Harga Tiket Pesawat Mencekik, Kapal Pelni Jadi Solusi Pemudik di NTT

Klaim pemerintah terkait turunnya harga tiket pesawat serasa tak banyak berdampak di NTT. Tiket pesawat masih dirasa mahal. Beruntung ada alternatif kapal Pelni.

16 Des 2024 16:24 WIB · ekonomi

Oleh Fransiskus Pati Herin

KUPANG, KOMPAS — Harga tiket pesawat untuk penerbangan di dalam wilayah Nusa Tenggara Timur yang masih mencekik membuat sebagian pemudik memilih menggunakan kapal Pelni. Tampaknya kebijakan penurunan tarif pesawat komersial yang diklaim pemerintah pusat tak banyak berdampak di NTT.

Pantauan di Pelabuhan Tenau, Kota Kupang, Senin (16/12/2024), ratusan penumpang, termasuk para pemudik, bertolak menggunakan kapal Pelni KM Awu ke Pelabuhan Kalabahi, Kabupaten Alor. Lama pelayaran diperkirakan sekitar 18 jam.

Para pemudik berangkat lebih awal mengingat tidak ada lagi pelayaran di rute itu sebelum perayaan Natal pada 25 Desember 2024. ”Harus berangkat sekarang karena tidak ada pilihan lagi. Kapal baru ada dua minggu kemudian,” kata Ayub (40), pemudik.

Pada rute itu ada pelayaran kapal Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) dengan frekuensi pelayaran dua kali dalam seminggu, tetapi sering tertunda lantaran gelombang tinggi. Terhitung mulai Desember hingga Februari, perairan di NTT sering dilanda cuaca buruk.

Penumpang Pelni

Alternatif lain adalah menggunakan moda pesawat, tetapi harga tiket yang mencekik tidak bisa dijangkau oleh kebanyakan pemudik. Di situs penjualan tiket daring, rute Kupang-Alor berkisar Rp 1,1 juta. Setiap hari, rute itu dilayani satu kali penerbangan oleh hanya satu maskapai. Dibandingkan harga tiket pesawat, harga tiket kapal Pelni jauh lebih murah, yakni hanya Rp 117.000 per penumpang dewasa.

”Memang waktu pelayaran lumayan lama, tapi itu kami anggap waktu rekreasi di kapal. Kapal sangat membantu,” kata Ayub.

Keluhan harga tiket pesawat juga disampaikan pemudik dengan tujuan Larantuka di Kabupaten Flores Timur dan Lewoleba di Kabupaten Lembata. Harga tiket pesawat untuk rute itu juga hampir sama, berkisar Rp 1,2 juta. Jika menggunakan kapal Pelni, tarifnya Rp 117.000 per penumpang. 

Sebelum harganya mencekik pascapandemi Covid-19, tarif tiket pesawat untuk rute rute Kupang-Larantuka pernah turun hingga Rp 300.000 per penumpang dewasa. Tingginya harga tiket pesawat ini kontradiksi dengan penurunan harga tiket yang diklaim pemerintah pusat. 

Pemerintah resmi menurunkan harga tiket pesawat sekitar 10 persen untuk penerbangan Kamis (19/12/2024) hingga Jumat (3/1/2025). Nilai penurunan lebih kurang Rp 157.500 per tiket.

Namun, konsumen menilai penurunan itu sangat kecil. Ini terutama dirasakan penumpang dengan rute penerbangan jauh dari dan ke Indonesia bagian timur (Kompas, 3/12/2024).

KM Awu

Pergi-pulang dengan Pelni

Untuk rute Kupang-Larantuka dan Kupang-Lewoleba, pelayaran dengan kapal Pelni menjelang Natal hanya ada satu kali, yakni 21 Desember. Pelayaran baru ada lagi dua minggu kemudian.

”Nanti balik ke Kupang juga menggunakan kapal Pelni. Kami harap tahun depan ada penambahan lagi kapal Pelni yang melayani NTT,” kata Marsel Demon (45), warga.

Seperti diberitakan sebelumnya, Direktur Usaha Angkutan Penumpang Pelni Nuraini Dessy W memperkirakan, sebanyak 27.941 orang akan melakukan perjalanan dengan kapal Pelni pada 19 Desember, yang diperkirakan menjadi puncak mudik Natal 2024 dan Tahun Baru 2025. 

”Wilayah Indonesia tengah, seperti Makassar, Baubau, Balikpapan, hingga NTT, menjadi penyumbang terbesar hingga 40 persen,” ujar Dessy.

KM Awu

Setidaknya terdapat 11 kapal penumpang Pelni yang melayani wilayah tengah, disusul 11 kapal lain untuk wilayah timur, dan 4 kapal untuk wilayah barat. Periode libur Natal dan Tahun Baru untuk layanan Pelni dihitung sejak 11 Desember 2024 hingga 8 Januari 2025. 

Quote

Kami harap tahun depan ada penambahan lagi kapal Pelni yang melayani NTT.

Pada libur Natal dan Tahun Baru ini, Pelni mengoperasikan 25 kapal penumpang ditambah 30 kapal perintis penugasan Kementerian Perhubungan. Kapasitas 25 kapal penumpang Pelni sebesar 48.323 tempat duduk yang melayani 72 pelabuhan. Adapun total kapasitas kapal perintis sebanyak 11.889 untuk melayani 236 pelabuhan. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Pati Herin
 | 

Editor:

C. Wahyu Haryo P
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji