PERANG TIMUR TENGAH

Harga Mahal Sebuah Perang

Perang jarang berhenti di lokasi ledakan. Konflik yang dimulai oleh beberapa negara dapat menjalar dengan cepat menjadi beban bagi dunia.

11 Mar 2026 05:30 WIB · Tajuk Rencana

AFP

Oleh Redaksi

Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, dan respons Iran menyerang Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah, memastikan perang yang diprediksi banyak pihak akhirnya terjadi. Lebih dari sepuluh hari berlalu, situasi yang terjadi menegaskan kekhawatiran dunia, akibat dari perang yang dimulai dua-tiga negara ini dirasakan oleh semua pihak.

Dampak paling jelas terasa pada produksi dan distribusi minyak dan gas alam. Negara-negara di Teluk Persia adalah produsen utama dunia, dan Selat Hormuz, yang ditutup Iran, dilintasi sekitar 20 persen produksi global. Harga minyak melonjak hingga di atas 100 dollar AS per barrel. Gangguan produksi dan distribusi migas memengaruhi sektor terkait seperti pembangkit listrik dan energi, industri kimia dan petrokimia, hingga pupuk.

Guncangan itu langsung dirasakan di pasar keuangan dan bursa saham. Lonjakan harga energi meningkatkan inflasi. Pemerintah di banyak negara bekerja keras menyesuaikan kebijakan moneter dan menjaga stabilitas ekonomi, menghadapi risiko stagflasi. Dampaknya dirasakan warga, biaya transportasi melonjak dan mobilitas penduduk terhambat, penghematan memaksa layanan sosial dan sekolah terhenti.

Pemerintah Filipina, misalnya, menetapkan pegawai pemerintah bekerja empat hari sepekan untuk menghemat bahan bakar dan listrik. Di Vietnam, pemerintah mempertimbangkan penghapusan tarif impor bahan bakar agar pasokan tetap terjaga dan harga tidak melonjak terlalu tinggi. Bangladesh bahkan meliburkan perguruan tinggi guna menekan konsumsi listrik dan bahan bakar.

Quote

Dunia bukan hanya milik negara-negara yang sedang berperang.

Negara industri seperti Japan dan Korea Selatan turut terdampak dengan anjloknya indeks bursa lebih dari enam persen. Mereka menyiapkan langkah stabilisasi, mulai dari melepas cadangan minyak strategis hingga paket perlindungan konsumen dari lonjakan harga energi.

People wait in a queue (R) to refuel their vehicles near a fuel station in Dhaka on March 8, 2026. Bangladesh launched fuel rationing on March 8 as an energy crunch deepened due to the war in the Middle East, creating long queues at filling stations and spilling over into anger. (Photo by Munir UZ ZAMAN / AFP)

Situasi ini menunjukkan, perang modern tidak akan hanya terbatas pada wilayah tempat bom dijatuhkan. Negara yang jauh dari medan tempur justru harus menanggung dampaknya. Filipina, Vietnam, dan Bangladesh hanyalah sedikit contoh bagaimana konflik di Timur Tengah memaksa banyak negara beradaptasi untuk menjaga rakyat mereka. Karena itu, semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung oleh warga dunia.

Tidak ada pihak yang benar-benar diuntungkan ketika konflik berubah menjadi krisis global. Komunitas internasional, dipimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa, perlu lebih tegas mendorong penghentian konflik dan membuka jalan diplomasi. Dunia bukan hanya milik negara-negara yang sedang berperang. Ketika konflik dibiarkan berlarut, seluruh umat manusia dipaksa ikut membayar harganya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Johanes Waskita Utama
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati