Harga sejumlah komoditas pangan dalam beberapa waktu terakhir ini terus merangkak naik. Waspadai dampaknya dalam jangka panjang.
12 Sep 2025 11:16 WIB · Nasional
MALANG, KOMPAS — Harga sejumlah komoditas pangan dalam beberapa waktu terakhir ini terus merangkak naik. Butuh langkah mitigasi tepat mencegah hal ini terus berkepanjangan.
Di Malang, Jawa Timur, misalnya, kenaikan harga terjadi di komoditas vital. Salah satunya yang paling mencolok adalah harga daging ayam.
Di awal September 2025, harga daging ayam hanya Rp 34.000 per kilogram. Pada Senin (8/9/2025), harga daging ayam mulai menyentuh Rp 36.000 per kg. Namun, Jumat (12/9/2025), harganya melonjak Rp 38.000 per kg.
”Katanya, pasokan ayamnya langka. Sekarang, banyak pedagang tidak dapat jatah ayam,” kata Brian (35), pedagang Pasar Lowokwaru, Kota Malang, Jatim, Jumat.
Kenaikan harga ini membuat Brian cemas. Dia khawatir kehilangan pelanggan akibat kenaikan harga ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/12/ae5c044109f2ce1bd04a1e4eb5ded3e6-WhatsApp_Image_2025_09_12_at_8.08.05_AM_1_.jpeg)
Harga cabai rawit dan cabai keriting juga enggan turun. Pada awal pekan ini, harga cabai rawit hanya Rp 30.000 per kg. Pada Jumat, harganya sudah mencapai Rp 32.000 per kg. Sejak Selasa (9/9/2025), harga cabai naik rawit naik Rp 1.000 per kg per hari.
Kondisi ini kontras dengan harga di awal September. Baik cabai rawit maupun keriting masih dijual di bawah Rp 30.000 per kg.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/27/59907149f602238a99148dad94f50cf6-20250827wer4.jpg)
Dosen Ekonomi di Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah, menduga, ada anomali yang memicu kenaikan harga kebutuhan pokok. Alasannya, stok komoditas tidak berubah drastis tetapi harga justru melonjak.
”Tidak ada laporan pengurangan stok secara drastis. Daya beli masyarakat juga disebut tidak tinggi. Namun, harga komoditas justru naik. Ini tidak sesuai hukum ekonomi, jika suplai berkurang dan daya beli tinggi, harga naik. Artinya, ada anomali,” kata Yunan.
Yunan menduga hal ini dipicu invisible hand (pihak tertentu) yang campur tangan dalam situasi ekonomi. Mereka berusaha mengintervensi kondisi ekonomi dengan tujuan tertentu.
”Apakah ada hubungannya dengan situasi politik belakangan ini, kita tidak tahu. Namun, semua pihak harus waspada agar hal ini tidak memengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat dalam jangka panjang. Karena kalau sampai itu terjadi, hal tidak diinginkan bisa terjadi,” katanya. Hal tidak diinginkan itu, misalnya, krisis ekonomi parah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/27/85ac8c8184c02622fd452bad89b831b4-20250827wer1.jpg)
Menurut Yunan, sebenarnya pemerintah sudah berupaya menstabilkan harga komoditas dengan pasar murah dan kebijakan lain. Namun, hal itu belum ampuh mengungkit daya beli masyarakat secara signifikan.
Ke depan, ia mengatakan, pemerintah perlu memitigasi kondisi ini agar tidak berkepanjangan. Butuh upaya serius mengendalikan harga agar inflasi terkendali dan situasi ekonomi negara tidak mengalami guncangan.
”Yang terpenting lagi meningkatkan pendapatan masyarakat agar daya belinya meningkat,” katannya.
Penulis:
Dahlia IrawatiEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan