Hari Kelima Longsor Majenang, Tim SAR Temukan 3 Korban

Total korban tewas yang ditemukan dalam longsor di Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, sebanyak 16 orang. Tujuh korban lainnya dalam pencarian tim SAR gabungan.

17 Nov 2025 11:21 WIB · Lingkungan

DOKUMENTASI KANTOR SAR CILACAP

Oleh Yola Sastra

PADANG, KOMPAS — Hari kelima pencarian, tim SAR gabungan kembali menemukan tiga korban meninggal di lokasi bencana longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Petugas masih mencari tujuh korban lainnya yang diduga tertimbun longsor.

Ketiga korban tewas itu adalah Nilna Nur Fauziah (9), Wafik Nur Aini Zahra (15), dan Cahyanto (57). Ketiganya ditemukan di worksite A-2, Dusun Cibuyut, Senin (17/11/2025) pagi.

”Nilna Nur Fauziah ditemukan pukul 08.57, ⁠Wafik Nur Aini Zahra ditemukan pukul 09.37, dan ⁠⁠Cahyanto ditemukan pukul 09.50 WIB,” kata Kepala Kantor SAR Cilacap Muhamad Abdullah, Senin pagi.

Abdullah menyebut, dengan temuan ini, semua korban di worksite A-2 telah ditemukan. Tim SAR di titik itu digeser untuk membantu proses pencarian di worksite B-1 dan B-2 di Dusun Tarukahan. 

Tim SAR gabungan mengevakuasi korban longsor yang tertimbun di Dusun Cibuyut, Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin (17/11/2025).

S Amelia dari Humas Kantor SAR Cilacap menambahkan, dengan penemuan tiga korban itu, korban yang masih dalam pencarian sebanyak tujuh orang. ”Di worksite B-1 dan B-2 (Dusun Tarukahan) ada enam orang. Di worksite A-1 (Dusun Cibuyut) ada satu orang,” katanya. 

Tambahan tiga korban membuat jumlah korban bencana longsor Majenang, Kamis (13/11/2025) malam, mencapai 16 orang. Secara keseluruhan, ada 17 keluarga dengan 46 jiwa terdampak longsor ini, yaitu 16 jiwa meninggal, 7 jiwa hilang, dan 23 jiwa selamat.

Metode pencarian

Sebelumnya, Abdullah menjelaskan, metode pencarian korban pada hari kelima menggunakan lima metode, yaitu menggunakan drone thermal, anjing pelacak, alat bantu kompresor, ekstrikasi modern dan manual, serta ekskavator/alat berat.

Proses pencarian difokuskan di empat titik worksite, yaitu worksite A-1 dan A-2 di Dusun Cibuyut serta worksite B1 dan B2 di Dusun Tarukahan.

Ekskavator mengeruk titik longsor di Desa Cibeunying, Sabtu (15/11/2025), untuk mencari korban hilang dalam bencana longsor di desa yang berada di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, itu.

Abdullah menyebut, operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan BNPB sejak Minggu (16/11/2025) mulai terlihat dampaknya. Minggu sore tidak turun hujan di lokasi kejadian. Cuaca buruk sebelumnya jadi kendala proses pencarian.

”Hari ini (Senin), cuaca terpantau cerah. Mudah-mudahan bisa memaksimalkan pencarian hingga seluruh korban dapat segera ditemukan,” katanya.

Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayor Jenderal Budi Irawan mengatakan, operasi SAR di Cilacap terkendala cuaca. BNPB mengupayakan OMC dengan tujuan agar hujan tidak turun di wilayah terdampak sehingga proses pencarian dan pertolongan dapat dimaksimalkan. 

”OMC ini kami upayakan agar cuaca di wilayah terdampak lebih kondusif sehingga operasi SAR bisa dimaksimalkan dan keselamatan petugas tetap terjaga,” kata Budi, Sabtu (15/11/2025).

Petugas memasukkan garam untuk operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dipusatkan di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, dalam rangka mendukung percepatan penanganan bencana tanah longsor di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Minggu (16/11/2025).

Longsor menerjang Desa Cibeunying di Kecamatan Majenang, Kamis (13/11/2025), sekitar pukul 20.00. Berdasarkan data Kantor SAR Cilacap, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada dua dusun yang terdampak, yaitu Tarukahan dan Cibuyut. 

Selain menimbulkan korban manusia, longsor juga menyebabkan kerugian material. Ada 12 rumah rusak berat karena tertimbun material longsor dan 16 rumah di Tarukahan dan Cibuyut dalam status terancam longsor.

Longsor itu terjadi akibat hujan deras yang mengguyur sejak Kamis siang dan kondisi tanah yang tidak stabil. Material longsor tidak hanya menimbun permukiman, tetapi juga menyebabkan penurunan tanah sedalam lebih kurang 2 meter dan retakan dengan panjang mencapai 25 meter. Luasan area terdampak sekitar 6,5 hektar.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yola Sastra
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan