Boby Nasution dan Surya mendominasi hampir di seluruh wilayah Sumut.
12 Des 2024 06:00 WIB · Politik & Hukum
KPU telah mengumumkan kemenangan pasangan calon Muhammad Bobby Afif Nasution-Surya di Pilkada Sumut pada Senin, 9 Desember 2024.
Dari 33 kabupaten dan kota di Sumut, pesaingnya, Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala, hanya unggul di tiga kabupaten/kota. Rendahnya partisipasi pemilih menjadi catatan khusus untuk Pilkada Sumut kali ini.
Berdasarkan pengumuman KPU, paslon nomor urut 1, Bobby-Surya, memperoleh 3.645.611 suara atau 64,5 persen suara dari total suara sah.
Sementara paslon nomor urut 2, Edy-Hasan, mendapat 2.009.311 suara atau 35,5 persen suara dari total suara sah, sedangkan suara tidak sah tercatat sebanyak 298.754 suara.
Artinya, ada selisih sebesar 1.636.300 suara atau 28,9 persen untuk keunggulan dari mantan Wali Kota Medan (2021-2024) Bobby Nasution dan mantan Bupati Asahan (2021-2024) Surya.
Sudah hampir dapat dipastikan keduanya akan menjalani pemerintahan Provinsi Sumut untuk lima tahun ke depan.
Jika merujuk survei Litbang Kompas pada akhir Oktober lalu, keunggulan ini sudah dapat diprediksi karena figur cagub yang berkompetensi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/26/97ca646f-65ae-4c07-9003-ae196e8eec1e_jpg.jpg)
Hal ini terutama terkait dengan paslon Bobby-Surya dianggap lebih mewakili identitas sosial masyarakat Sumut dibandingkan dengan paslon Edy-Hasan.
Dalam persepsi publik, identitas petahana Edy Rahmayadi yang berdarah Melayu Deli tampaknya dianggap lebih mewakili daerah Sabang ketimbang ”Paris van Sumatera”.
Kendati Sumut dikenal sebagai wilayah yang memiliki heterogenitas etnis dan agama yang tinggi, konstelasi politik di tingkat kepala daerah nyatanya masih berorientasi pada identitas putra daerah.
Dalam survei kala itu, Edy-Hasan hanya unggul jauh dibandingkan dengan Bobby-Surya di kalangan pemilih etnis Batak Pakpak dari kelima subsuku (puak) Batak lainnya.
Belum lagi, sejak awal pendaftaran paslon Bobby-Surya memiliki keunggulan dalam dukungan barisan partai KIM Plus yang terdiri tujuh partai parlemen dan tiga partai nonparlemen.
Kesepuluh partai itu ialah Gerindra, Demokrat, PKB, Golkar, Nasdem, PKS, PAN, PPP, Perindo, dan PSI. Jumlah dukungan untuk Bobby-Surya sebesar 19 kursi DPRD atau 74 persen dari total kursi DPRD.
Hal ini tentu kontras dengan paslon Edy-Surya yang cukup didukung oleh PDI-P dan lima partai nonparlemen (Buruh, Gelora, PKN, Hanura, Ummat). Keenam partai ini menghimpun total 4 kursi DPRD atau 26 persen dari total kursi DPRD.
Untuk melihat perolehan suara di tiap wilayah, hasil rekapitulasi yang dicatat oleh JagaSuara 2024 menjadi rujukannya. JagaSuara 2024 telah berhasil melakukan rekapitulasi suara 25.220 TPS dari total 25.223 TPS.
Artinya, hasil ini sudah mencapai 99,99 persen rekapitulasi dan menyisakan kekurangan dari dua TPS di Kabupaten Nias Selatan dan satu TPS di Kabupaten Labuhan Batu.
Dengan begitu, hasil rekapitulasi hingga 100 persen tidak akan berdampak signifikan pada perolehan suara kedua paslon Pilkada Sumut 2024.
Dari hasil tersebut, kubu Bobby-Surya terlihat unggul di 31 kabupaten/kota. Bahkan, Bobby-Surya mampu memperoleh selisih suara dari kubu Edy-Hasan di atas 60 persen di enam wilayah.
Keenamnya ialah Kabupaten Nias Selatan (selisih 64,9 persen), Kabupaten Toba (selisih 63,8 persen), Kabupaten Tapanuli Utara (selisih 63,2 persen), Kota Gunungsitoli (selisih 61,5 persen), Kabupaten Labuhanbatu Utara (selisih 61,3 persen), dan Kabupaten Nias (selisih 60,3 persen).
Dengan kata lain, enam wilayah ini jugalah yang memberikan sumbangan kemenangan suara (di atas 80 persen) bagi Bobby-Surya untuk Pilkada Sumut 2024 dengan total 506.171 suara.
Sementara itu, kubu Edy-Hasan hanya mampu unggul di tiga kabupaten/kota. Ketiganya ialah Kabupaten Mandailing Natal, Kota Binjai, dan Kota Tanjung Balai yang secara total menyumbangkan 224.532 suara bagi Edy-Hasan di pilkada kali ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/10/b7c59b7a-f65f-48b4-84ba-91623ffe46f3_jpg.jpg)
Wilayah persaingan perolehan suara yang terbilang sengit terjadi di Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Deli Serdang, Kota Padang Sidempuan, dan Kota Tebing Tinggi.
Terbilang sengit karena di keempat wilayah inilah selisih perolehan suara antara Bobby-Surya dan Edy-Hasan hanya di bawah 10 persen. Namun, keunggulan perolehan suara tetap berpihak kepada kubu Bobby-Surya.
Hal menarik di sini ialah sebelum pilkada digelar, kubu Bobby-Surya tampak kesulitan dalam menarik simpati dari pemilih yang berasal dari suku Jawa, Melayu, dan Minang.
Dengan merujuk pada hasil rekapitulasi di atas, tantangan itu tampak mampu diatasi oleh tim pemenangan Bobby-Surya. Meski menang, di wilayah mayoritas penduduk beretnis Jawa, seperti di Kota Binjai, Bobby-Surya hanya unggul 0,2 persen suara atas Edy-Hasan.
Strategi kubu Bobby-Surya dengan selalu mengikutsertakan Kahiyang Ayu, istri Bobby Nasution, saat berkampanye terbukti sebagai langkah yang tepat.
Sosok Kahiyang Ayu menjadi kapital simbolik sekaligus kapital kultural yang mampu meyakinkan para pemilih beretnis Jawa. Tentu saja, endorsement dari mantan presiden Jokowi yang memiliki approval rating nasional sebesar 71 persen menjadi salah satu daya pikat masyarakat Sumut untuk memilih Bobby-Surya.
Dengan keunggulan cukup telak yang dimiliki Bobby-Hasan, paslon ini tampaknya tidak akan tergoyahkan hingga waktu pelantikan pada 7 Februari 2025 nanti.
Meski begitu, jalannya pemerintahan provinsi yang baru di bawah Bobby-Hasan memiliki tantangan yang langsung terpampang ketika awal menjabat. Ada dua tantangan besar bagi Bobby-Surya.
Pertama, Bobby-Surya berhadapan dengan rapuhnya legitimasi pemerintahan provinsi baru. Kurangnya kadar legitimasi ini terlihat dari partisipasi pemilih yang tergolong rendah pada Pilkada Sumut 2024. Dari total 11.056.869 pemilih yang masuk dalam DPT, hanya 5.654.922 suara yang terhitung sebagai suara sah dan 298.754 suara tidak sah.
Artinya, terdapat 5.103.193 pemilih yang tidak datang ke TPS untuk mencoblos. Secara total, angka partisipasi pemilih di Pilkada Sumut 2024 berada di angka 53,8 persen atau hampir setengah DPT tidak ikut mencoblos.
Dalam konteks pemerintahan daerah, makin rendah partisipasi pemilih, maka makin rentan pula legitimasi pemerintahan daerah yang berjalan di periode selanjutnya.
Jika pemerintahan daerah tidak memiliki legitimasi publik yang kuat, imbasnya akan berdampak besar pada terhambatnya program-program daerah yang diupayakan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/13/a7eebd13-9daf-4759-83ea-2668ffd8646f_jpg.jpg)
Ketidakstabilan sosial politik daerah menjadi konsekuensi lain yang perlu diwaspadai. Pada akhirnya, pembangunan daerah akan tersendat dan kesejahteraan warga pun jalan di tempat, bahkan menurun kualitasnya.
Kedua, penguatan kefiguran Bobby-Surya sebagai pemimpin baru Sumut. Aspek figur ketokohan ini menjadi hal yang cukup signifikan di provinsi mana pun dalam pilkada kali ini. Tantangan ini tampaknya lebih terarah pada Bobby Nasution selaku calon gubernur mendatang.
Efek endorsement Jokowi dalam Pilkada Sumut yang memberikan pengaruh positif kepada Bobby pada pilkada kemarin perlu perlahan dikurangi dengan membangun citra dan kinerja nyata bagi masyarakat Sumut.
Misalnya, dalam perkara integritas karakter pemimpin. Secara historis, para tokoh yang menjabat sebagai gubernur Sumut sebagian besar terlibat dalam tindak pidana korupsi.
Faktor inilah yang secara hipotesis memengaruhi gairah pemilih untuk datang ke TPS saat hari pencoblosan karena apatis dengan sosok pemimpin daerah selama ini.
Lagi pula, inilah saatnya bagi Bobby-Surya untuk mewujudkan janji-janji politik yang diucapkan selama kampanye kemarin di hadapan masyarakat Sumut.
Jika pembuktian ini terwujud, tidak menutup kemungkinan Bobby-Surya akan lanjut untuk periode kedua pemerintahannya kelak. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Yohanes Meha HendartoEditor:
Yohan WahyuPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .