan kecil dan menengah tidak mampu membelinya. Kalaupun mampu membeli gabah itu, mereka tidak dapat menjual beras sesuai harga eceren tertinggi (HET) Rp 13.500 per kg.

”Saat ini, harga beras medium di tingkat penggilingan di Demak Rp 13.700 per kg. Harga tersebut jelas-jelas sudah di atas HET beras medium yang ditetapkan pemerintah,” ungkap Hery.

Di Jawa Barat, Jumair (50), pelaku usaha penggilingan kecil, mengaku kesulitan mendapatkan GKP dengan harga murah. Saat ini, harga GKP di tingkat petani di Cirebon Rp 7.500-Rp7.800 per kg dan di Indramayu Rp 7.800-Rp 8.200 per kg.

Hal senada juga disampaikan anggota Asosiasi Bank Benih Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Jawa Barat, Masroni. Di Indramayu, Subang, dan Karawang bagian utara, harga GKP ada yang sudah mencapai Rp 8.500-Rp 8.800 per kg.

Adapan di Cirebon, Majalengka, dan sebagian Kuningan, harga GKP rata-rata sebesar Rp 7.700 per kg. Tingginya harga GKP ini membuat penggilingan padi di daerah-daerah tersebut tidak mampu membelinya.

”Jika harga GKP Rp 7.700 per kg dan Rp 8.000 per kg, harga beras medium bisa dua kali lipatnya, yakni Rp 14.000-Rp 16.000 per kg. Padahal, HET beras medium saat ini hanya Rp 13.500 per kg,” kata Masroni.

Perkembangan produksi dan proyeksi beras 2024-Mei 2026

Untuk mengatasi hal itu, Hery dan Masroni meminta pemerintah meredam terlebih dahulu kenaikan harga beras. Salah satu caranya dengan menggelontorkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang saat ini pasokannya sangat berlimpah.

Saat ini, cadangan beras pemerintah di Perum Bulog sekitar 5 juta ton. Namun, Badan Pangan Nasional mencatat, per 25 April 2026, realisasi penyaluran beras SPHP baru sebanyak 150.100 ton atau 18,14 persen dari target 828.000 ton sepanjang 2026.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, per 28 April 2026, harga rerata nasional beras medium sebesar Rp 13.732 per kg. Harga beras tersebut naik 0,07 persen secara mingguan dan 0,13 persen secara bulanan.

Sementara harga rerata nasional beras premium sebesar Rp 15.384 per kg. Harga beras tersebut naik 0,04 persen secara mingguan dan 0,18 persen secara bulanan.

Sejumlah daerah dengan kenaikan harga beras medium di atas 10 persen dari HET adalah Papua Tengah, Papua Pegunungan, Kalimantan Timur, dan Sumatera Barat. Adapun daerah dengan lonjakan harga beras premium di atas 10 persen dari HET adalah seluruh provinsi di Maluku dan Papua, Kalimantan Barat, dan Sumatera Barat.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto