Beberapa perusahaan minyak dan perdagangan terkemuka telah menangguhkan pengiriman minyak mentah dan bahan bakar melalui Selat Hormuz.
28 Feb 2026 21:30 WIB · Internasional
AFP/SEPAH NEWS
LONDON, SABTU — Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Sabtu (28/2/2026), berpotensi mengganggu pasokan minyak mentah global. Distribusi minyak negara-negara Timur Tengah di Selat Hormuz bisa terganggu. Harga minyak akan melonjak tinggi.
Beberapa perusahaan minyak besar dan perusahaan perdagangan terkemuka telah menangguhkan pengiriman minyak mentah dan bahan bakar melalui Selat Hormuz yang terletak di antara Iran dan Oman. Informasi ini diperoleh kantor berita Reuters dari empat sumber.
”Kapal-kapal kami akan tetap berada di tempatnya selama beberapa hari,” kata seorang eksekutif senior di sebuah perusahaan perdagangan besar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/24/dd14400adabffd1f1c5235338f1cad89-24022026_ANU_AFP_Jalur_Penting_Selat_Hormuz_mumed.jpg)
Serangan AS dan Israel ke Iran bisa memicu Iran untuk menutup Selat Hormuz selama beberapa hari. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran utama sempit yang menghubungkan negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah dengan dunia.
Anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), termasuk Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Irak, mengekspor minyak sebagian besar melalui selat ini dengan tujuan utama Asia. Sebagai pengekspor gas alam cair (LNG) terbesar dunia, Qatar juga mengirim hampir semua produksinya melalui Selat Hormuz.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/19/67441e25-acf0-47d6-bab9-f321d4c1e329.jpg)
Pada 2024, sekitar 20 juta barel minyak mentah melewati jalur itu setiap hari. Angka itu setara dengan hampir 20 persen konsumsi minyak global, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA).
”Hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki infrastruktur jalan pintas yang berarti,” ucap analis Saxo Bank, Ole Hansen.
Sebelum perang antara Iran dan AS-Israel pecah, Arab Saudi dan UEA sudah menambah ekspor minyak dalam beberapa hari terakhir sebagai antisipasi. Dua negara ini juga sudah berupaya mencari opsi ekspor alternatif, termasuk lewat pipa-pipa. Namun, EIA mencatat, rute tersebut dapat mengangkut maksimal 2,6 juta barel per hari.
Iran terbukti pernah menyerang kapal-kapal musuhnya. Selama 2023-2024, misalnya, Teheran menyita setidaknya tiga kapal dekat Selat Hormuz. Selama ini, Armada Kelima AS yang berbasis di Bahrain bertugas melindungi pelayaran komersial di Selat Hormuz dan sekitarnya.
Harga minyak mentah mencapai 100 dolar AS (sekitar Rp 1,68 juta) per barel untuk pertama kali ketika invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Kenaikan harga minyak berisiko menyebabkan inflasi tinggi yang mengganggu pertumbuhan ekonomi global.
Menurut editorial Turkiye Today, harga minyak dunia sudah menunjukkan tren kenaikan seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS-Israel. Pada Jumat (27/2/2026), harga minyak mentah naik hampir 2,8 persen, baik untuk Brent maupun WTI, sehingga menjadi masing-masing 72,9 dolar AS (Rp 1,23 juta) dan 67 dolar AS (Rp 1,13 juta) per barel.
Saat perang Iran-Israel yang dibantu AS pada Juni 2025, harga minyak mentah juga naik. Minyak mentah Brent melonjak 7 persen hingga sempat mendekati 80 dolar AS per barel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/12/03/bc82cf1c-2a75-4722-9551-da76f4267c97.jpg)
Lembaga keuangan ING Global baru-baru ini memperkirakan, sekitar 9 juta barel minyak mentah per hari dan 6 juta barel produk olahan minyak per hari akan tetap terganggu meskipun ada pengalihan jalur pipa ketika Selat Hormuz terganggu. Gangguan dengan skenario yang terbatas dapat mendorong harga menuju 100 dolar AS (Rp 1,68 juta) sebelum mereda ke kisaran 80 dolar AS (Rp 1,3 juta) hingga 90 dolar AS (Rp 1,5 juta).
”Pemblokadean berkepanjangan dapat menaikkan harga minyak Brent hingga 140 dolar AS (Rp 2,4 juta) per barel,” bunyi laporan ING Global.
Meskipun lonjakan harga minyak pada 2025 terbukti berumur pendek, fenomena itu telah meningkatkan ekspektasi inflasi dan menaikkan biaya impor, terutama di negara-negara pengimpor energi, seperti Turki dan China. Kenaikan harga minyak mentah biasanya berdampak pada biaya bahan bakar, produksi industri, dan inflasi.
Penelitian Dana Moneter Internasional (IMF) mendapati, kenaikan harga minyak global sebesar 10 persen cenderung meningkatkan inflasi domestik sekitar 0,4 poin persentase pada saat dampaknya terjadi.
Iran juga merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Produksi minyak Iran turun tajam sejak tahun 1970-an, terutama akibat sanksi AS. Walakin, Iran tetap berada dalam peringkat 10 produsen minyak utama global.
”Pada 1974, Iran adalah produsen terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi serta di atas Rusia. Teheran kala itu memproduksi sekitar 6 juta barel per hari,” kata Arne Lohmann Rasmussen, Kepala Analis di Global Risk Management.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/05/26/Venezuela-Iran_89440608_1590474516.jpg)
Menurut OPEC, Iran sekarang memproduksi sekitar 3,1 juta barel per hari. Iran termasuk anggota organisasi ini. Jumlah itu tetap signifikan.
Iran diperkirakan memiliki cadangan minyak mentah terbesar ketiga di dunia, salah satu penentu posisi strategisnya dalam geopolitik. Industri minyak Iran berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dari Venezuela, pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, yang baru saja diserang AS, Januari lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/f541a438-938f-4e9f-9471-eefea955dc48.jpg)
Iran masih mampu memproduksi minyak mentah dengan mudah dan murah. Rasmussen menjelaskan, biaya produksi bisa hanya sekitar 10 dolar AS (sekitar Rp 168.000) per barel. Oleh sebab itu, Iran sangat untung ketika menjual minyak mengikuti harga minyak global yang tinggi.
Sebagai perbandingan, biaya produksi minyak Barat, seperti AS dan Kanada, berkisar 40-60 dolar AS (sekitar Rp 672.000-Rp 1 juta) per barel. Hanya Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan UEA yang bisa memproduksi minyak dengan harga seperti Iran.
Akibat sanksi AS sejak Revolusi Islam 1979, Iran hanya memiliki sedikit pilihan ekspor. China biasanya membeli minyak Iran di bawah harga pasar secara diam-diam. Iran mengekspor sekitar 1,3 juta-1,5 juta barel per hari. ”Lebih dari 80 persen produksi itu ditujukan untuk kilang minyak China,” ujar Hansen. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul