BerandaTokohHarris Horatius, Jalan Em...

Harris Horatius, Jalan Emas Sang Pendekar Wushu

Ketekunan dan konsistensi membawa pewushu Harris Horatius ke podium tertinggi di Asian Games Hangzhou 2022.

02 Okt 2023 02:47 WIB · Tokoh

Oleh KELVIN HIANUSA

Pewushu Indonesia Harris Horatius tampil pada final nomor <i>nangun</i> putra Asian Games 2022 di Xiaoshan Guali Sports Centre, Hangzhou, China, Selasa (26/9/2023). Harris Horatius meraih emas seusai mendapatkan total poin 19,506 (<i>nanquan</i> 9,756 poin dan <i>nangun</i> 9,750 poin).

Bagi pewushu Harris Horatius (27), semuanya punya waktu bersinar. Tinggal bagaimana menyiapkan diri dengan tekun dan konsisten agar siap saat peluang datang. Prinsip itu yang dibawanya sejak jadi atlet nasional, terjebak stagnasi prestasi selama sewindu, sampai akhirnya berjaya di Asian Games Hangzhou 2022.

Raihan medali emas di Asian Games bisa dikatakan sebagai puncak prestasi untuk seorang pewushu Indonesia. Layaknya perenang di Olimpiade. Tidak ada ajang multicabang empat tahunan lebih bergengsi yang melombakan wushu. Olahraga itu juga berkembang pesat di Asia sehingga persaingan antarnegara sangat kompetitif.

Apalagi jika meraih prestasi itu di tanah China, tempat seni bela diri itu dilahirkan dan dibesarkan. Siapa sangka, Harris yang bukan sosok paling menonjol dalam tim wushu Indonesia bisa menggapai emas di Hangzhou, China, Selasa (26/9/2023). Dia meneruskan tradisi emas wushu yang sudah berulang tiga edisi beruntun, sejak Incheon 2014.

”Ini adalah sebuah pencapaian tertinggi, catatan sejarah bagi saya. Ini sudah yang paling tinggi, tidak ada lagi. Pencapaian ini akan menjadi sebuah cerita yang luar biasa (dalam hidup saya). Bagaimana bisa mendapatkan prestasi di kandang orang, di tempat wushu berawal,” kata atlet asal Medan tersebut.

Baca Juga: Berkat Harris, Tradisi Emas Wushu Terjaga

Terakhir kali ke China, Asian Games Guangzhou 2010, tim wushu pulang tanpa emas. Harris mengubah sejarah itu lewat disiplin taolu (jurus) dalam nomor gabungan gaya aliran selatan, nanquan (tangan kosong) dan nangun (toya). Dia mengalahkan 19 atlet lain, termasuk peraih emas di edisi sebelumnya, Huang Junhua (Makau).

Di nomor yang diikuti Harris, wakil China memang tidak ada karena keterbatasan kuota. Namun, persaingan tidak serta-merta lebih mudah, justru semakin ”panas”. Seluruh negara peserta menyadari bahwa mereka berpotensi mencuri emas. Mereka pun menaruh wakil terbaik di nomor itu. Persaingan sengit bahkan sudah berlangsung sejak di matras latihan.

”Dari pemanasan sudah terlihat bagaimana ambisi mereka (pewushu lain). Saya bisa melihat itu. Mata mereka seperti menyala-nyala. Dari tempat pemanasan itu, kami sudah bertanding, saling menjatuhkan mental. Beradu siapa yang lebih fokus dan bisa tetap kuat, tidak terpengaruh mentalnya. Kalau ragu sedikit saja, bahaya,” ujarnya.

Pewushu Indonesia Harris Horatius tampil pada final nomor <i>nangun</i> putra Asian Games 2022 di Xiaoshan Guali Sports Centre, Hangzhou, China, Selasa (26/9/2023). Harris Horatius berhasil meraih emas usai meraih total poin 19,506 (<i>nanquan</i> 9,756 poin dan <i>nangun</i> 9,750 poin).

Disiplin taolu sangat kompleks. Penilaian bergantung terhadap subyektivitas juri. Karena itu, para pewushu harus tampil sempurna. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun atau nilai akhir akan dipotong. Itulah mengapa mental mereka harus sangat siap ketika berada di atas matras lomba.

Harris, yang merupakan atlet paling senior dalam tim, tidak terpengaruh perang psikis. Dia sudah terbiasa dengan tekanan setelah makan asam-garam di kompetisi level internasional sejak 2015. Meskipun lebih sering tidak meraih emas, dia nyaris selalu dipanggil pemusatan latihan nasional. Konsistensinya luar biasa.

Baca Juga: Jurus Menutup Mata Pendekar Indonesia

Konsistensi itu turut tecermin dalam dua penampilannya, nanquan di pagi hari dan nangun di sore hari. Harris meraih skor tertinggi dalam kedua nomor sekaligus dengan total 19.506. Dia tampil lepas, tanpa beban, meskipun sudah mengetahui harapan emas tim wushu digantungkan kepadanya.

Ciri khas gaya selatan adalah gerakan jurus eksplosif yang diakhiri ekspresi berapi-api. Harris sangat percaya diri memperlihatkan jurus-jurusnya dan ditutup dengan teriakan lantang. Dengan kostum merah bercorak emas, dia tampak begitu maskulin sekaligus berkilau di atas matras. Dari skor akhir, seluruh juri sepakat dia yang terbaik.

Harris adalah sosok pas di waktu dan tempat yang tepat, bagai buah matang yang siap dipanen. Emas itu diraih setelah melewati perjuangan panjang nan berliku selama delapan tahun terakhir. Banyak jatuh dan bangun yang dialami, seperti kegagalan di Asian Games Jakarta-Palembang 2018.

Ketika itu, Harris menderita cedera lutut hanya sepekan sebelum Asian Games digelar. Alhasil penampilannya pun tidak maksimal dan hanya finis di peringkat ke-9 nanquan dan nangun. Dia belajar banyak dari kegagalan tersebut bahwa rezeki sudah diatur. Sesiap apa pun, jika bukan jalannya, tidak akan terjadi.

”Di satu sisi pasti ada kekhawatiran, ketakutan yang membuat bimbang. Ini benar enggak, sih? Kapan, sih? Saya penginnya sekarang (untuk berprestasi). Tetapi saya belajar untuk sabar dan bertahan. Yang penting konsisten. Kehendak kita mungkin mau secepat mungkin, tetapi kehendak Tuhan itu lebih indah, lebih sempurna,” tuturnya.

Harris Horatius berlaga di cabang olahraga Wushu di Chroy Changvar Convention Center, Phnom Penh, Kamboja, Rabu (10/5/2023). Ia mendapatkan perak di laga tersebut. Ia bakal berusaha mendapatkan emas di nomor lainnya.

Hal tersebut yang membuat mantan murid Yayasan Kusuma Wushu Indonesia itu tidak pernah iri dengan prestasi mentereng rekan-rekannya di pelatnas. Adapun di nomor individu, dia hanya sekali meraih emas di SEA Games Singapura 2015. Setelah itu, dia lebih sering mendapatkan perak dan perunggu.

Dengan modal kepercayaan, atlet yang sudah mengenal wushu sejak usia 10 tahun itu jadi tidak mudah menyerah. Saat pandemi Covid-19, dia sempat berpikir pensiun karena tidak ada latihan atau lomba. Namun, niat itu diurungkan karena masih percaya bisa berprestasi suatu hari nanti.

Quote

Bagi saya, ini bukan perjuangan seorang diri. Istri juga berjuang karena harus bertahan sendirian di rumah, di Jakarta. Pasti bisa.

Ujian juga datang dalam masa persiapan. Harris belum genap setahun menikah. Akan tetapi, dia harus berpisah dari istrinya sekitar 5 dari 9 bulan terakhir karena pemusatan latihan di China untuk SEA Games dan Asian Games. Menurut dia, sangat sulit menjalani hubungan jarak jauh untuk pasangan baru.

”Bagi saya, ini bukan perjuangan seorang diri. Istri juga berjuang karena harus bertahan sendirian di rumah, di Jakarta. Pasti bisa. Tetapi semua itu terbayar sekarang. Dukungan orangtua, teman-teman, pelatih, dan pengurus juga yang membuat saya percaya dengan proses,” tuturnya.

Kejayaan Harris di Hangzhou lebih dari sekadar prestasi pribadi. Dari hal itu, tersisip pesan untuk banyak orang, tidak ada yang tahu akhir sebuah perjuangan. Cukup bekerja keras, konsisten, dan bersabar. Biar waktu yang menjawab, seperti jalan emas yang ditempuh Harris, sang pendekar wushu kebanggaan Indonesia.

Harris Horatius

Lahir: Medan, 11 Oktober 1995 (27 tahun)

Prestasi, antara lain:

  • Emas Asian Games 2022 (nanquan/nangun)
  • Dua perak SEA Games 2023 (nandao/nangun dan nanquan)
  • Perak (nanquan) dan perunggu (nangun) SEA Games 2021
  • Emas Kejuaraan Dunia 2019 (duilian atau nomor beregu)
  • Emas SEA Games 2015 (nanquan/nangun)

Kerabat Kerja

Penulis:

KELVIN HIANUSA
 | 

Editor:

BUDI SUWARNA