Harga minyak melonjak seiring perang memanas. Begitu Trump beri sinyal perang segera berakhir, harga minyak turun lagi. Energi masih efektif jadi alat geopolitik.
10 Mar 2026 14:04 WIB · Internasional
AP/Tasnim News Agency
Harga minyak yang berfluktuasi liar menjadi tanda ketidakpastian geopolitik karena perang di Timur Tengah yang mengancam pasokan energi dunia. Karena perang itu, patokan harga minyak mentah Brent, patokan internasional, melonjak hingga 119,50 dolar AS per barel untuk pertama kali sejak pandemi Covid-19.
Banyak negara membatasi harga dan menjatah bahan bakar setelah para ekonom memperingatkan perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran dapat meningkatkan inflasi dunia dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Namun, harga minyak kemudian turun tajam hingga di bawah 90 dolar AS per barel setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan perang mungkin akan segera berakhir, Senin (9/3/2026). Meski sudah turun, angka itu masih lebih tinggi daripada harga minyak mentah sekitar 70 dolar AS per barel sebelum AS dan Israel menyerang Iran.
Hanya saja, beberapa jam setelah mengindikasikan perang bisa segera berakhir, Trump mengeluarkan pernyataan berbeda lagi. Ia mengatakan, meski sudah menang dalam banyak hal, bagi AS, kemenangan itu belum cukup. AS tidak akan berhenti menggempur Iran sampai negeri itu benar-benar dikalahkan dan kehilangan kemampuan melawan balik.
Turunnya harga minyak pada Selasa (10/3/2026) menandakan pasar merespons positif sinyal Trump bahwa perang bisa berakhir lebih cepat. Penurunan harga minyak juga merupakan respons atas langkah AS melonggarkan sanksi terkait perdagangan minyak. Selain itu, AS juga menjanjikan pengamanan bagi tanker minyak untuk melalui Selat Hormuz.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/03/11/c83ad0e9-89e7-4364-8519-96b1024f9b0c.jpg)
Harga minyak sempat melonjak di atas 100 dolar AS per barel karena pemotongan pasokan oleh Arab Saudi dan produsen lain.
Harga kemudian turun setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menelepon Trump dan berbagi usulan untuk menyelesaikan perang Iran dengan cepat. Trump sedang mempertimbangkan untuk melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia. Selain itu, cadangan minyak mentah juga dipertimbangkan untuk dilepas sebagai bagian dari paket opsi yang akan mengekang lonjakan harga minyak dunia.
”Mempertimbangkan peristiwa 24 jam terakhir, saya memperkirakan minyak mentah akan tetap sangat fluktuatif, diperdagangkan dalam kisaran yang luas antara sekitar 75 dolar AS dan 105 dolar AS dalam sesi mendatang,” kata Tony Sycamore, analis pasar IG.
Produsen minyak Teluk, seperti Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA), telah mengurangi produksi karena kendala ekspor dan kekhawatiran akan kehabisan ruang penyimpanan. Kekhawatiran akan serangan hampir menghentikan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, tempat seperlima minyak dunia berlayar setiap harinya. Minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, UEA, dan Iran melewati selat itu.
Irak sudah memangkas produksi di ladang minyak utamanya sebesar 70 persen menjadi 1,3 juta barel per hari, sementara Kuwait Petroleum Corporation juga mulai mengurangi produksi. Negara-negara G7 juga siap menerapkan ”langkah-langkah yang diperlukan” sebagai respons terhadap melonjaknya harga minyak global. Namun, G7 belum sampai pada komitmen untuk melepaskan cadangan darurat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/10/08931fb14e4e82a0a5086262380d06e2-wires_photo_313.jpg)
”Dalam hal ekonomi, ini sudah guncangan pasokan minyak terbesar yang pernah ada,” kata Nicholas Mulder, asisten profesor sejarah yang mempelajari dampak ekonomi perang di Universitas Cornell. Kondisi saat ini lebih parah dibandingkan dengan krisis minyak pada 1973 dan 1979.
Jika Selat Hormuz tutup selama beberapa minggu, ahli strategi minyak dan gas di Macquarie Research mengatakan harga minyak mentah dapat mencapai 150 dolar AS per barel atau lebih tinggi lagi. Trump meremehkan gagasan untuk beralih ke cadangan minyak strategis Amerika. Trump masih yakin pasokan AS cukup dan harga akan segera turun.
Namun, lonjakan biaya minyak dan gas alam masih mendorong harga bahan bakar lebih tinggi. Ini berdampak terhadap berbagai industri, mulai dari bahan bakar jet untuk pesawat terbang dan harga bensin mobil hingga tagihan energi rumah tangga.
Ekonomi Asia diproyeksikan akan terdampak parah mengingat ketergantungannya yang besar pada impor dari Timur Tengah. Iran mengekspor sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sebagian besar ke China. Beijing mungkin perlu mencari pasokan dari tempat lain jika ekspor Iran terganggu. Ini akan menaikkan harga lagi. Korea Selatan juga akan mencari alternatif pasokan minyak.
Harga minyak yang melonjak gara-gara perang di Timur Tengah menunjukkan betapa dunia terus bergantung pada pasokan minyak dan gas yang andal. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro hingga perang di Timur Tengah mengingatkan pengaruh abadi minyak dalam geopolitik dan ekonomi global.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/10/de1aba4f54af02c11b97a306678631dc-Iran_US_Key_Oil_Facilities.jpg)
Dunia tetap bergantung pada pasokan minyak dan gas yang andal meski dua pertiga pengeluaran dunia di sektor energi sekarang dialokasikan untuk energi alternatif yang lebih bersih, seperti tenaga surya.
”Tetapi, dunia pascaminyak masih jauh di masa depan. Kita masih di tahap awal transisi energi dan proses itu butuh waktu,” kata peneliti di Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Colombia, AS, David Sandalow, kepada harian The New York Times.
Wakil Penasihat Keamanan Nasional untuk Irak dan Afghanistan semasa pemerintahan Presiden AS George W Bush, Meghan O’Sullivan, mengatakan, minyak kembali muncul sebagai alat geopolitik dan ancaman ekonomi saat AS mau mengakhiri hubungan perdagangan dan berkonflik dengan negara lain.
Senjata energi tidak pernah hilang dan energi dapat menjadi alat kebijakan luar negeri serta tujuan. Seperti yang dilakukan AS kepada Venezuela dan Kuba. AS memblokir Kuba untuk mengakses minyak demi menggulingkan rezim Kuba.
”Padahal, mereka sangat bergantung pada minyak impor. Sekarang mereka menghadapi krisis kemanusiaan dan pemadaman listrik. Ini menunjukkan betapa rentannya negara-negara terhadap sumber energi yang diproduksi negara lain,” kata O’Sullivan yang juga guru besar di Sekolah Kennedy Universitas Harvard itu.
CNN mengutip sumber yang menceritakan pemerintahan Trump saat ini sedang berupaya keras mengatur operasi militer yang kompleks untuk memulai kembali aliran kapal tanker minyak. Hal ini dilakukan sembari menentukan cara untuk mengurangi harga dengan mengambil tindakan di pasar. AS juga meluncurkan kampanye untuk meyakinkan publik bahwa kesulitan mengakses bahan bakar di SPBU kemungkinan akan bersifat jangka pendek.
Akan tetapi, apa yang terjadi di lapangan dan kampanye AS itu tak sejalan. Kuwait, Irak, dan UEA sudah menutup sumur-sumur mereka dan, kalau sudah mati, tidak mudah menghidupkannya kembali. Jika ini terjadi, pasokan macet. ”Ada kebutuhan mendesak untuk solusi jangka pendek dan Gedung Putih menyadari fakta itu,” kata seorang pejabat AS.
Satu-satunya solusi langsung untuk krisis yang semakin memburuk ini, menurut para eksekutif minyak, analis pasar, dan diplomat, adalah operasi pengawalan Angkatan Laut AS untuk melindungi kapal-kapal tanker. Trump pernah menjanjikan ini.
Bagi Trump, krisis ini bukan hanya masalah geopolitik, melainkan juga masalah kelangsungan hidup politik domestik. Dengan pemilihan paruh waktu yang akan datang pada November 2026, lonjakan harga bensin di dalam negeri AS menjadi ancaman yang ”merusak secara politik” bagi Trump dan tidak dapat ditutupi oleh retorika diplomatik apa pun. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra