Aksi massa, berjudul Buruh Meruwat Negara, sebagai sikap atas persoalan kondisi bangsa saat ini pada peringatan Hari Buruh Internasional di Semarang.
01 Mei 2025 13:28 WIB · Foto
Yel-yel dan lagu mars dikumandangkan massa buruh saat berjalan dan mengusung gunungan hasil bumi menuju Kantor DPRD Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis (1/5/2025). Mereka membawa spanduk berukuran besar bertuliskan ”Buruh Meruwat Negoro” sebagai sikap atas persoalan kondisi bangsa saat ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/01/e91f58cd20037d24bfde2d0dfb2b2b4c-20250501WEN19.jpg)
Buruh perempuan dengan kebaya warna-warni dan mengenakan caping sesekali memekikkan semangat perjuangan. Tangan kanan mereka meninju ke angkasa sebagai bentuk penyemangat aksi unjuk rasa yang digelar bersamaan pada peringatan Hari Buruh Internasional.
Sementara itu, sejak pagi pasukan polisi dan TNI sudah disiagakan yang pada tahun ini tampak lebih ketat. Pasukan antihuru-hara dengan tamengnya serta kendaraan water canon dan motor disiapkan untuk membubarkan massa jika terjadi kericuhan.
Penggembosan rencana aksi buruh juga sempat ramai setelah beredar surat edaran dari Wali Kota Semarang yang berisi ajakan untuk tidak terprovokasi ajakan mengikuti Hari Buruh. Hal ini mendapat kecaman keras dari Sekretaris Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Jawa Tengah Heru Budi Utoyo saat berorasi di depan massa buruh.
Dalam aksi peringatan Hari Buruh Internasional ini mereka menyoroti berbagai persoalan, antara lain ekonomi, sosial, hukum, dan politik. Ketua KSPN Jateng Nanang Setyono menungkapkan soal kenaikan harga kebutuhan pokok tidak sebanding dengan upah buruh saat ini. Ia juga mengatakan korupsi yang terus berlangsung dan tidak ada ketegasan hukum turut merusak iklim investasi saat ini.
Kedatangan massa buruh yang membawa gunungan hasil bumi merupakan simbol harapan dan doa untuk meruwat negara. Beberapa saat setelah doa dipanjatkan, pekerja perempuan mulai berebut gunungan mengambil beragam jenis sayuran.
Salah satunya Suratmi. Pekerja pabrik elektronik ini menggegam tomat, sawi, dan kacang panjang hasil berebut gunungan. ”Semoga membawa berkah bagi kami kaum buruh,” ujarnya.
Penulis:
Raditya Mahendra YasaEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji